Pohon beringin roboh itu bukan hoax

Tergesa-gesa pagi itu aku menyalakan motorku. Terasa pagi itu benar-benar tidak beres. Bahkan kopi yang aku teguk seperti menyangkut di tenggorokan. Meskipun sempat tiga tegukan, tetap saja berasa tak beres, karena baru menyalakan rokok, istri sudah berteriak, “Bang, mau antar tidak, sih?”

Kepala seperti ditiban palu mendengar teriakannya. Makin berasa sakit ketika aku lihat istriku berteriak dari depan pagar.

Sedetik terlambat menghampirinya, harga diriku sebagai suami jempolan akan turun. Persis harga rupiah turun beberapa poin terhadap dolar.

Dan persis juga dengan rupiah, menaikkan harganya kembali amatlah susah. Begitulah harga diriku sebagai suami kalau sempat turun.

Beruntunglah aku, hanya dapat pelototan mata istriku. Harga diriku tak sempat turun, bahkan aku anggap naik.

“Sinar matamu benar-benar menghangatkan pagi!” kataku pada istriku setelah nyaman membonceng motor butut dan tunggalku.

“Sudah kalau mau ngomong, ya, ngomong saja. Penting tidak penting, aku dengar!”

“O, tidak. Aku hanya mau bicara mengenai matamu saja yang benar-benar kinclong tadi!” kataku tak disahut oleh istriku.

Seketika aku sadar. Benar katanya, ia mendengar apa saja yang aku bicarakan. Tetapi menyahut, atau merespon pembicaraanku adalah masalah yang berbeda.

Dan aku benar-benar seperti katak dalam tempurung yang tak tahu mesti bagaimana. Terlalu banyak kalimat yang harus aku ungkapkan dan butuh didengar, tetapi istriku benar-benar tak butuh ceritaku.

Ia hanya butuh diantarkan sampai ke kantor tempatnya bekerja. Tak terlalu jauh sebenarnya, tetapi benar-benar menjadi perjalanan yang cukup meresahkan.

Bagi suami yang rentan turun nilainya, aku harus maklum dan mengambil posisi menunggu waktu hingga sampai di kantornya. Aku malah mendapat ide lagi setelah selesai mengantar; mampir ke warung pangkalan angkotan, di dekat rumah pakde tetua.

“Langsung pulang! Istirahat dulu!” kata istriku tak berterima kasih, tak tahu sama sekali mengenai ideku mampir warung itu.

Bukan karena ia tak cinta kurasa, tapi karena memang kebutuhan lebih menuntut daripada rasa cinta. Setidaknya itu menurutku.

Dan benar juga kata istriku, dan juga bukan karena aku tak cinta lagi ketika aku berbelok ke arah warung pangkalan angkot. Aku tak memikirkan lagi harga rupiah, atau kata-kata istriku, tetapi aku mau mendengar pembicaraan yang aku lontarkan pada orang-orang di sana.

Hal  yang sama sebenarnya yang aku ingin bicarakan pada istriku. Tetapi rupanya aku malah menghadapi kesulitan darinya.

Sudah dari kemarin lusa, aku bercerita pada mereka bahwa pohon beringin di rumah pakde tetua roboh.

Tetapi mereka lebih percaya bahwa pohon beringin itu dipotong, sengaja dipotong dengan alasan umurnya yang sudah tua.

Dan juga dengan keselamatan rumah pakde tetua yang cukup dekat dengan pohon beringin. Tetapi lebih dri itu mereka mengatakan bahwa ceritaku adalah hoax. Mereka tidak percaya. Dan entah darimana asalnya, ceritaku itu berbalas dengan cerita bahwa sumber cerita itu susah dipercaya, karena sudah beberapa tahun berumah tangga tetapi tak juga memiliki anak, bahkan sebenarnya setengah pengangguran.

Itulah yang membuatku bekerja lebih keras. Karena cerita itu sudah aku tulis dan kirim ke sebuah surat kabar dua hari berturut-turut.

Pertama mengenai beringin yang roboh, dan kedua apakah arti di balik dari pohon beringin yang roboh itu.

Kedua tulisanku sudah masuk redaksi koran lokal, tetapi setelah itu menjadi sulit karena banyak orang berbicara sebaliknya. Dan otomatis tulisanku tak punya arti lagi, selain hanya sebuah tulisan oleh seorang suami yang kurang bahagia dengan rumah tangganya.

Padahal ceritaku sangat urut. Diawali dengan hujan yang tak berhenti dari sore hari, dan angin memang besar sekali sore harinya. Ketika hujan sudah reda, waktu memang sudah terlalu malam. Tetapi aku keluar malam dengan maksud mencari kopi di warung angkringan Suwondo.

Dari warung angkringan Suwondo, aku memutar jalan ke arah pulang, tak dinyana aku bisa mendapati beringin yang tiba-tiba roboh.

Bahkan aku sempat terkejut karena baru saja melewatinya. Sehingga aku harus berbalik dan menyaksikan beringin itu tergeletak dan menyisakan sebagian kecil dari pohonnya yang semula besar. Sayang sekali aku tak sempat memotretnya.

Aku segera berbalik kembali ke tempat Suwondo dan mengajaknya melihat. Namun karena hari sudah lewat tengah malam, ia tak mau.

Ditambah pula ia mulai bersiap-siap tutup. Hingga akhirnya aku mengambil teleponku supaya aku bisa mengambil photo. Dan aku merasa lega setelah mendapatkan photo itu. Setidaknya aku bisa menampilkan gambar itu di ceritaku.

Menjelang subuh baru aku selesai dengan beringin roboh itu, dan sempat beristirahat sebentar sebelum mengantarkan istriku.

Rupanya photo itu tak cukup. Beringin roboh adalah beringin roboh. Titik. Habis cerita. Cerita itu cukup untuk mengantar minum kopi bersama teman-teman di warung pangkalan angkot. Dan mereka memang membumbui dengan pendapat mereka sendiri.

Pohon itu sudah tua, dan demi keamanan memang sudah sepantasnya jika pohon itu roboh. Pak tetua juga beruntung rumahnya aman dari bahaya kerobohan.

Mekipun pendapat itu melenceng, karena pohon itu sedikit jauh dari rumah tetua. Bahkan ada yang mengatakan pak tetua memang sudah mempersiapkan untuk memotong pohon itu, dia sudah mencari orang yang biasa memotong pohon, katanya.

Tetapi kata orang, belum sempat bertemu. Dan banyak lagi cerita yang muncul. Ini yang aku tangkap di warung pangakalan: satu lidah, mempunyai satu cerita.

Dan ketika hari sore aku memphoto pohon itu sudah dibersihkan. Bersih, tinggal menyisakan bonggol batang cokelat tua sejengkal di atas tanah. Batang-batang, cabang-cabang, ranting-ranting dan daun-daunnya sudah bersih tak bersisa. Pohon yang besar juga sudah tak ada. Bahkan debu-debu pohon bekas gergaji saja sudah tak bersisa.

Aku tak menduga akan begitu cepat pembersihan pohon roboh itu. Tetapi hal itu malah membuatku bertanya-tanya bahwa pohon beringin itu roboh, memang iya roboh. Jika pohon beringin itu roboh karena hujan dan angin, itulah pendapat awalku.

Tetapi setelah melihat tetua membersihkan pohon itu sedemikian cepat, aku berpendapat lain. Pohon beringin itu roboh karena dengan cara itu alam mengatakan pada pakde tetua; sudah cukup dalam berkuasa di kelurahan. Meskipun memang bukan dia yang berkuasa lagi, tetapi anak-anaknya lah yang memenangkan pilihan, berulang-ulang.

Ya, setahun lagi akan diadakan pemilihan lurah.

Dengan cerita bahwa pohon itu roboh, istriku tak tertarik sama sekali. Apalagi ditambah dengan cerita yang berhubungan dengan pakde tetua. Terlebih lagi, aku selalu pulang pagi demi mengejarnya.

Baginya pohon beringin itu roboh atau tidak roboh, tidak penting, bahkan tidak untuk sekedar menjadi obrolan minum kopi, atau sekedar mengiringi menonton sinetron kegemarannya. Ia tak peduli.

Ia lebih suka dengan suami yang pagi hari siap dengan baju rapi dan bau wangi mengantarnya ke kantor. Tetapi naluriku ingin menyelesaikan cerita pohon yang roboh seketika setelah hujan dan angin malam itu.

Teman-teman di warung pangkalan kaget ketika membaca ceritaku ada di koran lokal. Mereka mulai berpikir aku memanfaatkan kejadian itu untuk kepentinganku semata. Mereka tak peduli dengan kebenaran dari ceritaku. Mereka tak ingin akan ada keramaian sebelum waktunya seperti di tempat lain. Kalau memang informasiku benar, mereka minta aku melihat situasi dan kondisinya.

Entah mengapa aku merasa aku tak menyalahi aturan. Aku tak menyalahi situasi dan kondisi di desaku. Dan aku juga tidak membuat permusuhan dengan pakde tetua. Tak ada yang perlu aku musuhi dari orang tua itu, juga dengan anak-anaknya.

Lalu mengapa aku harus memotret pohon beringin roboh itu? Aku berpikir, karena itu semata-mata terjadi; memang ada pohon roboh, memang pohon itu di rumah pakde tetua, dan memang tahun depan akan ada pilihan lurah.

Aku tak mengira bahwa ceritaku yang sangat obyektif malah berbalik menjadi bahan serangan balik buat aku sendiri. Entah dari mana sumbernya, cerita mengenai pohon roboh itu selalu dibumbui oleh saksi-saksi mata yang membelokkan cerita bahwa orang yang menulis di awalnya adalah seorang yang kurang layak dipercaya. Bahkan aku dikatakan sebagai orang yang kurang bahagia hanya karena aku belum punya anak. Memang benar aku belum punya anak. Tetapi aku bahagia, meskipun sering pulang pagi.

Istriku menjadi semakin diam karena dia juga membaca. Kalau toh, dia tidak membaca, pasti teman-teman sekantornya menyodorkan isu ini di depan wajahnya. Dia pasti juga tidak mau membaca. Aku yakin. Tetapi berita mengenai pohon roboh itu sudah cukup bisa dimengerti dari judulnya saja. Ya, paling mungkin istriku cukup membaca judul itu saja karena sudah terlihat jelas. Berita penjelasnya sepertinya sudah sangat terwakili oleh judul berita; pohon roboh, berita plintiran oleh orang yang tak jelas; beringin roboh tersebar istri malah terlantar. Pergunjingan malah menyusul pohon beringin yang tiba-tiba roboh itu. Karena itu istriku semakin menjadi pendiam.

Entah dari mana asalnya, orang-orang di warung pangkalan dengan baik hati mengingatkan, sudah tidak perlu melanjutkan berita itu. Kalau toh memang benar, tetapi apa guna keluargaku diotak-atik, dengan demikian kasihan istri yang tidak tahu apa-apa. Tidak ada untungnya menyebarkan berita yang membuat panas orang. Apalagi orang yang punya kekuasaan. Cari lagi tema lain; misalnya sudah menjelang panen, apa benar harga gabah turun seperti di berita-berita itu. Masih banyak cerita, berita yang bisa dimasukkan ke koran lokal. Kata-kata mereka seperti palu yang memukul-mukul santai di dada.

Entah bagaimana, aku berpikir mereka semua benar. Tetapi aku juga merasa benar. Aku yakin istriku juga merasa benar.

Akhirnya, aku jadi berpikir untuk mengakhiri cerita itu. Pohon beringin roboh, pakde tetua dan anak turunnya yang senantiasa berkuasa, akan aku akhiri. Mau tidak mau. Setiap hari berkasak-kusuk demi kebenaran pun ternyata melelahkan. Dan kadang terlintas di pikiranku kebenaran sudah kabur, tak jelas, karena semua orang merasa benar.

Semua sumber benar, semua penyanggah benar. Aneh mereka saling bertentangan, tetapi kenapa semua tampak sama-sama benar? Bahkan aku sendiri yang sudah terbiasa dengan pertentangan berita, tetap akhirnya bingung-bingung juga. Kebenaran menjadi kebingungan, bagaimana mungkin?

Pulang dari warung pangkalan aku memilih untuk tidur saja, mengikuti kata-kata istriku. Rasanya tak enak juga jika tiap hari minum kopi tetapi menyangkut di leher, juga tidak enak melihat matahari pagi digantikan oleh tatapan mata istri.

Sembari menyalakan teve melihat semacam sinetron kegemaran istri, aku melelapkan diri, menyiapkan diri andai bertemu kebenaran meskipun hanya di dalam mimpi.

Menjelang sore setelah tebangun, aku menyusul istri di kantornya, menjemput. Kembangan senyumanku tak ada arti buat istriku, persis berita beringin roboh baginya. Bahkan ketika aku tawarkan untuk makan bakso di perempatan dekat alun-alun, dia memilih pulang cepat. Jangan-jangan bakso perempatan itu juga tak benar adanya, pikiranku melantur, melancong seenak sendiri.

Setelah itu aku sengaja merehatkan diri. Mungkin malah bersembunyi. Mungkin bermain petak umpet dengan kebenaran itu. Jika hari-hari kemarin kebenaran memperlihatkan diri kepada semua orang dalam bentuk yang semau-maunya, hari ini, jika ia mau, ia bisa mencariku dan menampakkan diri. Meskipun bersembunyi, rasanya aku terlalu mudah untuk ditemui.

