DUNIA PETRUK

menjadi benar, menjadi bahagia

Tubuhnya masih terlihat jangkung meskipun ia duduk menghadap meja kerjanya. Di tangannya menempel satu hape yang membuatnya menikmati percakapan dengan Bagong di ujung sana.

“Aku tidak bisa begitu, Gong. Bukan karena aku tidak mau. Aku mau, mau saja. Tetapi aku juga memikirkan etika dan alam bawah sadarku,” katanya serius menghadap telepon yang ia taruh di meja.

“Biyuh-biyuh, Truk? Kita perlu Truk! Tanda seru itu! Semua perlu, dengan banyak tanda seru!” bantah Bagong.

Petruk harus menghela napas, mencermati kata-kata Bagong.

“Yang perlu itu kamu, Gong. Posisi kamu. Rakyat iya perlu, tapi buat aku, caranya tidak begitu! Jadi kesimpulanku, yang perlu, yang butuh itu, kamu! Tanda seru, kalau perlu dua tanda seru. Rakyat aku pikir perlu, tapi ada cara yang benar,” kata Petruk.

“Kamu mau bilang caraku ini salah?” bantah Bagong.

“Lho, iya to! Orang ada dana entah dari mana belum tahu, bahkan masih dicari. Tetapi kamu mendesak saya mejadi rekananmu, untuk tanda tangan MOU proyek. Lho yang fair saja to! Kamu tahu aku menjadi seperti ini tidak secara instan, tiba-tiba, suddenly, ujug-ujug! But by proses. Dan menjadi benar, Gong!”

“Waduh, susah benar melobi kamu, Truk,” kata Bagong.

“Sudahlah, kita ini keluarga, Gong. Kamu perlu hati-hati. Aku ingatkan jangan sembrono. Itu yang pertama. Nah, yang kedua, kembali lah ke jalan yang benar.”

“Kamu bilang caraku salah?” bagong menyela.

“Jalan yang benar itu apa, yaitu yang sudah ditanamkan oleh bapak kita Semar. Ada nasi sepiring dimakan sepiring. Ada nasi dua piring, jangan lupa, ada yang lain yang mungkin tidak bisa punya nasi. Jangan semena-mena.”

“Waduh, aduh, malah dapat wejangan seperti anak kecil,” kata Bagong lagi.

“Nah, yang ketiga, ayo kita kumpul di acara keluarga. Dua minggu lagi, di rumah bapak!” kata Petruk.

Bagong nampak senang, akhirnya, ia bisa berwawancara secara terbuka di ajang keluarga. Ia tidak peduli dengan kata-kata Petruk, bahwa jalan yang benar itu sudah diperlihatkan oleh bapaknya yaitu Semar. Ia nampak yakin saja dengan angan-angannya, berhasil melobi Petruk membuat proyek bersama.

Sementara Petruk kembali sibuk dengan urusannya di kantor yang terletak di gedung tinggi di ibu kota. Anak buahnya bergantian menghadap kepadanya. Ia tak segan-segan berkata-kata sederhana. Kadang tangannya harus ekspresif ke sana ke mari. Dan hidungnya yang mancung kadang seperti mengganggunya bicara.

Di sela-sela menjelaskan itu, tidak jarang anak buahnya tertawa, berasa bebas. Namun tak jarang anak buahnya terlihat serius, bahkan takut untuk menyela, tidak yang muda, tidak yang tua, sama saja.

Petruk tidak berbeda dengan cerita-cerita tentang CEO perusahaan yang berhasil mengembangkan usahanya. Di salah satu sisi dinding ruangan kantornya, tampak terpajang beberapa foto yang memperlihatkan keberhasilannya di bidang perikanan laut. Ia sudah merambah tambak udang. Dari awal yang hanya menjadi pengedar ikan segar ke pedagang pasar, ia berkembang menjadi petambak udang.

Jaman sepertinya membuatnya beruntung. Ikan yang semula berharga tinggi menjadi mudah didapatkannya dan dijual dengan laba yang bisa membuatnya bertahan di tengah gejolak saat itu.

Tak jarang Petruk dengan santainya berjoged, menari di kantornya, entah menjelang siang, entah menjelang malam. Yang jelas Petruk berjoged sudah bukanlah hal yang menjadi pantangan untuk ditonton oleh anak buahnya. Seringkali anak buahnya harus menunggu Petruk selesai berjoged untuk minta tanda tangan.  Dengan iringan gending Jawa yang kental terdengar di telinganya. Tangannya satu santai terangkat di depan wajahnya, dan yang satu menjuntai seperti menjadi ekor, bergoyangan. Sedangkan satu kaki sedikit terangkat, lutut ditekuk, dan yang lain menjadi tumpuan tubuhnya. Dan kepalanya bergoyang ke kiri ke kanan, dengan irama yang sudah menancap hapal di kepalanya. Ia membalik posisi, berkebalikan, dan kepalanya masih bergoyangan santai. Kadang menghentak mengikuti suara kendang yang tiba-tiba mengeras.

Kantornya yang luas sepertinya disengaja supaya bisa membuatnya leluasa menari. Dan sound system yang mewah, sepertinya membuatnya lebih asyik menari. Ia berhenti bersandar di mejanya, dan mencermati hapenya dengan memegang dan beberapa kali memencetnya. Tak lama kemudian ia menelepon.

“Rina, sudah selesai pekerjaan kamu,” ia bertanya.

“Belum, pak!” kata Rina membalas.

“Lho, cepat selesaikan, sekarang juga. Ke kantor saya,” katanya sambil menutup telepon.

Ia mengecilkan volume sound sistem, dan mengecek berkas-berkas tulisan di mejanya. Ia serius sekali membolak-balik, membacanya. Dan sesekali ia mencorat-coret di buku itu.

Masuklah ke kantornya seorang perempuan cantik dan muda. Dengan mata yang berbinar-binar ia menghadap kepada Petruk.

“Pak, rencana bapak mengembangkan kerajinan sepertinya sangat terbuka. Kalau bapak mau kita bisa siapkan,” katanya setelah duduk di depan Petruk.

“Ya, rasanya, aku kira begitu. Tempat bisa kalian siapkan, dokumen-dokumen, tolong ya,” kata Petruk.

“Ya, pak,” kata perempuan itu.

“Nanti jam empat kita sambung lagi ya,” kata Petruk.

Menjelang jam empat, ia mulai memutar lagu gending jawa. Volumenya cukup besar. Dan ia mulai menari, berjoget, dengan mengangkat satu kaki setengah dan merentangkan tangan seperti sedang memainkan selendang yang tersampir di lehernya. Kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri, kadang kakinya bergerak menggeser tubuhnya yang jangkung, ke depan, ke belakang, dengan tangan yang bergoyang memutar dari sikunya. .

