Mata yang Teduh

Gerimis mulai turun ketika aku baru saja keluar dari gedung itu. Sebentar kemudian rintik-rintik hujan makin membesar meski tak deras. Seperti yang lain, aku pun buka payung, berjalan beriringan bersama orang-orang yang mulai mempercepat langkah menuju halte bis di blok depan, menyusuri trotoar di depan bangunan-bangunan tinggi kota.


Aku menjadi diriku sendiri hari ini, melupakan masalah rumit dengan suami, meninggalkan rutinitas, mencoba melihat atau malah menikmati hal baru, yang beda, yang kurasa lebih dinikmati orang lain, melihat perempuan-perempuan bermata hitam lukisan Jeihan yang dipamerkan itu. Ya, aku memerdekakan diri, bahkan dari anak-anakku. Oke, aku minta maaf telah menelantarkan mereka.  Ah, tidak, sebentar lagi aku sudah ada di sisi mereka.

Kenapa tidak dari dulu-dulu aku mencobanya? Kemana aku dulu? Belajar teratur di masa muda, bekerja siang dan lelah di malam, bahkan Minggu pun hilang, diri dan keluarga jadi taruhan, mengukir karir kata orang?

Ah, apakah lebih indah, jika mata manusia tidak berwarna seperti di lukisan itu? Hitam saja! Mungkin saja. Ah, tidak bisa. Orang lebih suka dengan warna. Pelangi lebih menarik daripada gelap malam yang pekat. Atau, karena mata manusia berwarna dia juga suka warna? Lalu bagaimana kalau warna mata hanya hitam saja? Semua terlihat seragam? Tak ada warna? Tak ada pelangi? Tak ada warna lampu kota yang mulai menyala ini? Lalu apa yang dilihat oleh mata-mata gelap di lukisan itu seandainya ia hidup?

IMG20170714171548

                                                                                                                                    Bali sunset at jimbaran


Ah, ternyata nikmat juga, membebaskan pikiran, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dari apa yang terlihat, menarik ke sana ke mari entah penting atau tidak, berguna atau tidak. Bebas, biar saja, bebas! Aku ingin bebas kali ini, tidak dihimpit masalah. Biar masalahku dibawa oleh mata-mata hitam itu. Diriku, inilah dia yang baru saja mencuci diri.

Ciiiitttt, derit gesekan benda aku dengar tiba-tiba. Ya, Tuhan! Aku telah berada di jalan, di garis putih penyeberangan. Mobil itu dekat sekali. Ia bergerak lambat, mencicit membentuk gema panjang di telingaku, menyerong, memutar selip. Ia mengerem menghindari menabrakku.

“Ya, Tuhan! Aku ketabrak! Tetapi kenapa semua menjadi lambat? Aku ingin berlari, tetapi kenapa kakiku terasa berat sekali. O, tidak, aku  tak bisa menghindar,” hatiku menjerit.

Bruk, keras sekali, mobil itu menghantamku yang hanya bisa sedikit mengelak. Payung itu menghancur karena aku gunakan menahan benturan. Aku terpelanting ke udara. Sopir itu ketakutan sekali. Gema derit suara mobilnya tak berhenti. “Ah, kau wanita juga?” Ia menutup mata rapat-rapat, mengatup sampai lipatan-lipatan kulit matanya terlihat. Ia makin mengencangkan matanya. Aku melihat lipatan itu bergerak, merapat dan merapat, hingga kepalanya terbentur setir.

Aku menyadari kakiku yang terentang, mulai terangkat ke atas, membalik badan dan kepalaku ke bawah, sementara satu tanganku terjuntai ke depan bawah dan yang lain ke belakang. Tubuhku bergerak bersama dengan mobil yang lambat tak berhenti.

Sekejap, aku teringat anak-anakku. Mereka terlihat seperti gambar-gambar, tertawa, menangis, bermain, berlarian. Dan karenanya, aku merasa mulai menangis, menangisi diriku sendiri, tak tahu akan menjadi apa.

Orang-orang di pinggir jalan, ketakutan, terkejut, tak mengira, melihat badanku yang mulai terangkat tak berdaya. Ada yang mulai menggerakkan, mengangkat kedua tangannya mau menutup muka. Bibir mereka perlahan mulai membuka mengucap kata, “T-i-d-a-k-!” Aku mendengar banyak dari mereka meneriakkan kata itu bercampur dengan “A-w-a-s.” Aku mendengar setiap hurufnya, membentuk gema panjang bersusulan di telingaku. Ada yang terduduk lemas, kakinya seperti tak kuat menahan badannya, melesu, perlahan turun sementara tangannya ditarik ke atas ke arah kepala. Ada yang badannya menyorong ke depan, mulai berlari? Menolong? Mereka seketika terkejut, seketika menyesalkan kejadian yang menimpaku.