Bahkan aku tak peduli, dengan pohon beringin muda yang sudah tumbuh di tempat pohon roboh kemarin. Aku hanya melihatnya saja sekelebat, tak hendak mencari terusan atau lanjutan si pohon muda itu. Tetapi tetap saja aku melihat pohon itu tampak segar, dan terlihat hijau benar daun-daunnya tanda terawat. Jadi benarlah kata orang, memang pakde tetua sudah mau memotong pohon roboh itu, karena ia sudah punya beringin muda yang ditanam baru tetapi sudah tampak besar. Aku bingung, dari mana pakde tetua mencabut beringin sebesar itu dan dipindahkan di pekarangannya.

Namun sekelebatan, pikiranku seperti segar kembali setelah melancong sebentar ke alam mimpi diantar sinetron kegemaran istri. Untuk apa aku mengabarkan pohon roboh itu? Karena aku tak ada benci sama sekali, malah aku menjadi yang dibenci. Lalu kenapa aku menulis lanjutan bahwa pohon roboh adalah bahasa alam yang mengingatkan pak tetua yang sudah bertahun-tahun berkuasa? Aku baru sadar ternyata itu semata-mata karena aku juga mencintai pakde tetua. Mungkin benar jika aku juga tak enak melihat dia selalu berkuasa. Tetapi dia juga tidak semena-mena, tidak kelewatan. Aku mencintai kampungku, tempat padi menguning di sisi kali. Tempat para petani gelisah menjelang hari menuai panenan padi, karena biasanya harga dipegang oleh tengkulak seenak sendiri. Toh, semuanya tetap hidup dan padi tetap akan menguning meskipun kata tivi harga pupuk melambung tinggi.

Terakhir kali, mengenai beringin roboh itu aku tuliskan untuk terakhir kali.

Hendaknya beringin roboh menjadi pengingat kepada semua orang di kampungku; hari akan berganti, tetapi hendaknya rasa cinta mesti tetap dipelihara, seperti alam yang sudah terlebih dulu memberi tanda. Jangan nanti kita merasa kehilangan yang lama, dan tidak siap menerima menikmati pohon yang baru.

Tak lama berselang, beberapa hari setelah kegiatanku hanya antar jemput saja, istriku berbicara padaku, “Bang, kemarin, temanku menawarkan pekerjaan di kantor suaminya. Mau tidak Abang bekerja lagi di kantor?” setelah beberapa hari minum kopi dengan nikmat sekali, bahkan tuntas sampai tandas ke ampas yang hitam di dasar gelas.

Begitu nikmat juga sebatang rokok yang cukup sebatang saja, dan tak perlu mendengar istriku berteriak, “Bang, mau antar tidak, sih?”

Aku tertawa mendengar istriku bicara, sembari membalasnya “Ya, mau to!”

“Benar?” kata istriku ragu sekali mendengar aku tertawa.

“Iya!” kataku sekali lagi sambil berpikir mungkin istriku mau kuajak mampir di bakso perempatan itu sore nanti.

Tiba-tiba pikiranku seperti mengatakan, “Pencari kebenaran mungkin tak menang, tetapi ia setidak-tidaknya selamat.”

Tetapi aku ragu pada pikiranku sendiri, mungkinkah ia juga hoaks?

Iklan

Kurir Cinta sedang di Kota

2.   Rika dan Paskalis I

Pria Berwajah Manis itu masih berjalan menyusuri trotoar, pagi hari, tak tampak lelah. Malah raut mukanya terlihat semakin segar di sisi jalan yang mulai ramai oleh lalu lintas kendaraan. Ia menyapa orang-orang yang ia temui di perjalanannya. Entah dengan; selamat pagi, hai, mau kemana, dan kata-kata sederhana lain ia ucapkan untuk membuka percakapan, dan mengakrabi orang-orang. Ia berdiri tegap, sekaligus terlihat santai, memandang yang diajak berbicara. Ia tampak serius dengan pembicaraannya. Pembicaraan yang tampaknya sangat berarti baginya. Wajahnya menegang mengendur memperlihatkan kesungguhan, kecermatan, baik ketika berbicara maupun saat mendengarkan.

Ya, begitulah ia, pria yang berwajah manis itu. Tampak ia bisa akrab dengan semua orang. Bagaimana bisa? Apakah ia kenal, mengenal semua orang? Apakah kenal, mengenal, cukup untuk membuat orang bisa seakrab itu?

Namun bukan hanya orang-orang yang disapanya. Entah mengapa, ia melakukan hal yang sama saat bertemu atau melihat kupu-kupu, burung-burung, pohon-pohon, bahkan juga rumput-rumput yang tumbuh di taman di sisi jalan. Tetapi, bagaimanakah bahasa rumput, kupu-kupu, burung, atau pohon-pohon?  Ia memandang cermat, dan wajahnya menegang mengendur ketika ia berdiri di dekat pohon, burung. Dan kadang bahkan ia membungkukkan badan ketika menemukan kupu-kupu yang hinggap di perdu yang tumbuh rapi di taman yang segar oleh hujan semalam. Memang tidak kepada semua, tetapi ia sering melakukannya. Ya, gaya seperti itu bukan gaya orang yang sedang meluangkan waktu sembari menunggu taksi atau menunggu seseorang. Tetapi itu gaya orang yang sedang berbicara dengan rekan bicaranya, meskipun kadang tak terlihat berbicara sama sekali.

Ia membawa tas punggung yang tampak berat. Tas itu menjadi beban di punggung dan menarik tali yang mengait di kedua pundak, sama sekali tak berguncangan oleh gerakan jalan kakinya.

Hari memang masih pagi, sangat baik untuk berjalan kaki; udara yang segar oleh siraman air hujan dan terang yang cukup oleh sinar matahari yang belum tinggi, belum terasa panas.

Dia berbelok ke arah perumahan, berpapasan dengan orang-orang yang berangkat bekerja pagi-pagi dan menyapa mereka seakan saling kenal, betul-betul saling kenal, akrab, dan menyegarkan. Ataukah, memang itulah kepandaiannya? Menyegarkan orang? Termasuk berbicara dengan pohon, dengan kupu-kupu? Apa bahasa yang dipakainya?

Ah, hal itu mungkin tidaklah penting, karena tiba-tiba ia berhenti di depan sebuah rumah. Kemudian ia melongok ke arah rumah itu, karena pintu pagar depan dan juga pintu utama yang masih tertutup rapat. Ia menyelidik, mencari, mungkin ada orang yang bisa ditemuinya. Kemudian ia malah melihat lampu di teras depan rumah yang masih menyala. Lampu itu sebentar ia pandangi, seperti ada yang aneh di lampu itu. Kemudian dilambaikanlah tangannya ke arah lampu itu. Dan, ajaib, lampu itu sekejap kemudian mati. Ajaib!

Siapakah dia?

Ia terlihat mencari-cari sesuatu di sekeliling pintu pagar itu, di sebelah kiri. Dan kemudian ia menemukan yang dicarinya. Ia mengamati benda itu dan hampir memencetnya, sebelum tiba-tiba menghentikan gerakannya dan menarik tangannya kembali. Ia batal memencet bel. Ia melirik jam tangannya, dan kemudian melangkah pergi. Baru beberapa langkah, tangan kanannya merogoh saku dan mengeluarkan telepon genggam. Kemudian ia mendekatkannya ke telinga kanannya.

Seketika itu juga dari rumah itu terdengar bunyi telepon, beberapa kali. Tampaknya penghuni rumah masih sibuk hingga sampai lama telepon berdering. Pria Berwajah Manis itu masih menahan telepon dekat dengan telinganya. Wajahnya seperti bertanya, “Kok, tidak diangkat?”

Ia terlihat lega ketika telepon itu akhirnya diangkat juga.

“Halo,” jawab seorang wanita muda, yang tampaknya sedang bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Wanita itu duduk di kursi di dekat meja telepon sambil memakai sepatunya yang berhak sedang, tampak cantik dengan blazer cerah dan bawahan yang sewarna. Tampak ia telah siap berangkat bekerja.

“Halo,” sapa seorang wanita dari ujung telepon.

“Selamat pagi,” wanita di ujung telepon melanjutkan pembicaraan, “bisa berbicara dengan Rika?”

“Oh, sebentar ya. Ini dari siapa?” jawab wanita itu.

“Ini, Ibunya.”

“Oh, Tante. Ini Sinta, Tante, sebentar ya, Tante. Saya panggilkan.”

Sinta kemudian berteriak sambil menutupi gagang telepon dengan tangannya, “Rika, telepon dari Ibu tersayang!”

“Lho, memang semua belum berangkat? Kok, tidak seperti biasa? Jam tujuh sudah lewat, kok, belum berangkat?”  tanya wanita, ibu Rika, yang disapa tante.

“Belum Tante. Agak lambat, tapi masih belum terlambat, kok, Tante.

“Rika, baru mandi Tante. Lima menit lagi telepon lagi, ya, Tante,” kata Sinta.

“Ya, terima kasih, ya, Sinta,” kata ibu Rika.

“Sama-sama, Tante,” Sinta ramah, sambil meletakkan telepon.

Pria Berwajah Manis itu memasukkan teleponnya ke dalam saku sambil terus berjalan. Kemudian ia mendongak, melihat langit. Ia mengangkat tangan seperti bermaksud menutupi matanya dari silau sinar matahari. Tetapi tampak ia sedang mengamati sesuatu, mungkin awan yang menggantung di langit, karena saat itu cahaya matahari belum terlalu terang, belum menyilaukan.

Ia menghentikan taksi dan pergi dengan taksi itu.

Sementara suasana rumah tempat Sinta kembali sepi dari suara-suara telepon tadi. Kini keramaian diganti oleh suara televisi yang sedang memberitakan bencana alam yang terjadi jauh di sana.

Rumah itu rumah sewa untuk para karyawan wanita. Sinta, Rika, Kemala, Nourma, dan Karin, merantau dari jauh untuk bekerja, tanpa rumah sendiri dan belum bersuami meskipun sebenarnya waktu bagi mereka sudah cukup untuk memulai berkeluarga.

Dering telepon kembali berbunyi dan Rika segera mengejarnya.

“Halo,” sapa Rika.

“Halo,” balas wanita yang tadi menelepon.

“Ibu, kan semalam sudah menelepon?” tanya Rika.

“Iya, ibu juga tidak lupa. Ibu hanya mau bertanya, kamu sudah bersiap-siap atau belum? Pesawat jam sembilan, jangan-jangan malah bangun kesiangan, mentang-mentang pesawat liburan,” ibu Rika menyergahnya. Mendapatkan kata-kata seperti itu, Rika tidak tampak memusingkannya.

“Lha, ini sudah siap, tinggal pakai bedak. Pesawat jam sembilan, dari sini naik taksi, berangkat bareng Sinta dan Nourma,” jawab Rika ringan saja tetapi merasa mampu betul-betul menjawab pertanyaan ibunya.

“Nah, sarapan?” ibunya mendapat kesempatan untuk mengingatkan.

“Betul, kan, kataku semalam? Ternyata Ibuku, berbakat jadi wartawan. Ibu, kita di sini sedang berlomba, bagaimana caranya agar tidak kegemukan, jadi tidak sarapan. Sinta seperti itu juga. Nourma juga. Makanan untuk pagi sudah ada, mereka malah membawanya sebagai bekal untuk makan siang. Sudah ya, ini mereka sudah rapi semua. Nanti mereka marah, karena aku buat terlambat.”

“Bohong, Tante, belum terlambat, kok,” Sinta tiba-tiba menyahut, menimpali, dengan suara yang diperkeras, sembari duduk di kursi ruang tamu.

“Nah, itu suara Sinta. Belum terlambat kok, Ibu jangan khawatir, ya. Oke, Ibu, sudah dulu, ya. Thank you,”  suara Rika menutup pembicaraan.

“Jangan lupa, ya, oleh-olehnya kera yang dari Sangeh,” Sinta seakan-akan meneruskan, mungkin pembicaraan tadi malam atau entah kapan, antar mereka saja.

“Iya. Aku carikan yang bernama Argo, khusus buat kamu,” jawab Sinta dengan ketus sambil melirik Sinta sambil tersenyum. Tetapi teman-teman yang menunggunya terlihat maklum saja.

Terdengar dari luar rumah, klakson berbunyi satu kali.

“Rik, pacarmu sudah sampai. Cepat sedikit!” teriak Sinta sambil mengangkat tas Rika.

“Lho, setelah Alex, Miki dan Gerry, kapan Rika dapat pacar lagi?” Nourma ikut menimpali sewaktu keluar dari ruang dalam, tampak serius menyebut nama Alex, Miki dan Gerry.

“Nourma, pertanyaanmu salah! Bukan aku yang dapat pacar lagi, kok, kamu bertanya kapan. Yang benar, kapan Sinta sudah memutus hubungan dengan Bapak taksi dengan seenaknya sendiri, demi itu, Argo yang akan aku bawa dari Bali?” balas Rika dengan wajah serius, tak bercanda sama sekali, sambil menarik tas perjalanannya. Mendengar kata-kata Rika yang kembali mengulas tentang Argo, Nourma rupanya cukup mendapat alasan untuk tertawa kecil. Sedang Sinta berusaha untuk tak terbeban sama sekali.

Tampaknya mereka sedang bercanda pagi itu. Terang saja, tidak mungkin Rika membawa oleh-oleh dari Bali yang diminta Sinta berupa kera dari Sangeh. Juga tidak mungkin pula bagi Sinta untuk mendapati Argo, nama pria idamannya berwujud kera.