Satu tangannya bergoyangan dengan memutar di pergelangan tangan dan di sikunya, seakan menarikan selendang yang dipegang jari-jarinya yang lincah mengikuti arah pergelangannya. Ia hanya menumpu di satu kaki yaitu kaki kirinya, sehingga kaki kanannya dengan mudah naik turun. Satu tangan yang lain memegang pinggangnya dengan santai tertekuk di siku dengan telapak sedikit mengatup. Kepalanya mengikuti gerakan tangan yang seolah-olah memegang selendang, santai, berirama, dengan musik yang bertempo sedang. Ia begitu menikmati. Kadang ia membungkuk menumpu pada lutut, dengan kepala menggeleng ke kanan ke kiri mengikuti hentakan kendang, dengan tangan naik turun bergantian satu dengan yang lain sesuai dengan gerakan kepalanya. Kadang ia mengangkat satu kaki tinggi-tinggi, menekuknya, dengan wajah yang menoleh ke arah kaki tersebut, dan menurunkan kakinya dengan gerakan yang gagah, dan segera berbalik dengan ganti menarik kakinya yang lain dengan gerakan serupa.

Cukup lama ia menarikan gerakan-gerakan yang sangat bervariasi dari kaki, lutut, lengan dan tangannya serta kepalanya. Bahkan ia lagi-lagi seperti sedikit melompat mengikuti hentakan irama dari musik gending yang diputarnya. Hingga setelah cukup lama, gendingnya berakhir dan ia berhenti menari.

Terlihat ia lega dengan tariannya, dengan napasnya yang sedikit memburu dan keringat yang terlihat membasahi wajahnya. Ia segera beranjak ke arah mejanya, mengambil tisu dan mengelap wajahnya dengan tangan kirinya, sembari serius mencermati hape yang dipegang tangan kanannya. Ia serius sekali dan setelah beberapa kali menyentuhnya, ia mulai menikmati musik yang terdengar. Kepalanya mulai menggeleng-geleng seperti anak muda yang menarikan musik hiphop saja. Tangannya seperti tak disadari sudah bergerak santai, seperti menghitung ketukan lagu dengan santai memukul meja.ia terlihat menikmati pilihan lagunya, dan menaruh handphone nya.

Dan kemudian terdengarlah dari handphonenya musik gending yang serupa benar dengan musiknya yang pertama tadi, hanya yang sekarang berirama lebih cepat. Tangannya segera terangkat sedangkan yang satunya ditariknya ke belakang di sebelah pinggulnya dan ia bergeleng-geleng tanpa irama. Wajahnya sangat gembira. Tubuhnya memutar dengan tumpuan satu kaki karena satu yang lain sedikit terangkat. Satu telunjuknya menunjuk ke atas kepalanya dan berputar-putar santai mengikuti putaran tubuhnya.

Ia berhenti tiba-tiba, sementara musiknya masih mengalun kencang, rancak. Dengan santai ia mengambil telepon di mejanya,dan memencet beberapa nomor.

“Ya, jam berapa, ya, sekarang?” tanyanya di telepon.

“Ok. Suruh Yoyok, Putri dan Paulus ke saya, ya, sekarang. Oh, jangan lupa si Jeni. Kumpul sekarang!” ia sudah menaruh teleponnya dan segera menari lagi, dengan gerakannya tadi, yang segera disusul dengan gerakan yang lain, seakan seenaknya sendiri.

“Ya masuk,” teriaknya setelah mendengar pintunya diketuk.

Seketika masuklah mereka yang dipanggilnya tadi. Mereka tampak tidak terlalu suka. Wajah mereka tidak gembira sama sekali, bahkan seperti cemberut.

“Ayo, olahraga,” kata Petruk, “seperti biasa.”

Mereka terlihat canggung melihat Petruk tetap menari.

“Seperti biasa. Kalau tidak cepat, tambah lagu lagi nanti,” kata Petruk membalas kecanggungan mereka.

“Ayo, Putri, biar badanmu semakin aduhai,” kata Petruk sembari menarik tangan si Putri dan membawanya menari mengikuti gayanya, berhadap-hadapan. Tangan Putri terpaksa mengikuti gerakan tangan Petruk yang terentang, dengan tubuh yang sedikit turun menumpu pada siku kaki yang membuka lebar. Sedangkan tubuhnya bergoyang ke kanan, dan ke kiri bolak balik.

“Senyum Putri,” kata Petruk dengan senyum yang ceria, tak peduli dengan kesulitan Putri meniru gerakannya.

“Yang lain, cepat baris, seperti biasa. Aduh enak sekali, ini. Menari, olah raga, sehat. Dan pikiran terbuka,” katanya sambil bergerak bebas, dengan tangan, kaki, kepala, dan langkah-langkahnya, bahkan kadang sedikit melompat setelah berjalan cepat.

“Satu lagu lagi, lebih semangat,” katanya lagi.

Mereka semakin mengikuti keinginan Petruk. Petruk sepertinya tahu keenggganan mereka. Sehingga beberapa musik gending dengan irama yang serupa telah ia mainkan. Wajah Petruk pun juga telah bersimbah peluh. Napasnya sedikit tersengal. Begitu juga dengan anak buahnya. Mereka segera memilih duduk karena sudah tidak berdaya melawan lelahnya.

“Sudah saya bilang, besok lagi, tidak usah merokok,” katanya memandangi semua anak buahnya satu per satu.

“Hei, Putri, duduk di sini dulu.” Kata Petruk melihat Putri yang beranjak pergi.

“Masih ada pekerjaan, Pak,” kata si Putri.

“Lho, kamu kira saya tidak ada pekerjaan? Begitu?” kata Petruk.

Petruk kembali ke mejanya dan duduk dengan tenang dan kembali dengan asyik mencermati handphonenya.

“Putri, minumnya ambil sendiri-sendiri. Saya ambilkan satu, atau, dua juga boleh” kata Petruk sambil mengatur napasnya.

Dan anak buahnya segera minum air putih di botol yang diambil Putri dan Jeni. Mereka tampak lelah, dengan napas yang belum teratur. Petruk pun menikmati minumnya sambil serius masih mencermati handphonenya, seakan masih mencari-cari.

“Sudah segar, kan? Sudah saya bilang tidak usah merokok. Yang Putri, Jeni masih juga tidak bisa diberi tahu,” kata Petruk menyela dengan nada lambat.

“Pikirannya sudah segar belum?” tanya Petruk, “gampang, kan, membuat pikiran segar?”

“Kalau belum, aku putarkan lagi, dua atau tiga lagu,” kata Petruk, yang membuat anak buahnya hampir serentak, dengan kata-katanya masing-masing menjawab, “Sudah Pak, Jangan Pak, Cukup Pak.”

“Nanti, dua minggu lagi, siapkan waktu kalian, ya, melihat tanah di tempat saya,” kata Petruk.

“Semua pak?” kata Joko.

“Lho, iya,” kata Petruk.

“Mau dipakai buat apa pak?” tanya Jeni.

“Ya, nanti kamu, kalian lihat, terus kalian bicarakan, mau diapakai buat apa bagusnya.” Kata Petruk.

“Pak, snacknya pak,” kata Putri membawa nampan berisi makanan kecil yang disuguhkan pada Petruk dan teman-temannya.

“Lha, pantas tidak bisa turun berat badannya. Menari lima menit, ditambal kalori banyak sekali,” Petruk berkomentar.

“Biar semangat berolah raga, Pak!” kata mereka.

Dua minggu kemudian mereka melakukan perjalanan ke kampung Petruk.

Malam hari mereka sampai di sana. Mereka bertemu dengan Petruk yang sudah lebih dulu sampai. Mereka berkomentar, bahwa perjalanan mereka sangat jauh, seharian, membuat capek. Tetapi Petruk dengan santainya menanggapi bahwa yang namanya liburan pasti jauh, pasti capek.