Tetapi mungkin bahasa yang mereka pakai sudah saling dimengerti sebagai teman yang terlalu lama. Mereka pun saling kenal dengan sebagian keluarga masing-masing, meskipun hanya melalui pembicaraan telepon. Canda mereka bukan canda yang penuh tawa, tetapi mungkin seperti canda dalam pantun. Canda yang cukup lucu dan cukup memadai untuk ditertawakan. Tetapi untuk bercanda seperti itu, mereka harus berpikir merangkai kata-kata yang sopan dan saling berkaitan. Dan kata sopan itu bagi mereka bisa berarti sopan harafiah dengan kata maaf yang diikuti kata-kata yang mengejek kasar. Mereka memilih kata-kata, agar ketika mereka saling berbicara benar-benar membutuhkan proses saling memahami satu dengan yang lain.

“Aku sebenarnya curiga. Jangan-jangan Rika ke Bali hanya untuk melihat awan yang katanya membuatnya silau itu. Iya, Ka? Atau, jangan-jangan, malah berusaha melupakan Gerry,” selidik Nourma sambil menenteng tas, serius, ketika mereka saling berlomba keluar rumah.

“Hii, seram!” sambung si Sinta mengomentari seenak sendiri.

“Sebegitu mahal, pentingkah awan itu, Ka? Dan Gerry?” Nourma menyelidik lebih mendalam dan melanjutkan lagi, “Tetapi, jangan jawab pertanyaanku dengan, ‘Nourma, pertanyaanmu salah,’ lho!”

“Oke, nanti aku ceritakan lagi, ya. Tentang Gerry, tidak perlu dibicarakan lagi, meskipun sebegitu penting.” Dengan lincah Rika menjawab tak kalah seenak sendiri.

“Waduh! Sebetulnya tentang awan itu, aku sudah lupa, berapa kali kamu sudah melihat dan sudah ceritakan, lho. Dan karena kamu pergi, berarti aku kehilangan juru masak, lho, Ka. Itu paling penting,” Nourma mengingatkan, sambil membuka pintu taksi.

Mereka pun berangkat bersama, Nourma dan Sinta menumpang sampai di tempat kerja yang tak terlalu jauh sedang Rika meneruskan perjalanan ke bandara.

Taksi itu terus menyusuri jalan-jalan kota yang mulai sibuk dan ramai. Taksi berhenti dan antre menunggu lampu hijau di perempatan jalan, sementara Rika asyik membaca buku, entah buku apa. Ia mengintip jam tangannya, sembari melihat antrian mobil dan motor yang mulai ramai berbaris rapi sebelum lampu hijau menyala.

Beberapa pejalan kaki dengan pakaian rapi tampak bersemangat menyusuri trotoar di sisi kiri dan kanan. Pohon peneduh di taman yang memisahkan dengan jalan yang tampak hijau oleh siraman air hujan yang mulai sering turun, membuat banyak pejalan kaki tampak nyaman. Dan perdu-perdu di taman di sisi trotoar makin membuat mereka menikmati perjalanannya.

Tetapi suasana kota yang tampak menyenangkan, sepertinya tidak tercermin di wajah Rika yang entah, sering melirik jam tangannya, sembari membaca buku.

“Kok, tidak seperti biasa, ya, Pak?” tanyanya pada bapak sopir.

“Betul, Non!”

“Terus, kok, sekarang macet?”

“Karena seperti biasa bukan berarti selalu, Non. Dan kemungkinan, kecelakaan di depan sana setelah perempatan ini, pasti tidak seperti biasa, pasti tidak selalu,” jawab bapak sopir, serius.

“Terus?” sambil terus membaca, Rika tampak sedikit terkejut dengan jawaban bapak sopir. Ia menunggu maksud bapak sopir yang ia katakan sebagai pacar Sinta yang sudah diputus secara sepihak.

“Terus, seandainya saya berputar jalan yang agak jauh, mencari jalan yang tidak macet, apakah Nona tidak keberatan?” bapak sopir menawarkan karena melihat Rika sering melirik jam tangan.

“Sebaiknya, bagaimana?”

“Sebaiknya, saya ikut jawaban, Non, saja.” Terlihat santai tetapi tampak ia mengamati kiri kanan bermaksud memutar taksinya.

“Pesawat berangkat masih lama, sih.”

“Oke, kalau begitu kita tempuh jalan yang ini saja, ya. Macet yang tidak seperti biasa ini paling hanya sedikit.”

Sejenak mereka diam ketika lampu hijau menyala.

“Bagaimana kalau sebaiknya saya yang ikut kata-kata Bapak tadi?” Rika tiba-tiba berbicara.

“Jadi kita berputar?” bapak sopir taksi bertanya minta penegasan.

“Saya ikut Bapak saja,” kata Rika.

“Itu yang saya tunggu-tunggu,” sahut bapak sopir taksi sambil lebih mencermati kaca spion sebelah kanan, dan cepat memutar balik taksinya.

Setelah beberapa kali terlihat berbelok, taksi itu mulai berjalan tenang, dan Rika tak lagi sering melirik jam.

“Beruntung, di sini masih seperti biasa. Dan seperti biasa meski bukan berarti selalu, adalah seperti biasa, tidak macet,” kata si bapak kembali ke pembicaraan awal. Rika tak tertarik menanggapi. Ia hanya tersenyum saja, seakan-akan teringat kejadian lain dengan percakapan yang serupa.

Setelah kira-kira hampir satu jam, Rika sampai di bandara. Suasana lumayan ramai. Wajahnya terlihat lebih menegaskan bahwa ada kekhawatiran yang lebih besar daripada harapan. Ia berjalan menuju meja konter.

“Selamat pagi,” sapa petugas dengan ramah.

“Selamat pagi,” Rika membalas tak kalah ramah.

“Tiketnya?”

Rika menyerahkan tiket untuk penerbangan setengah jam lagi.

“Nona, yang di sisi jendela?” tanyanya pada petugas.

Petugas menanggapi pertanyaan Rika dengan segera melihat layar komputernya. Tanpa melihat Rika, petugas itu berkata, “O, Non, maaf, sepertinya,” sambil terus mengamati komputer di hadapannya, “sudah penuh, lho!

“Bagaimana, Nona Rika, bisa dibantu?” tanya petugas setelah membaca nama di tiket itu, mencermati wajah Rika. Petugas itu terlihat menyesal tak bisa menyenangkan Rika.

“Benar-benar sudah penuh, Miss Ane?” Rika menegaskan dan balas menyapa setelah membaca nama dada di seragam petugas.

Ane menjelaskan bahwa tidak seperti biasa kursi di dekat jendela bisa tak bersisa, habis. Dan ia benar-benar tak bisa membantu.

“Bagaimana, Nona Rika?” serius Ane bertanya, seakan-akan mencari cara membantu Rika.

Rika yang ditanya hanya diam saja. Sejenak, wajahnya memperlihatkan kekhawatirannya yang benar-benar terjadi, berkebalikan dengan keinginannya. Tetapi keadaan itu hanya sebentar saja.

“Ya, sudah, apa boleh buat, terima kasih,” kata Rika pada petugas.

“Tempat duduk yang dipilih?” tanya Ane meminta ketegasan.

“Tolong pilihkan saja, ya,” jawab Rika sekedarnya, tampak telah kehilangan harapan. Rika seakan sedang mengerahkan pikirannya untuk memikirkan bagaimana menghadapi kejadian yang tak sesuai harapannya itu.

“Oke, Miss Rika. Don’t worry, I’ll do my best, as usual. Seperti biasa,” Ane tersenyum.

Rika berjalan tak bersemangat meninggalkan meja tempat Ane, meskipun Ane ketika menyerahkan tiket mengucapkan, ”Nice flight, nice day, Miss Rika.” Dan Rika juga mengucapkan kata terima kasih. Memang begitulah Rika, tak pernah bersemangat, dalam arti energinya pas-pasan, tak pernah berlebih. Atau mungkin, energinya selalu habis terpakai, adalah kalimat yang paling tepat. Ada kenyataan, teman-teman di rumah kos selalu bisa mengandalkannya untuk memasak. Memang, ketika bertemu orang-orang di sekitarnya, ia selalu seperti biasa terlihat gembira, menyenangkan dan membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman. Mungkin benar kata bapak sopir taksi tadi, seperti biasa bukan berarti selalu.

Dan memang, tetaplah ia seorang Rika yang selalu memperlihatkan ada sesuatu yang kurang di kebahagiaannya. Sesuatu itu membebani pikirannya: ia sedang menunggu waktu, atau mencari, menemukan pacar baru pengganti Gerry. Beberapa kali ia sudah menjalin hubungan, tapi tak berhasil mengakhiri hubungan itu dengan kata-kata yang membuat semua orang berbahagia. “Ah, Rika yang malang!”

Sebenarnya, lebih tepat jika, “Ah, Rika yang malang?” Kemalangan yang terlihat atau yang ia rasakan, yang sebenarnya hanya ia yang benar-benar tahu, hanya ia yang benar-benar bisa merasakan. Jadi, sebenarnya, orang lain tak akan pernah tahu. Jadi, “Ah, Rika yang malang?” dengan tanda tanya di belakang, benar-benar lebih tepat.

Pesawat meninggi membawanya menuju pulau itu. Dia akan berwisata beberapa hari di Bali. Terlihat Rika sedang berharap untuk melupakan semua masalah lamanya dan menjadi Rika yang baru. Ia tak ingin terlihat terluka baik bagi dirinya maupun bagi orang lain di sekitarnya. Dan ia sedang duduk di kursi yang tidak ia harapkan adalah kenyataan. Benar-benar kesialan, kah? Mungkin, mungkin saja tidak, siapa tahu?

Dari tempat duduknya ia melongok ke arah jendela. Pertama-tama ia melirik saja. Tak lama kemudian ia melirik sekali lagi, dan seterusnya, semakin sering. Kemudian ia makin terlihat bingung. Ia ingin melihat awan-awan di luar pesawat itu, mencari-cari sesuatu di luar sana. Ada apakah gerangan? Terus-terusan, entah mengapa, ia menoleh ke sisi kirinya, ke arah jendela. Ke arah jendela saja! Tak peduli di sisi kirinya seorang laki-laki yang sepadan umur dengannya sedang tak enak dengan tingkahnya. Setiap Rika menoleh ke arah jendela, laki-laki itu segera mengikuti melihat ke arah jendela, dan segera melirik ke arah Rika, mencari tahu apakah Rika masih menoleh ke arah jendela atau tidak. Begitulah mereka. Tetapi semua itu mereka lakukan dengan segan, tak ingin saling ganggu.

Dari detik ke detik, penerbangan mungkin terasa semakin cepat bagi Rika. Ia makin sering menoleh ke kiri, makin sering, dan makin melongok, hingga terlihat sedang mencari, bukan hanya melihat. Hingga, “Nama saya Paskalis. Mau bertukar tempat?” pemuda itu memperkenalkan diri.

“Ehm, enggak,” kata Rika halus. Mungkin jawaban itulah yang terlintas saja di benaknya. Tetapi, tampaknya wajah Rika mengatakan yang sebaliknya. Sehingga, Paskalis bertanya, “Sungguh? Tampaknya Anda akan kehilangan yang Anda cari? Mengapa tidak bertukar tempat saja?”

Akhirnya Rika menurut.

Semenjak saat itu pandangan Rika tak lepas dari jendela di sampingnya. Bahkan makin menjadi-jadi. Ia seakan-akan benar-benar sedang mencari. Ia sebentar melongok ke bagian depan jendela, sebentar kemudian menoleh ke bagian belakang. Seakan-akan yang dicarinya telah terlewati tanpa terlihat olehnya. Yang tidak ia sadari, Paskalis mengamati gerak-geriknya. Dalam hati, mungkin Paskalis heran, “Apa yang ia cari?”

Hingga Paskalis melihat Rika memayungi matanya yang sepertinya silau dengan telapak tangannya, dan tersenyum. Senyum yang sederhana. Senyum yang seakan-akan sudah dinantikan oleh seseorang di awan itu. Seseorang?

Seseorang, atau mungkin juga sesuatu, tetapi yang terlihat hanya awan. Awan yang putih menggantung dan semuanya putih menggantung, tak ada yang istimewa. Tetap tak ada yang istimewa dari awan yang dari tadi terlihat sama saja, bahkan meskipun sudah dicari-cari sedari tadi pula.

“Maaf, Nona, boleh bertukar tempat?” kata Paskalis memancing pembicaraan. Ia berharap bisa saling berbicara daripada bertukar tempat sekali lagi.

“O, silakan,” jawab Rika merasa amat sangat tak keberatan. Paskalis menjadi bingung sendiri dengan tingkah orang seperti yang ditemui di diri Rika. Mereka pun bertukar tempat sekali lagi.

Rika tampak sangat tenang, lega. “Aku telah melihatnya!” Mungkin begitulah kata hati Rika karena saat itu yang terlihat di mimik wajahnya adalah kelegaan. Tak ada lagi wajah yang menggantung seperti ketika ia melirik jam tangan saat berada di taksi, bertanya pada petugas tiket di bandara, dan apalagi, waktu diajak bertukar tempat yang pertama oleh Paskalis. Wajah Rika saat itu benar-benar menggantung. Mungkin sebenarnya ia masih gelisah oleh seseorang yang bernama Gerry.

Tetapi setelah Rika tenang dan nyaman, ia mulai merasa ada hal aneh. Rika yang berpikir sendiri dan menikmati kegembiraannya sendirian, mulai terganggu dengan tingkah Paskalis.

Paskalis melongok tak lepas dari jendela pesawat, dan menoleh ke belakang, ke depan, ke belakang, ke depan, melongok dan menarik kepalanya, meskipun tak seatraktif Rika. Benar-benar penjiplakan perilaku. Tetapi, Paskalis mungkin tak merasa menjiplak. Ia menambahi gerakannya dengan melirik dan melihat Rika. Ia merasa aneh, heran. Ia tak melihat, tak menemukan apapun yang membuatnya menarik telapak tangan ke atas pelipis matanya sambil tersenyum.