Rupanya di kampung, mereka melihat Petruk bergabung dengan Bagong dan Semar dan Gareng mengadakan pergelaran wayang. Petruk dan keluarganya menjadi bagian dari satu pertunjukkan wayang. Di sanalah Petruk menarikan gerakan-gerakan di kantornya. Hanya kali ini bersama dengan Bagong dan Gareng.

Mereka melihat Petruk yang menarikan gerakan hampir sama dengan gerakan di kantor itu. Dan setelah mereka selesai, mereka bertemu dengan Bagong di tempat angkringan. Setelah mereka berbincang-bincang, Bagong tampak gelisah, menunggu Petruk.

“Bosmu mana?” Bagong bertanya.

“Katanya sedang ke sini, Pak,” kata Jeni.

“Memangnya perjalanan ke sini berapa lama, sih? Apa iya bannya bocor? Setelah bocor, perutnya sakit? Setelah sembuh, mobilnya mogok?” kata Bagong.

Mereka terkejut mendengar celoteh Bagong yang sepertinya meluapkan kekesalannya.

“Halo, Truk, ini kamu ditanyakan kabarnya sama Mas Karyo., kok, tidak kelihatan batang hidung dan lembaran-lembaran uangnya?” kata Bagong menelepon Petruk dengan handphonenya.

“Waduh Gong, kepalaku mendadak sakit, pusing sekali. Jangankan buat berjalan, buat bicara saja susah. Aduh,” kata Petruk.

“Apa? Terus kita punya janji berbicara mengenai proyek itu, bagaimana? Masa iya, saya menghadapi anak-anak kecil seperti mereka?” Bagong kebingungan dan berbicara dengan nada keras.

Anak buah Petruk hanya bisa kebingungan melihatnya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi.

Dan di pendopo rumah Semar, Petruk sedang dipijit oleh Gareng ketika Bagong tiba di sana. Bagong berbicara lantang.

“Orang ditunggu di angkringan, malah ditemani bocah-bocah kemarin sore. Ini malah pijitan? Kok, enak sekali?” kata Bagong.

Petruk mempersilakan Bagong untuk duduk dan tenang, dan minum jahe wangi yang sudah disiapkan Gareng.

“Ya, sudah, kamu mau bahas silakan bicara di sini.”

Dan mereka berbicara sembari menunggu Petruk yang dipijit.

“Truk, kamu ini bagaimana, to? Ini uang besar, peluang, kok masih juga tidak setuju. Aku sudah luangkan waktu datang ke sini, ternyata malah ketemu anak-anak kecil macam mereka. Maksud kamu apa?” kata bagong pada Petruk yang masih memejamkan mata.

“Aku sudah bilang tidak mau Gong. Aku mau seperti dulu saja, jalan lurus saja. Tidak perlu manuver seperti kamu. Nanti kalau aku manuver kurang canggih, malah terguling. Celaka. Padahal, ya, anak-anak itu, yang kamu temui itu, punya masa depan, Gong!”

“Iya, Gong, benar itu!” kata Gareng menimpali, sambil menunjuk gelas jahenya.

“Aku tidak mau minum jahe. Kampung sekali. Saya harus punya sense kota, taste kota. Kalau sense dan taste kota saya hilang, nanti saya jadi orang kampung lagi. Bosan saya,” kata Bagong kepada Gareng.

“Masa depan mereka urusan mereka. Untuk apa kita ikut campur? Tidak jelas,” kata Bagong menyanggah Petruk.

“Gong, keputusanku itu sudah finis. Selesai. Tidak. Kalau sekarang kamu membawa-bawa anak-anak muda itu, itu beda masalah,” kata Petruk.

“Hah, makin mumet saya! Mumet! Jauh-jauh tidak dapat apa-apa begini. Mumet!” kata Bagong sambil meminum jahe, cepat-cepat.

“Ini jahe kok panas amat to Reng?” kata Bagong

“Katamu tadi tidak mau, takut balik jadi kampungan lagi,” kata Gareng.

“Lha, daripada tidak mendapat apa-apa,” kata Bagong.

“Kamu dari dulu, ya begitu, tetap saja seperti itu,” kata Gareng setengah berteriak kepada Bagong yang sudah beranjak pergi.

“Aku mau mencari duit lagi. Tidak ada apa-apa di sini!” kata Bagong dari depan rumah.

Setelah Bagong pergi, Petruk segera terbangun dan ganti memarahi Gareng karena pijitan Gareng tidak enak, tidak terasa sama sekali.

“Lho, kamu ini bagaimana, to, Truk? Kata kamu aku akting saja, pura-puranya. Aku kan ikut kata kamu,” kata Gareng menyanggah.

“Ya, kalau bisa terasa enak, kenapa tidak?” kata Petruk, “Sekali merengkuh dayung, tiga pulau terlampaui.”

“O, kamu ini tidak ada bedanya dengan Bagong. Terus tanah di sebelah pendopo bagaiamana pembicaraannya?”

Petruk menjelaskan tanah itu menurut pemikirannya, akan dia gunakan untuk fasilitas olah raga, terutama anak-anak muda yang jangkung-jangkung seperti Petruk, yaitu bola voli. Karena orang tua sudah mendapat pendopo, jadi giliran anak muda sekarang mendapat lapangan olah raga.

“Nah, bicarakan sama anak-anak itu,” kata Petruk, “semua, termasuk harga, dan rencana dipakainya.”

“Waduh, jadi nasibku sama dengan Bagong, ketemu anak-anak juga?” tanya Gareng.

“Karena aku besok kembali ke ibu kota lagi. Setelah bagong berangkat, aku menyusul. Dia pikir saya masih di sini. Nanti di sana saya bilang saya masih di sini. Pokoknya selama anak-anak itu masih di sini, ya, berarti seolah-olah saya di sini. Haha, begitu!” kata Petruk

“Sama saja dengan Bagong,” kata gareng.

Karena Bagong pasti masih mengejar-ngejar ini nanti. Mana dia mau berhenti? Harus lebih pinter dari si Bagong!” kata Petruk.

Iklan

Pertemuan

–     ketika tokoh cerita jatuh cinta pada penulisnya     –

Aku sangat ingin bertemu dengannya, benar-benar ingin; karena kagum, karena ia seperti teka-teki bagiku. Aku perkirakan, pikirkan; dia cantik, dengan hidung seperti hidung Julia Robert, meskipun hanya ujungnya saja; pasti tidak mancung, tetapi berujung lancip seperti itu tadi, Julia Robert. Rambutnya; panjang sebahu cukup, bahkan kurang pun tidak apa, dan tidak perlu lurus seperti rambut para putri yang berlomba mendapatkan mahkota kecantikan, atau foto dengan rambut panjang dan lurus yang ditempel di bungkus sampo.

Cerita yang ditulisnya bagiku memikat; meskipun tak pernah bertemu, meskipun aku hanya bisa menduga, merasa. Aku hidup, meskipun hanya di tulisannya, cerita-ceritanya saja, yang kadang seperti siksaan; karena dia menempatkan aku sesuai keinginan dia, terserah dia, suka-suka dia. Sudah menjadi nasibku, menjadi seorang tokoh di dalam cerita yang hidup di dalam pikiran dan cerita penulisnya. Namun semua itu membuat aku sangat ingin bertemu. Olehnya aku hidup, juga hidup, persis seperti dia yang menulis. Hidup di dalam ceritanya membuat aku juga punya keinginan, punya rasa. Dan yang aku takutkan apakah aku sudah jatuh cinta, untuknya, kepadanya, seperti cerita-cerita di karangannya?

Mungkin ia tak menyangka, tak pernah berpikir, sama sekali tak pernah, bahwa tokoh yang ditulisnya, di dalam ceritanya, ternyata mempunyai perasaan, dan hidup. Hidup yang semula hanya di pikirannya, ternyata berubah menjadi hidup yang sesungguhnya, meskipun hanya aku yang merasakannya. Aku merasakan dirinya menghipnotis, menarik perhatianku. Dan yang aku bisa lakukan; merindukannya, menginginkannya dalam satu pertemuan.

Aku menyukainya karena ia menulis bukan asal cerita, bukan asal-asalan; kadang aku ditulisnya berjalan di pesawahan dengan angin kencang, di antara padi yang hijau tua dengan cakrawala yang biru muda terang sejauh mata memandang. Aku tak menikmati pemandangan itu, tetapi aku hafal. Aku lebih jelas merasakan nafasku yang setengah tersengal, memburu satu rumah di seberang sungai di tepi pesawahan. Dari sana terlihat hehijauan pohon yang rindang berjajar-jajar mengikuti liukan sungai yang membatasi sawah dan kampung di seberang sungai.

Dan sampailah aku di rumah itu, yang dituliskannya sebagai rumah orang tuaku, dan bertemu Ragian yang menjadi adikku. Seorang yang lebih mendekati dengan perempuan yang wajahnya menempel di sampul sampo, meskipun ia berkulit coklat karena ia seorang gadis kampung. Aku yakin ia berbeda dengan gadis yang menulis cerita tentang aku.

IMG20170425102048

“Sudah pulang, Mas? Bawa buku baru, kan?” tanya adikku menanyakan pesanannya. Persis bulan sebelumnya ia minta dibawakan buku sastra, karena ia suka membacanya.

“Ya?” tanyaku seperti tak mendengar pertanyaannya, atau karena aku kurang suka ia menyambutku dengan tagihan daripada ucapan apa kabar.

Setelah menaruh tas di bilik kamarku, aku menyusul masuk ke dapur dan melihatnya menyeduh segelas besar teh, sementara aku kebingungan mencari makanan di balik tudung nasi di meja makan.

“Sabar sedikit, setengah jam lagi nasi dan lauk pauknya sudah matang. Sementara, teh hangat bisa mengurangi lapar,” katanya datar saja, sembari melihat wajahku kecewa.

“Jadi buku pesananku, bagaimana?” tanyanya lagi, tetap datar.

“Ayah belum pulang? Ibu?” aku menjawabnya dengan pertanyaan, masih dengan kegelisahan, kelaparan.

“Belum! Masih di pasar,” kata Ragi maklum, tak mendapati buku yang diharapkannya.

“Nasi dicepatkan matang. Setelah matang, cari bukumu di tasku, dan taruh buku yang dulu di tas. Besok aku kembali ke kampus!” kataku, dan dibalas tiba-tibandengan teriakan gembira sembari memburu tasku di kamar. Ia lebih peduli pada buku daripada memasak makananku.

Akhirnya aku mencari-cari makanan sendiri, dan memasak sendiri setelah melacak di kompor, penggorengan dan panci sayur. Aku sibuk sendiri, semampuku, memasak dengan cara yang paling mudah dan cepat matang dengan wajah serius sekali karena lapar, meskipun sebagian sudah terobati oleh minuman teh di gelas besar berkuping yang disiapkan Ragian.

“Bukumu masih dipinjam Anne,” kata Ragian tiba-tiba sudah berada di dapur. Ia sudah menenteng buku yang terbuka di tangannya, membacanya, lupa dengan masakan.

“Ya, sudah,” kataku tetap menggoreng tahu dan tempe, tidak terlalu peduli atau tidak tahu siapa Anne. Ragian sepertinya tidak peduli dengan jawabanku.

Kebingunganku oleh tahu dan tempe yang aku pikir matang sementara nasi belum, membuatku memilih minta bantuan Ragi.

“Ragi,” kataku pelan dengan mata memelas melihat dia asyik membaca,. Karena itu ia menaruh buku di meja dapur dan membantuku mencari nasi, entah matang entah belum. Dan sebentar kemudian dia sudah mendapatkan sepiring nasi setelah mencicipnya. Aku benar-benar tak yakin ia telah mencicipi nasi yang matang atau hampir matang. Nasi mengepulkan asap di piring, seperti berebut cepat melarikan diri dari gunungan nasi di piring. Sigap tangan Ragi, mengambil cabe, garam, tomat  dan entah apa lagi. Seperti gerimis deras, penggorengan mengirim suara dari cabe dan tomat yang digorengnya.

Setelah sejenak melihat buku yang dibacanya, aku lebih senang mengudap tahu sembari minum teh yang tinggal separuh. Dan Ragian sebentar kemudian telah menggerus cabe tadi di cobek, membubuinya dan sebentar kemudian menaruh sambel itu ke gunung nasiku, berteman dengan tahu dan tempe.

Aku dan Ragian seperti berganti peran; ia kembali dengan buku dan aku dengan nasi, sambal dan tempe tahu.

“Si Anne minta bertemu, diskusi mengenai buku Kartini yang dipinjamnya,” kata Ragi.

Aku terkesima dengan kata Ragi, sembari merasakan enaknya masakan sambal bercampur nasi yang setengah matang.

“Siapa Soe Hok Gie?” tanya Ragi lagi, juga tak aku jawab.

“Kalau mahasiswa harus membacanya?” tanya Ragi sekali lagi, sedangkan aku masih menikmati makananku.

“Kenapa mesti namanya Anne? Bukankah kita orang kampung? Orang kampung seharusnya bernama Ragian, Broto. Bukan Anne!” kataku membalas sambil mengunyah.

“Apa salahnya? Karena namanya Anne?” adikku kebingungan dengan wajahnya yang tetap polos.

“Kita orang kampung, Ra!” kataku memberi alasan.

“Kampung dan Anne menjadi masalah?”

“Mas, tolonglah, bertemu saja. Sudah berkali-kali dia menanyakan. Tetapi kamu tidak pernah mau menemui. Kalau kamu tidak suka, ya, tidak apa,” Ragi tak bisa menyelesaikan sanggahannya.

IMG20170425103809

Dan aku masih menikmati sambal dan goreng tempe dengan nasi putih panas yang sudah menjadi hangat. Beginilah orang kampung, makan hanya dengan sambal dan tahu tempe. Sebenar-benarnya orang kampung. Anne bukan orang kampung padahal dia di kampung. Itu alasanku saja; karena aku sedang memikirkan penulisku. Masih ada sambal, masih ada tempe, tetap saja aku makan, karena aku orang kampung. Alasan yang sangat tepat, meskipun ternyata membuat Ragian risau hati.