Setelah beberapa kali menoleh dan melongok dan tak merasa menemukan apa-apa, akhirnya ia bertanya, “Nona, sedang liburan, tugas?”

Mereka mulai bercakap-cakap. Dan Rika tampak kembali seperti Rika yang sebenarnya; ada awan yang menggantung di wajahnya, tetapi selalu siap untuk membagikan kegembiraan yang masih ia miliki. Artinya, Rika memang selalu bisa membuat orang senang dengan gaya bicaranya. Mereka pun berbicara dengan keramahtamahan yang sebenar-benarnya seperti pertemuan orang-orang yang tak saling kenal, yaitu ramah tamah ala kadarnya.

Paskalis sedang menjalankan tugas kantor untuk menyurvei sebuah tempat untuk dijadikan tempat perusahaannya membuka cabang di Bali. Ia akan berada di Bali paling lama dua hari, dan selanjutnya kembali lagi ke kotanya. Sebaliknya, Rika sedang liburan, liburan saja, memang sedang ingin liburan saja. Ia tak menjelaskan mengapa perlu liburan; Bali tempat yang indah, menengok teman, atau mengambil cuti Kamis Jumat yang berarti ia bisa saja empat hari di Bali. Ya, begitulah, pembicaraan ala kadarnya.

Tetapi pembicaraan itu terus berlanjut. Hingga Paskalis, menerima penjelasan bahwa Rika memang punya kesenangan tersendiri, yaitu melihat awan ketika sedang berada di pesawat. Sering dalam perjalanannya ke mana saja, ada hal aneh, yaitu ada awan yang bersinar lebih terang daripada awan-awan yang lain. Semua awan sama, dan memang sama. Dan ia merasa tak terkejut ketika ia melihat awan itu untuk pertama kali dilihatnya. Hingga satu waktu dalam satu penerbangan, ia baru menyadari, telah beberapa kali melihat awan yang bersinar lebih terang. Hanya satu awan, jadi mesti dicari. Sejak itu ia merasa harus duduk di sisi dekat jendela, baik kiri maupun kanan, tak ada bedanya, tak bisa dijelaskan secara logis. Rupanya awan itulah yang beberapa kali diceritakan Rika pada teman-temannya.

“Itukah yang membuat, Nona, melongok-longok tadi?”

“Iya, maaf,” kata Rika sambil tertawa kecil terbawa oleh semangatnya ketika menceritakan pengalaman itu.

Paskalis lebih senang mencari tahu bagaimana Rika bisa mendapatkan pengalaman itu. Ia tak bertanya bagaimana itu bisa dijelaskan dan diterima logika manusia secara umum. Ia tampak senang dengan gaya dan rona muka Rika yang menceritakannya bukan lagi dengan ala kadarnya, tetapi dengan sungguh-sungguh hingga kadang ia terlihat kaget dan heran, seolah mengatakan, “Masa sampai seperti itu?” meskipun hanya di dalam hati. Yang diucapkannya tentu saja, “Kelihatannya, enak, ya, bisa punya pengalaman, yang unik yang tak dirasakan, atau ditemui orang lain.”

“Ya, mungkin seperti itu. Kamu coba saja buat sesuatu hal yang sering kamu temui. Ternyata banyak hal, yang kecil, yang ternyata bisa menjadi pengalaman unik.”

“Baiklah. Mungkin mulai sekarang, saya harus mencobanya. Nama saya Paskalis,” kata Paskalis tak sengaja sama sekali mengulang perkenalan mereka di awal tadi.

“Rika,” jawab Rika ringan, mungkin seringan awan. Tak merasa peduli bahwa sebenarnya ia telah mendengar nama Paskalis, dua kali.

Dan waktu pun berlalu, seperti biasa, ala kadarnya, seperti pembicaraan lanjutan Paskalis dan Rika.

 

Kurir Cinta sedang di Kota

1.  CATATAN PRIA BERWAJAH MANIS I

Kata beberapa rekanku, aku akan mendapatkan banyak hal baru di kota ini. “Kota yang menarik. Kota yang tidak seperti biasa.” Mereka, para rekanku yang pernah berada di kota ini, memberi salam kepadaku setiap bertemu dan menggambarkan kota ini. Kota yang menurutku, berwarna cerah, terasa ringan, tetapi berani. Dari alun-alun yang mempertemukan jalan-jalan ke empat arah di kota ini, bisa terlihat bangunan-bangunan dengan warna-warna mudanya, seperti ingin menawarkan kecerahan. Ternyata benar juga perkataan mereka. Dan ternyata sudah hampir selama tiga tahun aku mengikuti kata itu.

Waktu yang lama, tetapi, sekali lagi, ternyata tak terasa, berlalu terlalu cepat.

Banyak hal menyenangkan terjadi di kota ini; keunikan-keunikan, kejadian-kejadian tidak seperti biasa, yang aku temui ketika melaksanakan tugasku. Tugasku menyusahkan, yaitu membantu seseorang menemukan cinta sejatinya. Tetapi tidak sepantasnya aku mengatakan susah. Atau mungkin karena menyusahkan, membuatku terlalu bersungguh-sungguh mengerjakannya. Hingga aku terlena, tak terasa, sudah tiga tahun.

Selama waktu yang telah kujalani itu, sebagian dari mereka yang kubantu mau menerima peranku. Dan sebagian lagi menolak, bahkan tak mau mengerti, dan mungkin secara halus tak memahami. Mungkin itulah kesusahanku. Tetapi aku tak mau memaksakan keberadaanku pada mereka. Mereka berjalan dengan kaki dan pemikirannya sendiri. Dan yang aku pikirkan, inilah yang terjadi, bahwa jaman semakin susah dan bahwa cinta menjadi semakin susah untuk ditemukan juga, karena semakin dituntut.

Aku sedang membantunya: Rika.

Rika seorang yang sederhana. Dia memandang cinta adalah pembawa kebahagiaan. Dia mendapatkan contoh dari keluarga ayah-ibunya yang sederhana, tetapi menurut Rika telah mendapat anugerah yang luar biasa besar yaitu cinta.

Rika itu unik. Dia tampak seperti orang yang selalu mampu membawa kebahagiaan, menyenangkan bagi orang lain. Dan ia telah menjalin hubungan dengan beberapa lelaki yang ia pikir telah cocok. Tetapi menyedihkan, salah satu dari mereka semua dan Rika sendiri, tak mampu mengakhirinya dengan saling setuju untuk saling bersama-sama lebih lama. Entah karena mereka tak mampu mengatasi jarak yang saling jauh, atau satu pihak merasa tidak mampu menunggu terlalu lama dengan jarak itu. Tetapi, mereka bukan cinta sejati Rika. Hal itu telah terjadi pada Rika dalam hubungannya dengan Alex, Miki, dan beberapa bulan lalu dengan Gerry. Dan mau tidak mau, siap tidak siap, sudah tiba waktu bagi Rika untuk memulai lagi, dengan bantuanku.

Rika mencoba memahami perananku. Ia meyakinkan diri bahwa waktu untuk menemukan cinta sejatinya pasti akan datang. Pasti. Tetapi tetap saja ia hanya bisa mencoba. Karena kenyataan, kehadiranku yang tak mudah untuk dilihat atau sekedar dipahami, membuatnya kadang ragu bahkan tidak tahu bahwa aku hadir di sana, untuknya.

Baru saja aku selesai menelepon, dan memang ada perasaan yang sedikit takut, sedikit ragu. Aku menanyakan, sambil lalu saja di antara pertanyaan-pertanyaan yang lain, menumpang pada suara telepon ibunya, “Mengapa mesti ke Bali? Ada apa, kok, mesti jauh-jauh berlibur? Apa yang tidak beres? Mengapa cuti lama sekali, apakah bersama pacar, atau sebenarnya mendapat tugas baru?”

Dan Rika malah menjawab, “Kok, ternyata aku baru tahu sekarang, tentang Ibuku ini, ya?” dan aku harus maklum, “seperti wartawan. Kalau tahu seperti itu dari dulu, mungkin dulu seharusnya aku masuk jurnalistik saja. Sudah cantik, wartawan, wauw, pasti menyenangkan!”

Rika sering bercanda, bahkan mungkin selalu, dan saat itu aku pikir ia bercanda. Meskipun aku sama sekali tak mendengar ia tertawa. Dan selalu itu bagi dia, “Seperti biasa,” kemudian lanjutnya, “hanya butuh istirahat, butuh pandangan baru saja, tidak ada masalah, tidak perlu khawatir. Gerry sudah lama, Ibu! Tidak perlu dipertanyakan lagi. Memang sudah kemauannya pergi, ya, biar saja! Tidak perlu dipikir lagi.”

Besok pagi aku akan pergi menemuinya sekedar mengingatkan bahwa ia mempunyai janji. Mungkin sebenarnya ia rindu. Atau ia? Aku tak tahu. Ya, ia pernah mengucapkan janji; mungkin kepada dirinya sendiri, atau lebih tepat kepada hatinya pada waktu itu. Itu cukup, terlalu cukup bagiku, dan sangat mungkin ia tak menyadari bahwa aku tahu akan janji itu.

Aku bisa mendengar janji itu, karena aku tahu yang ia katakan kepada dirinya sendiri. Buku ini memberitahuku. Buku yang hanya kubuka ketika perlu. Dan baru beberapa hari ini, aku merasa harus membukanya. Hanya saja, waktu belum tepat. Dan untuk janji itu, ia akan mengunjungiku. Mengunjungi? Tepatnya melewati, melihat sepintas saja, berlalu, dan selesai. Tapi bagiku, yang sepintas  itu penting. Buku ini selalu mencatat, penting atau tidak, dan memberitahuku.

Mungkin aku butuh jadwal yang terlalu pagi untuk sekali lagi mengingatkannya: bahwa ia tidak boleh terlambat melakukan perjalanannya. Tetapi, jadwal yang terlalu pagi, membuatku berpikir siapa yang bisa menolong agar aku bisa menyampaikan pesanku. O, ya, mungkin tukang koran atau tukang sayur! Mereka-mereka cukup pagi memulai pekerjaan. Aku yakin mereka bisa menolongku.

Alun-alun ini, ternyata menjadi bagian besar, bagian penting, dari tugasku.  Alun-alun yang cukup ramai di malam pada hari-hari biasa seperti ini, meskipun terganggu mendung musim hujan. Tetapi alun-alun ini bisa menjadi sangat meriah pada satu malam, ketika masyarakat mengunakannya sebagai tempat untuk merayakan makna cinta secara bersama-sama. Dan kadang, aku menggunakan waktu yang khusus itu untuk menyelesaikan beberapa tugasku, mengantarkan cinta sejati bagi mereka yang tertulis di buku ini.

Satu rekanku sedang duduk di sudut sana, menyapa seseorang yang tak ia kenal, mengakrabi, dan menyegarkannya. Mungkin ia sedang menjalankan tugas, sepertiku, mengantarkan cinta sejati bagi seseorang di dalam bukunya. Sama sepertiku, ia menjalankan tugasnya dengan caranya sendiri. Orang yang dibantunya mungkin tak menyadari, tak tahu.

Aku senang dengan kebiasaannya: menjual topi khusus di malam yang khusus itu.

 

Hujan (Kota Para Hantu)

https://www.kompasiana.com/wiatmo/5b3eea32f133441ff93a7282/hujan-kota-para-hantu

Aku tidak berharap melihatnya. Tetapi aku tetap saja kasihan padanya. Dia, perempuan itu, cukup tua berdiri bersama para penumpang di bagian belakang. Kerut di wajahnya cukup jelas, membentuk garis-garis di sekitar pipi, sekitar bibir serta di dahinya. Dan rambut putihnya tidak mungkin tak terlihat, bahkan ketika meliriknya saja, hampir sewarna dengan bajunya yang putih. Rambutnya berpotong pendek, mengembang ke samping yang tampak putih, menyisakan sedikit saja warna yang semula hitam. Semakin jelas dan membuatku segan dan kecut untuk melihatnya adalah wajah yang benar-benar pucat dan pandangan mata yang lemah dan kosong. Benar-benar kosong. Tak ada senyum. Bahkan ketika ia menoleh padaku pun tetap dengan mata yang kosong. Seolah ia menyimpan, memendam penderitaan yang ingin dilupakan tapi tetap saja terbawa di pandangannya itu. Sehingga, mau tak mau, aku berpura-pura tak melihatnya. Aku kasihan padanya, tetapi juga tak ingin melihatnya. Apalagi hujan, yang santai saja tanpa bosan dan juga merata mengguyur kota, membuatku semakin merasakan dingin dan semakin kecut. Aku tak bisa membayangkan apa yang pernah terjadi padanya, tak ingin mengalaminya. Bahkan aku berharap jangan ada lagi orang lain mengalaminya.

Sepertinya perempuan itu, dengan tatapan mata yang dingin dan kosong, juga melihat perempuan lain yang aku lihat dari kejauhan. Perempuan itu masih muda, meskipun sedikit lebih tua dari umur kakakku, berbaju kantoran, dengan warna terang, sepertinya baru pulang dari kantornya. Dengan memegang payung dan satu tangan lagi bersedekap di dada, ia berjalan menembus hujan yang masih lumayan deras. Tampaknya ia bergegas ingin segera pulang, meskipun tampak pula ia menahan dingin malam. Ia diam saja ketika berpapasan dengan orang-orang, yang naik motor, yang berjalan berpayung menembus hujan seperti dia. Ia seperti tak peduli dengan mereka yang berpapasan dengannya, meskipun memang tak banyak orang lewat. Maklum malam sedang hujan, dan malah sudah menjelang larut.

Beruntung ia sudah menuju rumah di saat waktu sudah malam begini dengan cuaca yang sedemikian mengganggu. Ya, memang mengganggu. Berjam-berjam aku menembus hujan, dan hujan selalu saja membawa kemacetan. Meskipun sudah ada pemisah jalur, tetap saja terkena imbas. Aneh menurutku, hujan sebentar membuat air bisa menggenang, dan selanjutnya macet. Lolos dari macet di sini, akan mendapat macet di perempatan selanjutnya. Lolos dari perempatan yang satu akan segera bertemu di perempatan selanjutnya. Ya, itulah yang aku pikir aneh. Kata berita sudah sangat berkurang. Tetapi aku mengalaminya sendiri, menghadapi hujan berarti juga menghadapi genangan di jalan raya, dan kemacetan yang parah tak ketulungan. Sehingga mengakibatkan mundur terlalu malam, bahkan bus juga belum sampai di pul. Beruntung baginya, dan kasihan aku serta penumpang-penumpangku yang masih menuju pulang.

Perempuan itu bertemu dengan perempuan yang lain, yang jauh lebih muda darinya, lebih pendek badannya lebih kecil. Tampaknya mereka saling kenal. Setidaknya mereka terlihat saling menganggukkan kepala, berhenti sebentar, dan sepertinya juga saling mengucapkan beberapa patah kata. Perempuan yang disapanya tampak tergesa-gesa, berjalan lebih cepat darinya. Tampaknya ia harus keluar rumah untuk satu keperluan dan tentu harus pulang lagi. Jika aku mempunyai keperluan keluar rumah di saat malam hujan, memang harus memaksakan diri, mau tidak mau harus berjalan lebih cepat. Dari baju yang dipakainya, ia tampak menggunakan baju rumahan, bukan kantoran. Rupanya ia menuju salah satu toko, di pinggir jalan raya. Ia tampak mencari-cari, melihat-lihat barang yang berjajaran tertata di rak toko itu. Beberapa  kali ia tampak mengitari rak-rak itu, dengan langkah yang masih cepat. Ia terlihat sedikit kebingungan mencari barang yang dibutuhkannya. Dan tak lama kemudian ia mengantri di depan kasir.

Di depan toko, perempuan itu bertemu dengan perempuan yang lain lagi. Perempuan itu tampak sedang berteduh. Dengan gaya yang sama ketika ia bertemu dengan perempuan kantoran itu, mereka saling menyapa, tak banyak bicara apalagi bergosip ria, meskipun tetap dengan senyum di antara mereka. Pembicaraan mereka terasa senyap, sepi, sepertinya hanya mereka berdua yang ada di tempat itu, tak ada tawa, sepertinya basa-basi saja. Mungkin karena hari sudah malam, dan hujan pula. Perempuan itu pergi meninggalkannya di depan toko itu. Masih tetap dengan jalan yang bergegas ia kembali meneyusuri jalan yang tadi dilaluinya tadi.

Setelah kepergiannya, tak berapa lama kemudian datanglah seorang laki-laki menghampiri perempuan di depan toko itu. Rupanya perempuan itu tadi sedang menunggu ojek online. Mereka lagi-lagi tampak saling senyum. Dan sembari mengamati layar gawai di tangan masing-masing, sebentar saja mereka saling berbicara. Perempuan itu buru-buu mengenakan jas hujan. Dan sebentar kemudian berjalanlah ojek itu cepat meninggalkan toko itu, berbelok menikung menuju jalan raya. Dengan berkelok-kelok, motor itu bermanuver mencari jalan. Tampak tenang saja mereka menembus kemacetan jalan.

Kemacetan di sini tidak terlalu parah. Senanglah  mereka berdua. Bapak ojek itu akan segera sampai mengantarkan perempuan itu sampai di tujuannya. Seandainya tujuannya rumah perempuan itu, berarti ia tak lagi hujan-hujanan kedinginan seperti aku. Memang aku bayangkan enak sekali kalau di malam seperti ini sudah di rumah, dan tak lagi peduli dengan macet apalagi hujan begini. Sementara aku masih berjalan merayap. Mungkin karena badan bis ini terlalu besar. Tetapi kasihan juga para penumpang yang masih harus melanjutkan perjalanannya ini. Meskipun sudah terlalu malam, masih banyak orang yang harus berjalan menuju rumahnya masing-masing.

Mereka terlihat sampai di jembatan menuju busway. Perempuan itu sekejap terlihat memperhatikan satu motor ojek online yang menyusul dari belakangnya, di dekat jembatan itu. Penumpang ojek itu membalas lambaian tangan dan senyum perempuan itu. Sebentar sekali, cepat saja mereka mengucap salam pertemanan, saling kenal di antara mereka. Dan masing-masing tetap meneruskan perjalanannya. Rupanya ojek yang menyusul tadi segera mengerem motornya, dan menurunkannya di jembatan busway itu. Lagi-lagi perempuan, dan dengan lincahnya ia turun dari motor dan bergegas melepas jas hujan dan helmnya. Sebentar kemudian ia berjalan naik menyusuri tangga busway. Ia menuju halte yang juga aku tuju. Perempuan yang kurang lebihnya seumur juga. Sepertinya memang di umur-umur itulah, para perempuan harus turun ke jalan, keluar rumah sibuk ikut mencari nafkah, bahkan sampai tak peduli hari sudah gelap dan ditambah dingin hujan juga.  Di jembatan busway masih terlihat orang-orang berjalan, meskipun tak seramai kalau hari masih siang. Semua berjalan seperti perempuan itu, cepat memburu waktunya sendiri-sendiri. Berbeda dengan para perempuan tadi yang saling sapa, mereka hanya berjalan saja cepat. Sepertinya tak ada yang saling kenal di antara mereka.

Penumpang yang aku antar juga lebih banyak diam. Beberapa penumpang terlihat memainkan jari di layar gawainya melawan risau menghadapi macet dan hujan ini. Ada pula yang tertidur, yang diam saja dengan mata melihat-lihat jalanan. Memang suasana yang ada di dalam bis ini juga senyap. Kota ini memang sangat sibuk, sehingga meskipun sudah malam, masih ada penumpang yang harus berdiri di dalam bis. Sungguh aneh bagiku, sementara ketika hujan seharian jalan sudah menjadi genangan air, hingga banyak kendaraan menahan lajunya, dan kemidian menjadi macet. Belum lagi kalau beberapa hari hujan berturut-turut seperti beberapa hari ini, bisa banjirlah yang menguasai pikiranku. Banjir gampang sekali datang, dan juga air mudah sekali menggenang. Ini yang aku pikir aneh, kalau di saat yang bersamaan, juga memikirkan orang-orang yang sedemikian sibuk sampai malam begini baru pulang. Belum lagi, besok pagi mereka juga harus berangkat lagi. Sampai di halte, sepertinya aku tak perlu berteriak menunjukkan posisi bis di halte mana. Namun begitu, memang harus aku teriakkan nama halte tempat bis telah tiba.

Bapak sopir sepertinya tahu kalau aku banyak pikiran dan memperhatikan mereka, perempuan-perempuan yang tadi aku lihat, juga para penumpang ini. Sesekali aku lihat ia melirik kaca spion di atas kepalanya, dengan mata yang melirik ke arah bayanganku di dalam kaca. Aku tidak bisa melihatnya dari dalam kaca itu, tetapi aku yakin pandangan matanya ke arah bayanganku itu. Sudah menjadi kebiasaannya. Biasanya jika penumpang sudah sepi ia tak segan mengajakku mengobrol mengenai sikapku. Dan benar saja. Ketika aku meneriakkan nama halte pemberhentian bis, dan juga halte tujuan akhir nanti, bapak sopir melirik spionnya. Ia diam saja, tak bicara, bahkan tak peduli juga dengan teriakkanku. Tetapi entah mengapa, ia tetap saja melirikku, memberi perhatian.

Perempuan tadi juga naik dalam bisku. Ia duduk di tengah. Sekejap ia melihat perempuan tua itu. Dan dibalas dengan tatapan yang kosong dan dingin itu. Dan mereka saling senyum. Perempuan tua itu ternyata bisa tersenyum, meskipun kecil saja. Terlalu kecil senyumnya tampak sangat terpaksa, dan menambah jelas kerutan di sekitar bibirnya.

Bis sudah longgar. Aku senang sudah tak ada lagi penumpang yang berdiri. Ya, aku senang. Setidaknya hal itu menunjukkan penumpang mulai sepi. Syukurlah, karena itu berarti tidak banyak lagi orang-orang yang masih harus menanggung perjalanan malam seperti ini. Berat saja aku pikir. Karena aku juga merasakannya.

Dalam beberapa hari di musim hujan, kota ini sepertinya mengalami cuaca yang tidak bersahabat. Entah mengapa, dan juga entah benar atau tidak. Seingatku, dalam beberapa hari berturut-turut, matahari lebih banyak tertutup mendung. Dari pagi, menjelang siang dan kemudian siang hari, yang ada malah hujan. Entah gerimis, entah yang cukup besar, atau malah yang tak tertahan. Dan matahari kadang-kadang hanya muncul beberapa sebentar, panas beberapa saat, kemudian mendung lagi. Bahkan kadang hujan sudah dari semenjak pagi. Sebentar berhenti, kemudian hujan lagi. Bahkan pemerintah sampai mengajak warga untuk waspada terhadap banjir. Aku perhatikan sepertinya musim hujan ada puncaknya. Hujan benar-benar terjadi seharian, dan berhari-hari. Meskipun seingatku tak akan berlangsung sampai dua minggu. Setidaknya itu menambah berat, dari beban hidup di kota yang sudah terlalu macet dan padat ini. Sehingga banyak perempuan pun terpaksa pulang terlalu malam.

Aku perhatikan bapak sopir memperhatikan aku dan perempuan itu dari spionnya. Sama dengan bapak sopir, aku juga memperhatikan perempuan itu. Sedangkan perempuan itu tampak dingin saja, seperti tak tahu, bahkan tak peduli kalau kami memperhatikannya. Kadang ia memandang ke depan dengan santai, sesekali melihat ke samping kanan ke arah jalan dan pemandangan yang sebenarnya biasa, juga kadang ke samping kirinya memperhatikan pemandangan yang kurang lebih sama. Sedang penumpang lain, tak memperhatikannya sama sekali. Ia tak ada di antara mereka, seperti tak terlihat. Tetapi aku, dan bapak sopirku melihat sebaliknya.

Sekelebat tadi aku sempat memperhatikan di televisi di halte itu berita kecelakaan. Beberapa hari lalu, kecelakaan yang lain juga terdengar. Berita-berita seperti itu seringkali membuatku memperhatikan ternyata perempuan banyak menjadi korban. Entah karena kecelakaan biasa, penjambretan, pembegalan, pemerkosaan, penodongan, perampokan. Kejahatan yang seharusnya tidak perlu merenggut nyawa, dan aku pikir bahkan tidak perlu terjadi. Keamanan bagi orang-orang sangat menjadi kebutuhan yang semakin jamak. Karena banyaknya korban itu, dimana pun keamanan terasa menjadi kebutuhan yang hanya diri sendiri bisa berikan, bukan orang lain. Dimana pun kejahatan mengancam, dan bisa terjadi pada  siapa saja, apalagi perempuan sepertiku dan seperti mereka yang aku lihat itu. Terlalu banyak orang lemah seperti aku yang akan dengan mudah menjadi korban. Siang pun terjadi, apalagi di saat-saat malam hari seperti ini.

Jalan di kota ini memang sedemikian sibuk dan mungkin ribut, bahkan kotanya juga begitu aku pikir. Sehingga jika malam hari aku masih melihat perempuan-perempuan naik di bisku, aku merasa iba. Meskipun aku juga perempuan. Kadang malah aku merasa takut sendiri juga menghadapi kesibukan dan keributan kota, dan gangguan-gangguan yang tak terduga, seperti macet, banjir, sehingga kadang jam pulang menjadi terlambat menjadi larut sehingga lebih rawan terhadap kejahatan. Tanpa ada hujan, tanpa ada macet pun aku sudah khawatir, dan sering merasa rawan, apalagi bagi perempuan. Hal ini kadang mengkhawatirkanku. Bapak sopirku sepertinya tahu dengan kegelisahanku. Hal itu membuatnya sering memperhatikanku. Dan seringkali ia mengungkit-ungkit tentang perasaanku itu. Seperti aku kasihan dengan perempuan-perempuan itu, ia juga kasihan padaku.

Menuju pul akhir, bis sudah sudah sepi, hanya ada beberapa penumpang. Tidak menjadi masalah jika aku mendekati bapak sopir dan berbicara dengannya. Cukup dengan mendekatinya saja, ia sudah tahu bahwa aku siap mendengar setiap perkataannya.

“Kamu takut, Win?” tanyanya.

“Takut? Takut apa, Bos?” jawabku.

Bapak sopirku tersenyum kecil saja.

“Kalau kamu mau, menginap di tempatku saja. Bisa numpang tidur sama si tengah. Daripada kemalaman di jalan, terus besok pagi tergesa-gesa juga.” Tenang pak sopir bilang.

“Ya, baiklah!”

“Jangan takut. Mereka sudah tenang di tempatnya. Tidak mengganggu kita. Toh, yang salah kita, bisa melihat mereka.” Katanya lagi.

“Ya, kasihan boleh, kan, Pak!” aku sedikit membantah, “takutnya, prihatin juga, aku juga mengalami hal serupa. Menjadi korban seperti mereka.”