Tiba-tiba saja, aku sadar bukan Anne atau aku yang membuat Ragi risau. Tetapi karena Ragi sendiri sedang menyukai seseorang, dan takut orang itu tidak suka padanya, seperti Anne menyukai kakaknya, dan tak berbalas.

Akhirnya demi Ragi, aku bertemu dengan Anne, yang cantik, suka membaca, berambut sebahu dan mempunyai ujung hidung persis Julia Robert. Tetapi buatku dia bukan seorang penulis yang membuatku hidup. Kami hanya berbagi cerita, terutama tentang buku, tentang tokoh-tokoh dalam cerita; kadang kebodohan, buku yang sudah dibaca tetap saja dibaca. Kami senang dengan cerita yang terutama dari Anne dan Ragi.

Anne, buatku ia sempurna, malah terlalu sempurna; pipi yang bersih, jidat yang sedikit menggembung, gigi yang rapi, dan bibir yang setengah basah. Terlalu sempurna, alasan yang pasti tidak diterima Ragi lagi, yang aku buat-buat saja. Hanya karena aku memikirkan yang lain, yaitu penulisku saja.

Aku mellihat Ragi yang gembira. Tampaknya ia mempunyai harap, bahwa pertemuanku dengan Anne, kurang lebih sama antara pertemuannya dengan laki-laki yang menarik hatinya, entah besok sore, atau minggu depan, yang aku harap semoga tidak terlalu lama.

Tetapi yang pasti ia tidak tahu kalau aku tidak mau memikirkan orang lain, tetapi hanya penulisku saja.

Di hari lain dia menuliskanku lagi, menarikku ke cerita yang lain. Cerita yang ditulisnya, lagi-lagi, seenak dirinya sendiri.

Aku diceritakan hidup di satu kota dengan sungai yang lebar. Rumah-rumah, bangunan-bangunan yang berjajar rapi, menjadi keseharianku, mengemudikan perahu dari rumah ke kota, atau ke pasar, atau ke bundaran, atau alun-alun.

Kota yang ramai. Orang-orang setengah berteriak ketika berbicara antar perahu, dengan keakraban, dengan kegembiraan, yang seakan-akan, memang hidup di kota itu harus gembira. Dan perahu hilir mudik, bergantian. Seringkali penumpang perahu adalah orang-orang pendatang, yang berwisata, menikmati sungai, dan bangunan di sekitarnya. Sekali lagi, semua orang terlihat suka, bahagia. Banyak tawa di sungai itu. Pembicaraan seolah-olah dengan gampang terjadi antara orang yang baru dikenal.

“Broto, kamu longgar, kan? Mau menjemput penumpangku?”

“Hei, ada apa? Pulang lebih awal?” tanyaku membalas teriakan Simon.

“Mau tidak mau, aku harus bekerja setengah hari saja. Ada pertemuan keluarga istriku,” Simon menjelaskan dan mendekatkan perahunya pada perahuku.

“Dia ini wisatawan. Rombongan tetapi tidak banyak. Temui Kania saja. Bilang, aku tidak bisa, mendadak ada pertemuan.” Simon memberi penjelasan, membalas kebingunganku.

Dan sebentar kemudian aku sudah meluncur pelan ke tempat Kania di terminal perahu. Beberapa teman dengan perahunya berkumpul. Masing-masing sudah punya janji dengan agen masing-masing. Dari perahuku terlihat beberapa orang di tempat Kania. Dan aku mendekatkan perahuku.

“Broto, kau lihat Simon?” teriak Kania.

“O, ya, pasti,” jawabanku.

“Dimana dia? Kenapa dia tidak datang?”

“Dia wakilkan aku. Ada pertemuan dengan keluarganya, mendadak,” kataku pada Kania.

Kania menjelaskan maksudnya, dan memintaku mengantar wisatawan melewati kota, juga untuk menikmati pusat kuliner di dekat pasar.

“Sebentar kurang satu orang, masih di kamar mandi,” kata yang satu orang.

Rombongan itu lima orang, muda-muda, dua orang perempuan, dua orang laki-laki. Aku menyapa mereka, tersenyum ramah dengan rasa kegembiraan yang ada di kota itu.

“Anne, cepatlah!” kata yang satu orang.

Aku berangkat membawa mereka. Anne tidak banyak bicara, sepertinya pendiam, berbeda dengan teman-temannya. Ia malah mengeluarkan buku dari tasnya dan membukanya.

“Jangan kencang-kencang, Broto!” teriak Kania dengan kedua telapak tangan membungkus mulutnya membentuk corong.

“Buku ini pas ceritanya,” teriak Anne pada teman-temannya.

“O, ya? Tidak salah tempat kita, ya?” balas salah satu temannya.

“Anginnya, airnya, perahunya, bangunannya,” balas Anne.

“Ya, perahunya,” kata temannya melirik ke aku.

“Masukkan tangan ke air. Air sungai, rasakan dingin atau hangatnya,” kataku,”mestinya hangat, seperti suasana dan orang-orangnya.”

Anne dan teman-temannya mencelupkan tangan mereka dan merasakan gelombang air yang dibelah perahu kecilku. Wajah mereka memperlihatkan rasa penasaran. Kecantikan Anne mendebarkanku. Sempurna. Namun aku tidak berani memikirkan itu. Aku hanya ingin dia yang sederhana. Aku yakin penulisku sederhana wajahnya. Dia tidak cantik, tetapi cukup  membuatku suka.

Setelah perjalanan yang pertama, Anne memintaku mengantarkannya sekali lagi. Kali ini malam hari. Dan sekali lagi ia berkata memang persis seperti yang dikatakan di dalam buku, air yang berkilauan karena sinar lampu, lampu-lampu yang membayang di dalam air, dan cahaya-cahaya yang bertebaran mengikuti bangunan-bangunan yang berjajaran di samping kiri dan kanan sungai.

“Bagaimana kau bisa hidup di tempat seperti ini? Menyenangkan sekali,” kata Anne

“Tentu menyenangkan. Tetapi lebih enak kalian. Bisa bebas. Hidup di sini, ya, begini terus,” kataku lebih menjelaskan aku yang tak tahu dunia luar sama sekali.

“Ah, tetapi hidup seperti ini juga sudah cukup. Di pusat kuliner tadi bagus sekali. Orang-orang hampir semua tertawa, berteriak. Piring dan sendok, gelas, seperti ikut berbicara dengan bahasanya sendiri; teng tang ting tung, bersusulan. Dan suara api dan arang yang gemeretak, dan masakan yang memecah suasana dengan suaranya sendiri-sendiri,” kata Anne.

“Kata-katamu sepertinya baru aku dengar. Belum pernah ada orang mengatakan seperti itu!” kataku sambil menambatkan perahu.

“Aku akan tunggu di sini,”kataku membiarkannya pergi.

Aku diam di perahu, menyapa beberapa temanku yang masih mengantarkan wisatawan.

Aku diam saja berlama-lama di sana. Anne tidak kunjung kembali. Aku berniat menyusulnya di pasar seni. Tetapi aku tidak tahu mau kemana, apakah ke tempat rajutan, lukisan, batik? Pasar seni itu luas, cukup luas. Penulisku tidak menuliskan ceritanya. Ia berhenti. Apa yang terjadi? Aku harus diam terus? Anne bisa saja menonton pertunjukkan musik, pameran lukisan, merajut, batik, tembikar. Dan  aku bingung. Hanya duduk dan berdiri saja di atas perahu ini. Aku tidak mau diam saja.