“Mereka itu sudah tenang, kok,” kata bapak sopir tak mau kalah sembari tetap waspada terhadap jalan.

DUNIA PETRUK

menjadi benar, menjadi bahagia

Tubuhnya masih terlihat jangkung meskipun ia duduk menghadap meja kerjanya. Di tangannya menempel satu hape yang membuatnya menikmati percakapan dengan Bagong di ujung sana.

“Aku tidak bisa begitu, Gong. Bukan karena aku tidak mau. Aku mau, mau saja. Tetapi aku juga memikirkan etika dan alam bawah sadarku,” katanya serius menghadap telepon yang ia taruh di meja.

“Biyuh-biyuh, Truk? Kita perlu Truk! Tanda seru itu! Semua perlu, dengan banyak tanda seru!” bantah Bagong.

Petruk harus menghela napas, mencermati kata-kata Bagong.

“Yang perlu itu kamu, Gong. Posisi kamu. Rakyat iya perlu, tapi buat aku, caranya tidak begitu! Jadi kesimpulanku, yang perlu, yang butuh itu, kamu! Tanda seru, kalau perlu dua tanda seru. Rakyat aku pikir perlu, tapi ada cara yang benar,” kata Petruk.

“Kamu mau bilang caraku ini salah?” bantah Bagong.

“Lho, iya to! Orang ada dana entah dari mana belum tahu, bahkan masih dicari. Tetapi kamu mendesak saya mejadi rekananmu, untuk tanda tangan MOU proyek. Lho yang fair saja to! Kamu tahu aku menjadi seperti ini tidak secara instan, tiba-tiba, suddenly, ujug-ujug! But by proses. Dan menjadi benar, Gong!”

“Waduh, susah benar melobi kamu, Truk,” kata Bagong.

“Sudahlah, kita ini keluarga, Gong. Kamu perlu hati-hati. Aku ingatkan jangan sembrono. Itu yang pertama. Nah, yang kedua, kembali lah ke jalan yang benar.”

“Kamu bilang caraku salah?” bagong menyela.

“Jalan yang benar itu apa, yaitu yang sudah ditanamkan oleh bapak kita Semar. Ada nasi sepiring dimakan sepiring. Ada nasi dua piring, jangan lupa, ada yang lain yang mungkin tidak bisa punya nasi. Jangan semena-mena.”

“Waduh, aduh, malah dapat wejangan seperti anak kecil,” kata Bagong lagi.

“Nah, yang ketiga, ayo kita kumpul di acara keluarga. Dua minggu lagi, di rumah bapak!” kata Petruk.

Bagong nampak senang, akhirnya, ia bisa berwawancara secara terbuka di ajang keluarga. Ia tidak peduli dengan kata-kata Petruk, bahwa jalan yang benar itu sudah diperlihatkan oleh bapaknya yaitu Semar. Ia nampak yakin saja dengan angan-angannya, berhasil melobi Petruk membuat proyek bersama.

Sementara Petruk kembali sibuk dengan urusannya di kantor yang terletak di gedung tinggi di ibu kota. Anak buahnya bergantian menghadap kepadanya. Ia tak segan-segan berkata-kata sederhana. Kadang tangannya harus ekspresif ke sana ke mari. Dan hidungnya yang mancung kadang seperti mengganggunya bicara.

Di sela-sela menjelaskan itu, tidak jarang anak buahnya tertawa, berasa bebas. Namun tak jarang anak buahnya terlihat serius, bahkan takut untuk menyela, tidak yang muda, tidak yang tua, sama saja.

Petruk tidak berbeda dengan cerita-cerita tentang CEO perusahaan yang berhasil mengembangkan usahanya. Di salah satu sisi dinding ruangan kantornya, tampak terpajang beberapa foto yang memperlihatkan keberhasilannya di bidang perikanan laut. Ia sudah merambah tambak udang. Dari awal yang hanya menjadi pengedar ikan segar ke pedagang pasar, ia berkembang menjadi petambak udang.

Jaman sepertinya membuatnya beruntung. Ikan yang semula berharga tinggi menjadi mudah didapatkannya dan dijual dengan laba yang bisa membuatnya bertahan di tengah gejolak saat itu.

Tak jarang Petruk dengan santainya berjoged, menari di kantornya, entah menjelang siang, entah menjelang malam. Yang jelas Petruk berjoged sudah bukanlah hal yang menjadi pantangan untuk ditonton oleh anak buahnya. Seringkali anak buahnya harus menunggu Petruk selesai berjoged untuk minta tanda tangan.  Dengan iringan gending Jawa yang kental terdengar di telinganya. Tangannya satu santai terangkat di depan wajahnya, dan yang satu menjuntai seperti menjadi ekor, bergoyangan. Sedangkan satu kaki sedikit terangkat, lutut ditekuk, dan yang lain menjadi tumpuan tubuhnya. Dan kepalanya bergoyang ke kiri ke kanan, dengan irama yang sudah menancap hapal di kepalanya. Ia membalik posisi, berkebalikan, dan kepalanya masih bergoyangan santai. Kadang menghentak mengikuti suara kendang yang tiba-tiba mengeras.

Kantornya yang luas sepertinya disengaja supaya bisa membuatnya leluasa menari. Dan sound system yang mewah, sepertinya membuatnya lebih asyik menari. Ia berhenti bersandar di mejanya, dan mencermati hapenya dengan memegang dan beberapa kali memencetnya. Tak lama kemudian ia menelepon.

“Rina, sudah selesai pekerjaan kamu,” ia bertanya.

“Belum, pak!” kata Rina membalas.

“Lho, cepat selesaikan, sekarang juga. Ke kantor saya,” katanya sambil menutup telepon.

Ia mengecilkan volume sound sistem, dan mengecek berkas-berkas tulisan di mejanya. Ia serius sekali membolak-balik, membacanya. Dan sesekali ia mencorat-coret di buku itu.

Masuklah ke kantornya seorang perempuan cantik dan muda. Dengan mata yang berbinar-binar ia menghadap kepada Petruk.

“Pak, rencana bapak mengembangkan kerajinan sepertinya sangat terbuka. Kalau bapak mau kita bisa siapkan,” katanya setelah duduk di depan Petruk.

“Ya, rasanya, aku kira begitu. Tempat bisa kalian siapkan, dokumen-dokumen, tolong ya,” kata Petruk.

“Ya, pak,” kata perempuan itu.

“Nanti jam empat kita sambung lagi ya,” kata Petruk.

Menjelang jam empat, ia mulai memutar lagu gending jawa. Volumenya cukup besar. Dan ia mulai menari, berjoget, dengan mengangkat satu kaki setengah dan merentangkan tangan seperti sedang memainkan selendang yang tersampir di lehernya. Kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri, kadang kakinya bergerak menggeser tubuhnya yang jangkung, ke depan, ke belakang, dengan tangan yang bergoyang memutar dari sikunya. .

Satu tangannya bergoyangan dengan memutar di pergelangan tangan dan di sikunya, seakan menarikan selendang yang dipegang jari-jarinya yang lincah mengikuti arah pergelangannya. Ia hanya menumpu di satu kaki yaitu kaki kirinya, sehingga kaki kanannya dengan mudah naik turun. Satu tangan yang lain memegang pinggangnya dengan santai tertekuk di siku dengan telapak sedikit mengatup. Kepalanya mengikuti gerakan tangan yang seolah-olah memegang selendang, santai, berirama, dengan musik yang bertempo sedang. Ia begitu menikmati. Kadang ia membungkuk menumpu pada lutut, dengan kepala menggeleng ke kanan ke kiri mengikuti hentakan kendang, dengan tangan naik turun bergantian satu dengan yang lain sesuai dengan gerakan kepalanya. Kadang ia mengangkat satu kaki tinggi-tinggi, menekuknya, dengan wajah yang menoleh ke arah kaki tersebut, dan menurunkan kakinya dengan gerakan yang gagah, dan segera berbalik dengan ganti menarik kakinya yang lain dengan gerakan serupa.

Cukup lama ia menarikan gerakan-gerakan yang sangat bervariasi dari kaki, lutut, lengan dan tangannya serta kepalanya. Bahkan ia lagi-lagi seperti sedikit melompat mengikuti hentakan irama dari musik gending yang diputarnya. Hingga setelah cukup lama, gendingnya berakhir dan ia berhenti menari.

Terlihat ia lega dengan tariannya, dengan napasnya yang sedikit memburu dan keringat yang terlihat membasahi wajahnya. Ia segera beranjak ke arah mejanya, mengambil tisu dan mengelap wajahnya dengan tangan kirinya, sembari serius mencermati hape yang dipegang tangan kanannya. Ia serius sekali dan setelah beberapa kali menyentuhnya, ia mulai menikmati musik yang terdengar. Kepalanya mulai menggeleng-geleng seperti anak muda yang menarikan musik hiphop saja. Tangannya seperti tak disadari sudah bergerak santai, seperti menghitung ketukan lagu dengan santai memukul meja.ia terlihat menikmati pilihan lagunya, dan menaruh handphone nya.

Dan kemudian terdengarlah dari handphonenya musik gending yang serupa benar dengan musiknya yang pertama tadi, hanya yang sekarang berirama lebih cepat. Tangannya segera terangkat sedangkan yang satunya ditariknya ke belakang di sebelah pinggulnya dan ia bergeleng-geleng tanpa irama. Wajahnya sangat gembira. Tubuhnya memutar dengan tumpuan satu kaki karena satu yang lain sedikit terangkat. Satu telunjuknya menunjuk ke atas kepalanya dan berputar-putar santai mengikuti putaran tubuhnya.

Ia berhenti tiba-tiba, sementara musiknya masih mengalun kencang, rancak. Dengan santai ia mengambil telepon di mejanya,dan memencet beberapa nomor.

“Ya, jam berapa, ya, sekarang?” tanyanya di telepon.

“Ok. Suruh Yoyok, Putri dan Paulus ke saya, ya, sekarang. Oh, jangan lupa si Jeni. Kumpul sekarang!” ia sudah menaruh teleponnya dan segera menari lagi, dengan gerakannya tadi, yang segera disusul dengan gerakan yang lain, seakan seenaknya sendiri.

“Ya masuk,” teriaknya setelah mendengar pintunya diketuk.

Seketika masuklah mereka yang dipanggilnya tadi. Mereka tampak tidak terlalu suka. Wajah mereka tidak gembira sama sekali, bahkan seperti cemberut.

“Ayo, olahraga,” kata Petruk, “seperti biasa.”

Mereka terlihat canggung melihat Petruk tetap menari.

“Seperti biasa. Kalau tidak cepat, tambah lagu lagi nanti,” kata Petruk membalas kecanggungan mereka.

“Ayo, Putri, biar badanmu semakin aduhai,” kata Petruk sembari menarik tangan si Putri dan membawanya menari mengikuti gayanya, berhadap-hadapan. Tangan Putri terpaksa mengikuti gerakan tangan Petruk yang terentang, dengan tubuh yang sedikit turun menumpu pada siku kaki yang membuka lebar. Sedangkan tubuhnya bergoyang ke kanan, dan ke kiri bolak balik.

“Senyum Putri,” kata Petruk dengan senyum yang ceria, tak peduli dengan kesulitan Putri meniru gerakannya.

“Yang lain, cepat baris, seperti biasa. Aduh enak sekali, ini. Menari, olah raga, sehat. Dan pikiran terbuka,” katanya sambil bergerak bebas, dengan tangan, kaki, kepala, dan langkah-langkahnya, bahkan kadang sedikit melompat setelah berjalan cepat.

“Satu lagu lagi, lebih semangat,” katanya lagi.

Mereka semakin mengikuti keinginan Petruk. Petruk sepertinya tahu keenggganan mereka. Sehingga beberapa musik gending dengan irama yang serupa telah ia mainkan. Wajah Petruk pun juga telah bersimbah peluh. Napasnya sedikit tersengal. Begitu juga dengan anak buahnya. Mereka segera memilih duduk karena sudah tidak berdaya melawan lelahnya.

“Sudah saya bilang, besok lagi, tidak usah merokok,” katanya memandangi semua anak buahnya satu per satu.

“Hei, Putri, duduk di sini dulu.” Kata Petruk melihat Putri yang beranjak pergi.

“Masih ada pekerjaan, Pak,” kata si Putri.

“Lho, kamu kira saya tidak ada pekerjaan? Begitu?” kata Petruk.

Petruk kembali ke mejanya dan duduk dengan tenang dan kembali dengan asyik mencermati handphonenya.

“Putri, minumnya ambil sendiri-sendiri. Saya ambilkan satu, atau, dua juga boleh” kata Petruk sambil mengatur napasnya.

Dan anak buahnya segera minum air putih di botol yang diambil Putri dan Jeni. Mereka tampak lelah, dengan napas yang belum teratur. Petruk pun menikmati minumnya sambil serius masih mencermati handphonenya, seakan masih mencari-cari.

“Sudah segar, kan? Sudah saya bilang tidak usah merokok. Yang Putri, Jeni masih juga tidak bisa diberi tahu,” kata Petruk menyela dengan nada lambat.

“Pikirannya sudah segar belum?” tanya Petruk, “gampang, kan, membuat pikiran segar?”

“Kalau belum, aku putarkan lagi, dua atau tiga lagu,” kata Petruk, yang membuat anak buahnya hampir serentak, dengan kata-katanya masing-masing menjawab, “Sudah Pak, Jangan Pak, Cukup Pak.”

“Nanti, dua minggu lagi, siapkan waktu kalian, ya, melihat tanah di tempat saya,” kata Petruk.

“Semua pak?” kata Joko.

“Lho, iya,” kata Petruk.

“Mau dipakai buat apa pak?” tanya Jeni.