Aku mencari Anne. Tempat pertama yang aku temui adalah pameran lukisan. Aku menduga Anne pasti senang melihat, mencermati lukisan yang dipamerkan di tempat ini. Mungkin malah ia minta dilukis oleh para pelukis di jalanan sana. Yang membuatku terkejut, satu lukisan memperlihatkan apa yang dikatakan Anne tadi di perahu, jelas sekali. Dan satu perahu tertambat di halte perahu dengan seorang berdiri di perahu itu, sementara seorang perempuan muda berjalan menjauhi perahu itu mulai menyusuri jalan, terlihat seperti Anne. Beberapa perahu yang lain bertebaran di sana-sini, yang kosong, yang sedang mengantar penumpang, dan yang menunggu sepertiku.

Pikiran tentang lukisan itu membuatku kembali ke perahu tak percaya dengan yang aku lihat. Semakin tak percaya karena di sungai itu masih ada beberapa perahu di sungai mengantarkan wisatawan. Aku celingukan, bingung. Aku ada dalam satu lukisan. Aku hidup di dalam lukisan. Anne, dimana Anne?

Kebingunganku seketika membuatku kembali melihat lukisan itu. Ya, memang lukisan. Dan aku semakin tak percaya, karena aku sudah berada di dalam satu ruangan yang aku tak tahu. Beberapa lukisan menempel di dinding. Aku cermati seperti di pameran tadi. Dan salah satunya ternyata lukisan seorang perempuan di dapur dengan suasana kampung dengan cobek di tangannya, dengan asap mengepul dari kompor minyak yang terlihat menanak nasi, dan seorang pemuda yang ternyata adalah diriku.

Aku hanya tokoh. Aku tidak hidup. Aku hanya hidup dalam lukisan saja. Aku tidak bisa menerima kenyataan itu. Aku bingung, terlalu bingung. Ada lukisan lagi di kamar itu, tetapi bukan aku lagi yang di sana. Mungkinkah lukisan alam itu juga harus aku lalui, sebagai tokoh manusia yang hidup, sebagai seseorang bernama Broto? Apakah akan bertemu Anne lagi di sana?IMG20170213152853

Dan lukisan Anne ada di ruangan itu juga. Hanya ia sendiri dan tampak wajah Anne saja. Dan lukisan yang lain, anak-anak muda berumur tidak jauh dari Anne, seorang laki-laki dan perempuan. Ada juga seorang laki-laki dan perempuan dewasa yang seumur serta Anne dan dua orang itu tadi.

Aku terduduk lemas di sofa panjang, yang empuk dan lembut sekali. Serasa berada di dalam perahu dan merasakan air yang diam tenang. Satu ruangan di sebelah ruangan itu tampak terang. Aku bergegas memeriksa ruangan itu, mengendap-endap dan juga masih dengan bingung dan bertanya-tanya.

Dan aku terkejut menemukan Anne di sana. Ia tertidur. Di sofa seperti di ruangan tadi dengan meja kaca yang lebih pendek, hanya separo tinggi meja Ragian. Ia benar-benar tertidur, pulas. Sementara laptopnya masih menyala. Aku mengamati Anne, dia memang Anne teman Ragian, juga Anne yang aku antar dengan perahuku tadi. Pipinya persis, dan memang itu ujung hidung Julia Robert. Apakah Anne adalah penulisku? Ia baru saja tertidur, sehingga aku harus diam di perahuku tadi?

Perlahan aku mengintip pekerjaan di laptopnya. Dan ternyata benar. Anne adalah penulisku. Aku tidak bisa menerimanya. Aku yang tidak suka dengan Anne teman Ragi, dan Anne yang sempurna di perahu itu, tetapi menemukan ia adalah penulisku, yang aku ingin temui.

Aku ingin mencintai dia yang memberiku cerita, memberiku hidup, pengalaman-pengalaman, rasa yang kadang tak bisa aku pahami. Tetapi mengapa ia adalah Anne? Ia berbeda, jauh berbeda dariku. Dia masih tidur di sana. Aku pikir dia terlalu sempurna,  dan aku pikir aku benar. Rambutnya, hidungnya, pipi, jidat, dan itu semua adalah Anne.

Aku terduduk di sofa itu, di depan Anne. Berpikir, apakah dia akan menjerit ketakutan kalau melihat aku di sini. Atau dia akan bingung juga, bagaimana aku bisa di sini? Aku sebaiknya pergi dari sini. Aku mau kembali ke dalam lukisan itu. Dan aku sudah memilih satu lukisan, untuk kembali.

Sebuah lukisan dengan begitu banyak orang di sana, hampir seperti pasar. Tempaknya itu bukan lukisan tetapi photo sebuah pameran, galeri seperti di pasar seni di kotaku itu. Biar Anne akan bercerita tentang pameran itu. Dan bagiku, sepertinya sama saja di sini atau di antara banyak orang itu, selama ada penulisku, yang membuatkanku, menuliskanku dalam sebuah cerita.

Mata yang Teduh

Gerimis mulai turun ketika aku baru saja keluar dari gedung itu. Sebentar kemudian rintik-rintik hujan makin membesar meski tak deras. Seperti yang lain, aku pun buka payung, berjalan beriringan bersama orang-orang yang mulai mempercepat langkah menuju halte bis di blok depan, menyusuri trotoar di depan bangunan-bangunan tinggi kota.


Aku menjadi diriku sendiri hari ini, melupakan masalah rumit dengan suami, meninggalkan rutinitas, mencoba melihat atau malah menikmati hal baru, yang beda, yang kurasa lebih dinikmati orang lain, melihat perempuan-perempuan bermata hitam lukisan Jeihan yang dipamerkan itu. Ya, aku memerdekakan diri, bahkan dari anak-anakku. Oke, aku minta maaf telah menelantarkan mereka.  Ah, tidak, sebentar lagi aku sudah ada di sisi mereka.

Kenapa tidak dari dulu-dulu aku mencobanya? Kemana aku dulu? Belajar teratur di masa muda, bekerja siang dan lelah di malam, bahkan Minggu pun hilang, diri dan keluarga jadi taruhan, mengukir karir kata orang?

Ah, apakah lebih indah, jika mata manusia tidak berwarna seperti di lukisan itu? Hitam saja! Mungkin saja. Ah, tidak bisa. Orang lebih suka dengan warna. Pelangi lebih menarik daripada gelap malam yang pekat. Atau, karena mata manusia berwarna dia juga suka warna? Lalu bagaimana kalau warna mata hanya hitam saja? Semua terlihat seragam? Tak ada warna? Tak ada pelangi? Tak ada warna lampu kota yang mulai menyala ini? Lalu apa yang dilihat oleh mata-mata gelap di lukisan itu seandainya ia hidup?

IMG20170714171548

                                                                                                                                    Bali sunset at jimbaran


Ah, ternyata nikmat juga, membebaskan pikiran, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dari apa yang terlihat, menarik ke sana ke mari entah penting atau tidak, berguna atau tidak. Bebas, biar saja, bebas! Aku ingin bebas kali ini, tidak dihimpit masalah. Biar masalahku dibawa oleh mata-mata hitam itu. Diriku, inilah dia yang baru saja mencuci diri.