“Ya, nanti kamu, kalian lihat, terus kalian bicarakan, mau diapakai buat apa bagusnya.” Kata Petruk.

“Pak, snacknya pak,” kata Putri membawa nampan berisi makanan kecil yang disuguhkan pada Petruk dan teman-temannya.

“Lha, pantas tidak bisa turun berat badannya. Menari lima menit, ditambal kalori banyak sekali,” Petruk berkomentar.

“Biar semangat berolah raga, Pak!” kata mereka.

Dua minggu kemudian mereka melakukan perjalanan ke kampung Petruk.

Malam hari mereka sampai di sana. Mereka bertemu dengan Petruk yang sudah lebih dulu sampai. Mereka berkomentar, bahwa perjalanan mereka sangat jauh, seharian, membuat capek. Tetapi Petruk dengan santainya menanggapi bahwa yang namanya liburan pasti jauh, pasti capek.

Rupanya di kampung, mereka melihat Petruk bergabung dengan Bagong dan Semar dan Gareng mengadakan pergelaran wayang. Petruk dan keluarganya menjadi bagian dari satu pertunjukkan wayang. Di sanalah Petruk menarikan gerakan-gerakan di kantornya. Hanya kali ini bersama dengan Bagong dan Gareng.

Mereka melihat Petruk yang menarikan gerakan hampir sama dengan gerakan di kantor itu. Dan setelah mereka selesai, mereka bertemu dengan Bagong di tempat angkringan. Setelah mereka berbincang-bincang, Bagong tampak gelisah, menunggu Petruk.

“Bosmu mana?” Bagong bertanya.

“Katanya sedang ke sini, Pak,” kata Jeni.

“Memangnya perjalanan ke sini berapa lama, sih? Apa iya bannya bocor? Setelah bocor, perutnya sakit? Setelah sembuh, mobilnya mogok?” kata Bagong.

Mereka terkejut mendengar celoteh Bagong yang sepertinya meluapkan kekesalannya.

“Halo, Truk, ini kamu ditanyakan kabarnya sama Mas Karyo., kok, tidak kelihatan batang hidung dan lembaran-lembaran uangnya?” kata Bagong menelepon Petruk dengan handphonenya.

“Waduh Gong, kepalaku mendadak sakit, pusing sekali. Jangankan buat berjalan, buat bicara saja susah. Aduh,” kata Petruk.

“Apa? Terus kita punya janji berbicara mengenai proyek itu, bagaimana? Masa iya, saya menghadapi anak-anak kecil seperti mereka?” Bagong kebingungan dan berbicara dengan nada keras.

Anak buah Petruk hanya bisa kebingungan melihatnya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi.

Dan di pendopo rumah Semar, Petruk sedang dipijit oleh Gareng ketika Bagong tiba di sana. Bagong berbicara lantang.

“Orang ditunggu di angkringan, malah ditemani bocah-bocah kemarin sore. Ini malah pijitan? Kok, enak sekali?” kata Bagong.

Petruk mempersilakan Bagong untuk duduk dan tenang, dan minum jahe wangi yang sudah disiapkan Gareng.

“Ya, sudah, kamu mau bahas silakan bicara di sini.”

Dan mereka berbicara sembari menunggu Petruk yang dipijit.

“Truk, kamu ini bagaimana, to? Ini uang besar, peluang, kok masih juga tidak setuju. Aku sudah luangkan waktu datang ke sini, ternyata malah ketemu anak-anak kecil macam mereka. Maksud kamu apa?” kata bagong pada Petruk yang masih memejamkan mata.

“Aku sudah bilang tidak mau Gong. Aku mau seperti dulu saja, jalan lurus saja. Tidak perlu manuver seperti kamu. Nanti kalau aku manuver kurang canggih, malah terguling. Celaka. Padahal, ya, anak-anak itu, yang kamu temui itu, punya masa depan, Gong!”

“Iya, Gong, benar itu!” kata Gareng menimpali, sambil menunjuk gelas jahenya.

“Aku tidak mau minum jahe. Kampung sekali. Saya harus punya sense kota, taste kota. Kalau sense dan taste kota saya hilang, nanti saya jadi orang kampung lagi. Bosan saya,” kata Bagong kepada Gareng.

“Masa depan mereka urusan mereka. Untuk apa kita ikut campur? Tidak jelas,” kata Bagong menyanggah Petruk.

“Gong, keputusanku itu sudah finis. Selesai. Tidak. Kalau sekarang kamu membawa-bawa anak-anak muda itu, itu beda masalah,” kata Petruk.

“Hah, makin mumet saya! Mumet! Jauh-jauh tidak dapat apa-apa begini. Mumet!” kata Bagong sambil meminum jahe, cepat-cepat.

“Ini jahe kok panas amat to Reng?” kata Bagong

“Katamu tadi tidak mau, takut balik jadi kampungan lagi,” kata Gareng.

“Lha, daripada tidak mendapat apa-apa,” kata Bagong.

“Kamu dari dulu, ya begitu, tetap saja seperti itu,” kata Gareng setengah berteriak kepada Bagong yang sudah beranjak pergi.

“Aku mau mencari duit lagi. Tidak ada apa-apa di sini!” kata Bagong dari depan rumah.

Setelah Bagong pergi, Petruk segera terbangun dan ganti memarahi Gareng karena pijitan Gareng tidak enak, tidak terasa sama sekali.

“Lho, kamu ini bagaimana, to, Truk? Kata kamu aku akting saja, pura-puranya. Aku kan ikut kata kamu,” kata Gareng menyanggah.

“Ya, kalau bisa terasa enak, kenapa tidak?” kata Petruk, “Sekali merengkuh dayung, tiga pulau terlampaui.”

“O, kamu ini tidak ada bedanya dengan Bagong. Terus tanah di sebelah pendopo bagaiamana pembicaraannya?”

Petruk menjelaskan tanah itu menurut pemikirannya, akan dia gunakan untuk fasilitas olah raga, terutama anak-anak muda yang jangkung-jangkung seperti Petruk, yaitu bola voli. Karena orang tua sudah mendapat pendopo, jadi giliran anak muda sekarang mendapat lapangan olah raga.

“Nah, bicarakan sama anak-anak itu,” kata Petruk, “semua, termasuk harga, dan rencana dipakainya.”

“Waduh, jadi nasibku sama dengan Bagong, ketemu anak-anak juga?” tanya Gareng.

“Karena aku besok kembali ke ibu kota lagi. Setelah bagong berangkat, aku menyusul. Dia pikir saya masih di sini. Nanti di sana saya bilang saya masih di sini. Pokoknya selama anak-anak itu masih di sini, ya, berarti seolah-olah saya di sini. Haha, begitu!” kata Petruk

“Sama saja dengan Bagong,” kata gareng.

Karena Bagong pasti masih mengejar-ngejar ini nanti. Mana dia mau berhenti? Harus lebih pinter dari si Bagong!” kata Petruk.

Pertemuan

–     ketika tokoh cerita jatuh cinta pada penulisnya     –

Aku sangat ingin bertemu dengannya, benar-benar ingin; karena kagum, karena ia seperti teka-teki bagiku. Aku perkirakan, pikirkan; dia cantik, dengan hidung seperti hidung Julia Robert, meskipun hanya ujungnya saja; pasti tidak mancung, tetapi berujung lancip seperti itu tadi, Julia Robert. Rambutnya; panjang sebahu cukup, bahkan kurang pun tidak apa, dan tidak perlu lurus seperti rambut para putri yang berlomba mendapatkan mahkota kecantikan, atau foto dengan rambut panjang dan lurus yang ditempel di bungkus sampo.

Cerita yang ditulisnya bagiku memikat; meskipun tak pernah bertemu, meskipun aku hanya bisa menduga, merasa. Aku hidup, meskipun hanya di tulisannya, cerita-ceritanya saja, yang kadang seperti siksaan; karena dia menempatkan aku sesuai keinginan dia, terserah dia, suka-suka dia. Sudah menjadi nasibku, menjadi seorang tokoh di dalam cerita yang hidup di dalam pikiran dan cerita penulisnya. Namun semua itu membuat aku sangat ingin bertemu. Olehnya aku hidup, juga hidup, persis seperti dia yang menulis. Hidup di dalam ceritanya membuat aku juga punya keinginan, punya rasa. Dan yang aku takutkan apakah aku sudah jatuh cinta, untuknya, kepadanya, seperti cerita-cerita di karangannya?

Mungkin ia tak menyangka, tak pernah berpikir, sama sekali tak pernah, bahwa tokoh yang ditulisnya, di dalam ceritanya, ternyata mempunyai perasaan, dan hidup. Hidup yang semula hanya di pikirannya, ternyata berubah menjadi hidup yang sesungguhnya, meskipun hanya aku yang merasakannya. Aku merasakan dirinya menghipnotis, menarik perhatianku. Dan yang aku bisa lakukan; merindukannya, menginginkannya dalam satu pertemuan.

Aku menyukainya karena ia menulis bukan asal cerita, bukan asal-asalan; kadang aku ditulisnya berjalan di pesawahan dengan angin kencang, di antara padi yang hijau tua dengan cakrawala yang biru muda terang sejauh mata memandang. Aku tak menikmati pemandangan itu, tetapi aku hafal. Aku lebih jelas merasakan nafasku yang setengah tersengal, memburu satu rumah di seberang sungai di tepi pesawahan. Dari sana terlihat hehijauan pohon yang rindang berjajar-jajar mengikuti liukan sungai yang membatasi sawah dan kampung di seberang sungai.

Dan sampailah aku di rumah itu, yang dituliskannya sebagai rumah orang tuaku, dan bertemu Ragian yang menjadi adikku. Seorang yang lebih mendekati dengan perempuan yang wajahnya menempel di sampul sampo, meskipun ia berkulit coklat karena ia seorang gadis kampung. Aku yakin ia berbeda dengan gadis yang menulis cerita tentang aku.

IMG20170425102048

“Sudah pulang, Mas? Bawa buku baru, kan?” tanya adikku menanyakan pesanannya. Persis bulan sebelumnya ia minta dibawakan buku sastra, karena ia suka membacanya.

“Ya?” tanyaku seperti tak mendengar pertanyaannya, atau karena aku kurang suka ia menyambutku dengan tagihan daripada ucapan apa kabar.

Setelah menaruh tas di bilik kamarku, aku menyusul masuk ke dapur dan melihatnya menyeduh segelas besar teh, sementara aku kebingungan mencari makanan di balik tudung nasi di meja makan.

“Sabar sedikit, setengah jam lagi nasi dan lauk pauknya sudah matang. Sementara, teh hangat bisa mengurangi lapar,” katanya datar saja, sembari melihat wajahku kecewa.

“Jadi buku pesananku, bagaimana?” tanyanya lagi, tetap datar.

“Ayah belum pulang? Ibu?” aku menjawabnya dengan pertanyaan, masih dengan kegelisahan, kelaparan.

“Belum! Masih di pasar,” kata Ragi maklum, tak mendapati buku yang diharapkannya.

“Nasi dicepatkan matang. Setelah matang, cari bukumu di tasku, dan taruh buku yang dulu di tas. Besok aku kembali ke kampus!” kataku, dan dibalas tiba-tibandengan teriakan gembira sembari memburu tasku di kamar. Ia lebih peduli pada buku daripada memasak makananku.

Akhirnya aku mencari-cari makanan sendiri, dan memasak sendiri setelah melacak di kompor, penggorengan dan panci sayur. Aku sibuk sendiri, semampuku, memasak dengan cara yang paling mudah dan cepat matang dengan wajah serius sekali karena lapar, meskipun sebagian sudah terobati oleh minuman teh di gelas besar berkuping yang disiapkan Ragian.

“Bukumu masih dipinjam Anne,” kata Ragian tiba-tiba sudah berada di dapur. Ia sudah menenteng buku yang terbuka di tangannya, membacanya, lupa dengan masakan.

“Ya, sudah,” kataku tetap menggoreng tahu dan tempe, tidak terlalu peduli atau tidak tahu siapa Anne. Ragian sepertinya tidak peduli dengan jawabanku.

Kebingunganku oleh tahu dan tempe yang aku pikir matang sementara nasi belum, membuatku memilih minta bantuan Ragi.

“Ragi,” kataku pelan dengan mata memelas melihat dia asyik membaca,. Karena itu ia menaruh buku di meja dapur dan membantuku mencari nasi, entah matang entah belum. Dan sebentar kemudian dia sudah mendapatkan sepiring nasi setelah mencicipnya. Aku benar-benar tak yakin ia telah mencicipi nasi yang matang atau hampir matang. Nasi mengepulkan asap di piring, seperti berebut cepat melarikan diri dari gunungan nasi di piring. Sigap tangan Ragi, mengambil cabe, garam, tomat  dan entah apa lagi. Seperti gerimis deras, penggorengan mengirim suara dari cabe dan tomat yang digorengnya.

Setelah sejenak melihat buku yang dibacanya, aku lebih senang mengudap tahu sembari minum teh yang tinggal separuh. Dan Ragian sebentar kemudian telah menggerus cabe tadi di cobek, membubuinya dan sebentar kemudian menaruh sambel itu ke gunung nasiku, berteman dengan tahu dan tempe.

Aku dan Ragian seperti berganti peran; ia kembali dengan buku dan aku dengan nasi, sambal dan tempe tahu.

“Si Anne minta bertemu, diskusi mengenai buku Kartini yang dipinjamnya,” kata Ragi.

Aku terkesima dengan kata Ragi, sembari merasakan enaknya masakan sambal bercampur nasi yang setengah matang.

“Siapa Soe Hok Gie?” tanya Ragi lagi, juga tak aku jawab.

“Kalau mahasiswa harus membacanya?” tanya Ragi sekali lagi, sedangkan aku masih menikmati makananku.

“Kenapa mesti namanya Anne? Bukankah kita orang kampung? Orang kampung seharusnya bernama Ragian, Broto. Bukan Anne!” kataku membalas sambil mengunyah.

“Apa salahnya? Karena namanya Anne?” adikku kebingungan dengan wajahnya yang tetap polos.

“Kita orang kampung, Ra!” kataku memberi alasan.

“Kampung dan Anne menjadi masalah?”

“Mas, tolonglah, bertemu saja. Sudah berkali-kali dia menanyakan. Tetapi kamu tidak pernah mau menemui. Kalau kamu tidak suka, ya, tidak apa,” Ragi tak bisa menyelesaikan sanggahannya.

IMG20170425103809

Dan aku masih menikmati sambal dan goreng tempe dengan nasi putih panas yang sudah menjadi hangat. Beginilah orang kampung, makan hanya dengan sambal dan tahu tempe. Sebenar-benarnya orang kampung. Anne bukan orang kampung padahal dia di kampung. Itu alasanku saja; karena aku sedang memikirkan penulisku. Masih ada sambal, masih ada tempe, tetap saja aku makan, karena aku orang kampung. Alasan yang sangat tepat, meskipun ternyata membuat Ragian risau hati.

Tiba-tiba saja, aku sadar bukan Anne atau aku yang membuat Ragi risau. Tetapi karena Ragi sendiri sedang menyukai seseorang, dan takut orang itu tidak suka padanya, seperti Anne menyukai kakaknya, dan tak berbalas.

Akhirnya demi Ragi, aku bertemu dengan Anne, yang cantik, suka membaca, berambut sebahu dan mempunyai ujung hidung persis Julia Robert. Tetapi buatku dia bukan seorang penulis yang membuatku hidup. Kami hanya berbagi cerita, terutama tentang buku, tentang tokoh-tokoh dalam cerita; kadang kebodohan, buku yang sudah dibaca tetap saja dibaca. Kami senang dengan cerita yang terutama dari Anne dan Ragi.

Anne, buatku ia sempurna, malah terlalu sempurna; pipi yang bersih, jidat yang sedikit menggembung, gigi yang rapi, dan bibir yang setengah basah. Terlalu sempurna, alasan yang pasti tidak diterima Ragi lagi, yang aku buat-buat saja. Hanya karena aku memikirkan yang lain, yaitu penulisku saja.

Aku mellihat Ragi yang gembira. Tampaknya ia mempunyai harap, bahwa pertemuanku dengan Anne, kurang lebih sama antara pertemuannya dengan laki-laki yang menarik hatinya, entah besok sore, atau minggu depan, yang aku harap semoga tidak terlalu lama.

Tetapi yang pasti ia tidak tahu kalau aku tidak mau memikirkan orang lain, tetapi hanya penulisku saja.

Di hari lain dia menuliskanku lagi, menarikku ke cerita yang lain. Cerita yang ditulisnya, lagi-lagi, seenak dirinya sendiri.

Aku diceritakan hidup di satu kota dengan sungai yang lebar. Rumah-rumah, bangunan-bangunan yang berjajar rapi, menjadi keseharianku, mengemudikan perahu dari rumah ke kota, atau ke pasar, atau ke bundaran, atau alun-alun.

Kota yang ramai. Orang-orang setengah berteriak ketika berbicara antar perahu, dengan keakraban, dengan kegembiraan, yang seakan-akan, memang hidup di kota itu harus gembira. Dan perahu hilir mudik, bergantian. Seringkali penumpang perahu adalah orang-orang pendatang, yang berwisata, menikmati sungai, dan bangunan di sekitarnya. Sekali lagi, semua orang terlihat suka, bahagia. Banyak tawa di sungai itu. Pembicaraan seolah-olah dengan gampang terjadi antara orang yang baru dikenal.

“Broto, kamu longgar, kan? Mau menjemput penumpangku?”

“Hei, ada apa? Pulang lebih awal?” tanyaku membalas teriakan Simon.

“Mau tidak mau, aku harus bekerja setengah hari saja. Ada pertemuan keluarga istriku,” Simon menjelaskan dan mendekatkan perahunya pada perahuku.

“Dia ini wisatawan. Rombongan tetapi tidak banyak. Temui Kania saja. Bilang, aku tidak bisa, mendadak ada pertemuan.” Simon memberi penjelasan, membalas kebingunganku.

Dan sebentar kemudian aku sudah meluncur pelan ke tempat Kania di terminal perahu. Beberapa teman dengan perahunya berkumpul. Masing-masing sudah punya janji dengan agen masing-masing. Dari perahuku terlihat beberapa orang di tempat Kania. Dan aku mendekatkan perahuku.

“Broto, kau lihat Simon?” teriak Kania.

“O, ya, pasti,” jawabanku.

“Dimana dia? Kenapa dia tidak datang?”

“Dia wakilkan aku. Ada pertemuan dengan keluarganya, mendadak,” kataku pada Kania.

Kania menjelaskan maksudnya, dan memintaku mengantar wisatawan melewati kota, juga untuk menikmati pusat kuliner di dekat pasar.

“Sebentar kurang satu orang, masih di kamar mandi,” kata yang satu orang.

Rombongan itu lima orang, muda-muda, dua orang perempuan, dua orang laki-laki. Aku menyapa mereka, tersenyum ramah dengan rasa kegembiraan yang ada di kota itu.

“Anne, cepatlah!” kata yang satu orang.

Aku berangkat membawa mereka. Anne tidak banyak bicara, sepertinya pendiam, berbeda dengan teman-temannya. Ia malah mengeluarkan buku dari tasnya dan membukanya.

“Jangan kencang-kencang, Broto!” teriak Kania dengan kedua telapak tangan membungkus mulutnya membentuk corong.

“Buku ini pas ceritanya,” teriak Anne pada teman-temannya.

“O, ya? Tidak salah tempat kita, ya?” balas salah satu temannya.

“Anginnya, airnya, perahunya, bangunannya,” balas Anne.

“Ya, perahunya,” kata temannya melirik ke aku.

“Masukkan tangan ke air. Air sungai, rasakan dingin atau hangatnya,” kataku,”mestinya hangat, seperti suasana dan orang-orangnya.”

Anne dan teman-temannya mencelupkan tangan mereka dan merasakan gelombang air yang dibelah perahu kecilku. Wajah mereka memperlihatkan rasa penasaran. Kecantikan Anne mendebarkanku. Sempurna. Namun aku tidak berani memikirkan itu. Aku hanya ingin dia yang sederhana. Aku yakin penulisku sederhana wajahnya. Dia tidak cantik, tetapi cukup  membuatku suka.

Setelah perjalanan yang pertama, Anne memintaku mengantarkannya sekali lagi. Kali ini malam hari. Dan sekali lagi ia berkata memang persis seperti yang dikatakan di dalam buku, air yang berkilauan karena sinar lampu, lampu-lampu yang membayang di dalam air, dan cahaya-cahaya yang bertebaran mengikuti bangunan-bangunan yang berjajaran di samping kiri dan kanan sungai.

“Bagaimana kau bisa hidup di tempat seperti ini? Menyenangkan sekali,” kata Anne

“Tentu menyenangkan. Tetapi lebih enak kalian. Bisa bebas. Hidup di sini, ya, begini terus,” kataku lebih menjelaskan aku yang tak tahu dunia luar sama sekali.

“Ah, tetapi hidup seperti ini juga sudah cukup. Di pusat kuliner tadi bagus sekali. Orang-orang hampir semua tertawa, berteriak. Piring dan sendok, gelas, seperti ikut berbicara dengan bahasanya sendiri; teng tang ting tung, bersusulan. Dan suara api dan arang yang gemeretak, dan masakan yang memecah suasana dengan suaranya sendiri-sendiri,” kata Anne.

“Kata-katamu sepertinya baru aku dengar. Belum pernah ada orang mengatakan seperti itu!” kataku sambil menambatkan perahu.

“Aku akan tunggu di sini,”kataku membiarkannya pergi.

Aku diam di perahu, menyapa beberapa temanku yang masih mengantarkan wisatawan.

Aku diam saja berlama-lama di sana. Anne tidak kunjung kembali. Aku berniat menyusulnya di pasar seni. Tetapi aku tidak tahu mau kemana, apakah ke tempat rajutan, lukisan, batik? Pasar seni itu luas, cukup luas. Penulisku tidak menuliskan ceritanya. Ia berhenti. Apa yang terjadi? Aku harus diam terus? Anne bisa saja menonton pertunjukkan musik, pameran lukisan, merajut, batik, tembikar. Dan  aku bingung. Hanya duduk dan berdiri saja di atas perahu ini. Aku tidak mau diam saja.

Aku mencari Anne. Tempat pertama yang aku temui adalah pameran lukisan. Aku menduga Anne pasti senang melihat, mencermati lukisan yang dipamerkan di tempat ini. Mungkin malah ia minta dilukis oleh para pelukis di jalanan sana. Yang membuatku terkejut, satu lukisan memperlihatkan apa yang dikatakan Anne tadi di perahu, jelas sekali. Dan satu perahu tertambat di halte perahu dengan seorang berdiri di perahu itu, sementara seorang perempuan muda berjalan menjauhi perahu itu mulai menyusuri jalan, terlihat seperti Anne. Beberapa perahu yang lain bertebaran di sana-sini, yang kosong, yang sedang mengantar penumpang, dan yang menunggu sepertiku.

Pikiran tentang lukisan itu membuatku kembali ke perahu tak percaya dengan yang aku lihat. Semakin tak percaya karena di sungai itu masih ada beberapa perahu di sungai mengantarkan wisatawan. Aku celingukan, bingung. Aku ada dalam satu lukisan. Aku hidup di dalam lukisan. Anne, dimana Anne?

Kebingunganku seketika membuatku kembali melihat lukisan itu. Ya, memang lukisan. Dan aku semakin tak percaya, karena aku sudah berada di dalam satu ruangan yang aku tak tahu. Beberapa lukisan menempel di dinding. Aku cermati seperti di pameran tadi. Dan salah satunya ternyata lukisan seorang perempuan di dapur dengan suasana kampung dengan cobek di tangannya, dengan asap mengepul dari kompor minyak yang terlihat menanak nasi, dan seorang pemuda yang ternyata adalah diriku.

Aku hanya tokoh. Aku tidak hidup. Aku hanya hidup dalam lukisan saja. Aku tidak bisa menerima kenyataan itu. Aku bingung, terlalu bingung. Ada lukisan lagi di kamar itu, tetapi bukan aku lagi yang di sana. Mungkinkah lukisan alam itu juga harus aku lalui, sebagai tokoh manusia yang hidup, sebagai seseorang bernama Broto? Apakah akan bertemu Anne lagi di sana?IMG20170213152853

Dan lukisan Anne ada di ruangan itu juga. Hanya ia sendiri dan tampak wajah Anne saja. Dan lukisan yang lain, anak-anak muda berumur tidak jauh dari Anne, seorang laki-laki dan perempuan. Ada juga seorang laki-laki dan perempuan dewasa yang seumur serta Anne dan dua orang itu tadi.

Aku terduduk lemas di sofa panjang, yang empuk dan lembut sekali. Serasa berada di dalam perahu dan merasakan air yang diam tenang. Satu ruangan di sebelah ruangan itu tampak terang. Aku bergegas memeriksa ruangan itu, mengendap-endap dan juga masih dengan bingung dan bertanya-tanya.

Dan aku terkejut menemukan Anne di sana. Ia tertidur. Di sofa seperti di ruangan tadi dengan meja kaca yang lebih pendek, hanya separo tinggi meja Ragian. Ia benar-benar tertidur, pulas. Sementara laptopnya masih menyala. Aku mengamati Anne, dia memang Anne teman Ragian, juga Anne yang aku antar dengan perahuku tadi. Pipinya persis, dan memang itu ujung hidung Julia Robert. Apakah Anne adalah penulisku? Ia baru saja tertidur, sehingga aku harus diam di perahuku tadi?

Perlahan aku mengintip pekerjaan di laptopnya. Dan ternyata benar. Anne adalah penulisku. Aku tidak bisa menerimanya. Aku yang tidak suka dengan Anne teman Ragi, dan Anne yang sempurna di perahu itu, tetapi menemukan ia adalah penulisku, yang aku ingin temui.

Aku ingin mencintai dia yang memberiku cerita, memberiku hidup, pengalaman-pengalaman, rasa yang kadang tak bisa aku pahami. Tetapi mengapa ia adalah Anne? Ia berbeda, jauh berbeda dariku. Dia masih tidur di sana. Aku pikir dia terlalu sempurna,  dan aku pikir aku benar. Rambutnya, hidungnya, pipi, jidat, dan itu semua adalah Anne.

Aku terduduk di sofa itu, di depan Anne. Berpikir, apakah dia akan menjerit ketakutan kalau melihat aku di sini. Atau dia akan bingung juga, bagaimana aku bisa di sini? Aku sebaiknya pergi dari sini. Aku mau kembali ke dalam lukisan itu. Dan aku sudah memilih satu lukisan, untuk kembali.

Sebuah lukisan dengan begitu banyak orang di sana, hampir seperti pasar. Tempaknya itu bukan lukisan tetapi photo sebuah pameran, galeri seperti di pasar seni di kotaku itu. Biar Anne akan bercerita tentang pameran itu. Dan bagiku, sepertinya sama saja di sini atau di antara banyak orang itu, selama ada penulisku, yang membuatkanku, menuliskanku dalam sebuah cerita.