Ciiiitttt, derit gesekan benda aku dengar tiba-tiba. Ya, Tuhan! Aku telah berada di jalan, di garis putih penyeberangan. Mobil itu dekat sekali. Ia bergerak lambat, mencicit membentuk gema panjang di telingaku, menyerong, memutar selip. Ia mengerem menghindari menabrakku.

“Ya, Tuhan! Aku ketabrak! Tetapi kenapa semua menjadi lambat? Aku ingin berlari, tetapi kenapa kakiku terasa berat sekali. O, tidak, aku  tak bisa menghindar,” hatiku menjerit.

Bruk, keras sekali, mobil itu menghantamku yang hanya bisa sedikit mengelak. Payung itu menghancur karena aku gunakan menahan benturan. Aku terpelanting ke udara. Sopir itu ketakutan sekali. Gema derit suara mobilnya tak berhenti. “Ah, kau wanita juga?” Ia menutup mata rapat-rapat, mengatup sampai lipatan-lipatan kulit matanya terlihat. Ia makin mengencangkan matanya. Aku melihat lipatan itu bergerak, merapat dan merapat, hingga kepalanya terbentur setir.

Aku menyadari kakiku yang terentang, mulai terangkat ke atas, membalik badan dan kepalaku ke bawah, sementara satu tanganku terjuntai ke depan bawah dan yang lain ke belakang. Tubuhku bergerak bersama dengan mobil yang lambat tak berhenti.

Sekejap, aku teringat anak-anakku. Mereka terlihat seperti gambar-gambar, tertawa, menangis, bermain, berlarian. Dan karenanya, aku merasa mulai menangis, menangisi diriku sendiri, tak tahu akan menjadi apa.

Orang-orang di pinggir jalan, ketakutan, terkejut, tak mengira, melihat badanku yang mulai terangkat tak berdaya. Ada yang mulai menggerakkan, mengangkat kedua tangannya mau menutup muka. Bibir mereka perlahan mulai membuka mengucap kata, “T-i-d-a-k-!” Aku mendengar banyak dari mereka meneriakkan kata itu bercampur dengan “A-w-a-s.” Aku mendengar setiap hurufnya, membentuk gema panjang bersusulan di telingaku. Ada yang terduduk lemas, kakinya seperti tak kuat menahan badannya, melesu, perlahan turun sementara tangannya ditarik ke atas ke arah kepala. Ada yang badannya menyorong ke depan, mulai berlari? Menolong? Mereka seketika terkejut, seketika menyesalkan kejadian yang menimpaku.

Hujan aku rasakan menitik satu per satu di kulit muka dan tanganku yang tak tertutup baju. Seperti hujan yang tak deras, tetapi menitik cepat banyak di sana sini bergantian kadang bersamaan. Angin yang datang bersama hujan memanjakan aku dengan tiupan yang bergerak halus.

Mobil itu berhenti, serong. Hanya aku, hanya aku yang melayang, melayang di atas mobil itu. Sementara, tanganku tergerak menjulur meraih mobil  yang aku lihat dekat, namun tak juga segera sampai. Pengemudi wanita itu pelan sekali membuka matanya, terlihat dari keningnya mengalir  darah, sembari mulai mengangkat wajah.

Semua melambat. Napasku aku rasakan seperti aliran air yang membasahi leher dan kemudian lambat terasa menjalar ke seluruh tubuh.

Bayangan itu berkelebat cepat di antara semua yang melambat, tertangkap oleh mataku tiba-tiba. Hanya ia yang bergerak cepat. Tadi sekejap aku lihat samar-samar ia ada di ujung sana, tetapi sekarang sudah ada di sini. Ia bergerak seperti menyibak kabut. Setiap gerakannya menimbulkan guratan-guratan udara yang bergerak ke belakang tubuhnya.  Kenapa ia berbeda?

“Hai dimana kau? Lihat, aku ingin melihatmu!” hatiku menjerit ketika ia menghilang.

Ia memberiku kesadaran akan udara yang mengalir deras sekali pada napas yang aku hirup. Ah, napasku? Dimana ia? Kenapa aku jarang sekali menarik napasku? Sejak terpelanting dan kemudian melayang tadi aku baru merasakan satu aliran yang membasahi leherku. Ah, ini dia, aku mengisap udara. Kenapa lama sekali, aku mengisapnya lama sekali? Udara itu terasa menyentuh rambut dan kulit di dalam hidungku.

“Hai! ” Aku melihat bayangan itu kembali!

Ia ada di sisi kanan mobil di antara orang-orang itu. Diam, ia diam berdiri saja dengan tubuh yang santai, tak seperti yang lainnya. Ia menarik pandanganku ke matanya. Mata yang teduh, teduh sekali. Ia memandangku, aku memandangnya. Ia tersenyum dan seketika membuatku tersenyum juga. Aku tak bisa melepaskan pandanganku dari matanya. Mata yang teduh, seperti ada lubang yang dalam sekali di sana, atau jalan yang panjang sekali tak berujung, yang lebar, lebar sekali.

“Boleh aku masuk?” hatiku bertanya setelah merasakan ia memanggilku masuk ke dalam matanya. Udara di sekitarku mulai bergerak ke belakangku. Aku merasakan mata itu menarikku, membawaku masuk ke dalamnya, cepat sekali melebihi pikiran-pikiranku yang silih berganti dan hatiku yang bersuara ini dan itu.

Tiba-tiba aku sudah berada di kegelapan yang luas sekali. Aku bisa merasakannya, dan juga tak bisa percaya, tak terbayang, tak pernah terbayang. Hanya aku, hanya aku di sana. Mata itu, aku di dalam mata itu? Jalan yang lebar dan panjang itu tak ada di sana. Lubang dalam itu pun tak ada. Tak ada apa-apa. Hanya aku dan hitam gelap yang tak tersentuh.

Melayang, aku melayang, tak ada tempat pijak, tak ada langit, tak ada dinding, tak terbatas. Udara seperti pekat menyelimuti, seperti di dalam air yang hitam, tetapi air itu adalah udara; seperti selimut, yang menyentuh seluruh kulitku, sutra lembut, menarik mengulur, memanjang memendek, menurut dan mengikuti gerakanku.

Aku merasakannya dari seluruh kulitku, seperti memegangiku, tetapi dibiarkan bebas juga. Mungkin aku adalah kelinci di padang rumput, makan sepuasku, berlari ke sana ke mari tak takut, karena ada harimau-harimau di sekelilingku yang menjaga. Aneh, aku merasa aneh. Ya, aku ada di lautan sutra lembut yang membuatku nyaman meskipun gelap, seperti terlindungi dari bahaya segala bahaya, membuatku merasa bebas.

Kemudian aku mulai menggerakkan diri perlahan, memutar, meliuk, menari, melebihi lumba-lumba. Aku menikmatinya. Sesuatu di dalam diriku mendorongku untuk meluncur, membalik, makin cepat. Aku bergerak, bebas. Aku mengikuti dorongan di dalam diriku sendiri, terus dan terus.

Lalu tiba-tiba kegelapan itu menjadi terang, putih, cerah, tak ada rasa panas tetapi kesejukan. Cahaya itu membuat sejuk. Sejenak aku terdiam. Inilah ketakterbatasan tadi; tak ada dinding, langit-langit, atau lantai. Lalu aku bergerak lagi, berputar dan semuanya aku lakukan. Aku bebas.

Ada, terlihat, titik-titik cahaya seperti matahari. Ia jauh ada di sana, beberapa tersebar. Sambil terus bergerak, aku mencermati mereka. Lalu ada satu yang mendekat. Aneh lagi, terang yang dipancarkannya tak berubah ketika ia jauh dan ketika dekat. Ia mendekat terus, bulat seperti bandul bertali mainan anak-anak. Aku terdiam lagi terpana olehnya, berpikir, “Apakah ini?”  Ia makin mendekat cepat, dan aku mencoba menangkapnya. “Hah?” aku terkejut, berteriak sendiri. Ia tak berasa. Aku tak dapat menyentuhnya. Ia menjauh cepat sekali. Bandul cahaya yang lain ada yang mendekat tetapi aku tak dapat menjangkaunya.

Aku terdiam.

Kemudian dorongan di dalam diriku yang mengajakku bergerak bebas, mengajakku, “Dekati cahaya itu!” dan sekejap kemudian aku sudah berada di dekat cahaya itu. Namun cahaya itu secepat kilat telah menjauh. Aku terheran-heran. Aku berpikir untuk mendekati cahaya yang lain, dan seketika aku telah ada di sana. “Hah? Bagaimana bisa?”

Namun, cahaya itu telah jauh ketika keterkejutanku belum hilang. Ia menjauh begitu aku ada di dekatnya. Aku berpikir cepat mendekatinya, begitu aku melihat dan pasti aku berada di dekatnya. Lalu cahaya itu pasti menjauh saat itu juga. Aku seperti berkejar-kejaran dengan banyak cahaya itu, cepat sekali. Aku heran, terkejut, bingung. Tetapi makin lama aku hanya ingin menikmatinya saja; berpikir di sini maka di sini, berpikir di sana maka di sana. Diriku masih ingin ke sana ke mari, bergerak bebas. Semuanya menyejukkan, membuatku tenang, senang, ke sana, ke mari, cepat sekali, bebas sekali.

Perlahan-lahan aku mulai merasakan, ada yang lain di tempat ini. Aku tidak sendiri. Aku di sini, sementara ia di sana. Aku merasakannya, “Itu dia!” Mataku menangkap bayangannya. Seketika aku sudah berada di tempatnya, namun ia sudah tak ada. Lalu, “Di sana!” dan tubuhku bergerak ke sana. Namun ia sudah tak ada lagi. Terus dan terus aku dan dia berkejaran.

Hingga aku terdiam dan melihatnya saja. Bayangan itu di sana, menari bebas. Dari jauh, aku mulai mengikuti gerakannya. Ia meliuk aku meliuk. Ia meluncur ke atas, aku meluncur ke atas. Ia berputar, aku berputar. Sampai aku merasa mulai mendekatinya dan semakin dekat, sampai aku berada di sisinya, di sampingnya dekat sekali. Ia dan diriku bergerak dengan gerakan yang sama.

Mengejutkan, aneh, wajahnya sama dengan wajahku. Tubuhnya sama dengan tubuhku. Rambutnya yang terurai mengikuti gerakannya, sama dengan rambutku. Ia tersenyum dan aku tersenyum.

IMG20170714214531

                                                                                                                                           Orchid at Ngurah Rai

Ia seperti tersadar, tahu, aku telah mengukur dirinya dengan diriku. Perlahan, diriku dan dirinya makin dekat, dekat dan dekat sekali, merapat, hingga, “Ah…!” Aku berteriak keras-keras, tersentak, mengejang. Ia yang merapat, menghilang dan masuk ke dalam diriku. Dan aku tersentak, terkejut. Ia yang seukuran denganku seperti telah mendesak sebagian dari diriku dengan dirinya.

“Ah!” aku masih berteriak, panjang, tak tahan. Tubuhku membalik, berjumpalitan, berputar hebat, di sini, di sana, bergerak teramat cepat, tak berhenti.

Lalu seketika aku melihat mata yang teduh itu menatapku, tersenyum kecil, mengejutkanku, “Ia?”

Sekejap kemudian aku merasakan tubuhku yang miring tak karuan, mulai merasakan tanganku bersentuhan dengan benda keras dan kasar. Aspal jalan, aku melirik ke aspal jalan itu. “Tanganku!” pikirku. Satu tanganku telah menyangga tubuhku pada aspal dengan tenaga semampunya. Sementara kakiku, aku melirik ia ada di atas. Aku terjungkir, miring.

Orang-orang itu belum beranjak dari tempatnya masing-masing, masih seperti tadi. Ada yang mulutnya menganga, ada yang mulai lemas terduduk, menutup muka, tak tega, memegang kepala dengan dua tangannya. Ada yang badannya menyorong seakan mulai berlari ke arahku. Tujuh hingga delapan langkah lagi ia sampai di tempatku ini. Sementara pengemudi wanita itu membalikkan wajahnya ke arah depan, ke arahku, tangannya seperti membuka pintu mobilnya.

Sebentar kemudian, bruk, tubuhku menyentuh aspal, tangan, bahu, kepala dan kemudian badan serta kakiku. Tubuhku miring, dan sebentar kemudian terguling dan terlentang. Orang-orang itu mengejarku.

“Cepat tolong aku!” terasa lama sekali mereka baru sampai di tempatku jatuh. Mereka memegangiku; kaki, tangan, kepala, lalu leher.

“Masih hidup!” salah satunya berteriak.

“Iya tentu saja!” aku masih menyahut tetapi tampaknya tak mereka dengar.

“Cepat, telepon ambulan! Cepat!” entah ia, siapa, keras berteriak pada siapa.

Wanita itu berjalan ke arah kemudinya dan membuka pintu belakang.

Mata yang teduh itu? Aku mencarinya. Dan ternyata, ia masih berdiri di sana, dengan mata yang aku lihat sesungguhnya mampu memuat bumi dan segala isinya ini. Aku tersenyum kepadanya.

“Cepat!” teriak satu orang pria yang menggendongku di bagian kepala.

***

“Syukurlah Rin! Kamu sudah siuman!” kata-kata pertama ibu, menggangguku yang mengingat rangkaian gambar di kepalaku yang seingatku belum lama aku alami. Gambar-gambar itu, di dalam mata yang teduh itu. Apakah ingatanku akan kejadian itu karena mata itu juga?

Anak-anakku, samar terdengar memasuki ruang tempatku dirawat. Satu orang berdiri di sampingku, dan adiknya dipangkuan ibuku.

“Hai?” kata-kataku lemah, tanpa bisa bergerak, mungkin tak terdengar, terbata-bata, “masih rajin belajar, kan?”

“Iya!”

“Iya!”

“Sudahlah, Rin! Sembuhlah dulu” mereka bertiga saling melempariku dengan kata-kata, bersautan.

“Ibu sudah baikan, ya?” kata si kecil.

Aku melihat mereka. Aku menikmati pandangannya.

“Syukurlah!” kata ibuku dengan matanya.