Hujan aku rasakan menitik satu per satu di kulit muka dan tanganku yang tak tertutup baju. Seperti hujan yang tak deras, tetapi menitik cepat banyak di sana sini bergantian kadang bersamaan. Angin yang datang bersama hujan memanjakan aku dengan tiupan yang bergerak halus.

Mobil itu berhenti, serong. Hanya aku, hanya aku yang melayang, melayang di atas mobil itu. Sementara, tanganku tergerak menjulur meraih mobil  yang aku lihat dekat, namun tak juga segera sampai. Pengemudi wanita itu pelan sekali membuka matanya, terlihat dari keningnya mengalir  darah, sembari mulai mengangkat wajah.

Semua melambat. Napasku aku rasakan seperti aliran air yang membasahi leher dan kemudian lambat terasa menjalar ke seluruh tubuh.

Bayangan itu berkelebat cepat di antara semua yang melambat, tertangkap oleh mataku tiba-tiba. Hanya ia yang bergerak cepat. Tadi sekejap aku lihat samar-samar ia ada di ujung sana, tetapi sekarang sudah ada di sini. Ia bergerak seperti menyibak kabut. Setiap gerakannya menimbulkan guratan-guratan udara yang bergerak ke belakang tubuhnya.  Kenapa ia berbeda?

“Hai dimana kau? Lihat, aku ingin melihatmu!” hatiku menjerit ketika ia menghilang.

Ia memberiku kesadaran akan udara yang mengalir deras sekali pada napas yang aku hirup. Ah, napasku? Dimana ia? Kenapa aku jarang sekali menarik napasku? Sejak terpelanting dan kemudian melayang tadi aku baru merasakan satu aliran yang membasahi leherku. Ah, ini dia, aku mengisap udara. Kenapa lama sekali, aku mengisapnya lama sekali? Udara itu terasa menyentuh rambut dan kulit di dalam hidungku.

“Hai! ” Aku melihat bayangan itu kembali!

Ia ada di sisi kanan mobil di antara orang-orang itu. Diam, ia diam berdiri saja dengan tubuh yang santai, tak seperti yang lainnya. Ia menarik pandanganku ke matanya. Mata yang teduh, teduh sekali. Ia memandangku, aku memandangnya. Ia tersenyum dan seketika membuatku tersenyum juga. Aku tak bisa melepaskan pandanganku dari matanya. Mata yang teduh, seperti ada lubang yang dalam sekali di sana, atau jalan yang panjang sekali tak berujung, yang lebar, lebar sekali.

“Boleh aku masuk?” hatiku bertanya setelah merasakan ia memanggilku masuk ke dalam matanya. Udara di sekitarku mulai bergerak ke belakangku. Aku merasakan mata itu menarikku, membawaku masuk ke dalamnya, cepat sekali melebihi pikiran-pikiranku yang silih berganti dan hatiku yang bersuara ini dan itu.

Tiba-tiba aku sudah berada di kegelapan yang luas sekali. Aku bisa merasakannya, dan juga tak bisa percaya, tak terbayang, tak pernah terbayang. Hanya aku, hanya aku di sana. Mata itu, aku di dalam mata itu? Jalan yang lebar dan panjang itu tak ada di sana. Lubang dalam itu pun tak ada. Tak ada apa-apa. Hanya aku dan hitam gelap yang tak tersentuh.

Melayang, aku melayang, tak ada tempat pijak, tak ada langit, tak ada dinding, tak terbatas. Udara seperti pekat menyelimuti, seperti di dalam air yang hitam, tetapi air itu adalah udara; seperti selimut, yang menyentuh seluruh kulitku, sutra lembut, menarik mengulur, memanjang memendek, menurut dan mengikuti gerakanku.

Aku merasakannya dari seluruh kulitku, seperti memegangiku, tetapi dibiarkan bebas juga. Mungkin aku adalah kelinci di padang rumput, makan sepuasku, berlari ke sana ke mari tak takut, karena ada harimau-harimau di sekelilingku yang menjaga. Aneh, aku merasa aneh. Ya, aku ada di lautan sutra lembut yang membuatku nyaman meskipun gelap, seperti terlindungi dari bahaya segala bahaya, membuatku merasa bebas.

Kemudian aku mulai menggerakkan diri perlahan, memutar, meliuk, menari, melebihi lumba-lumba. Aku menikmatinya. Sesuatu di dalam diriku mendorongku untuk meluncur, membalik, makin cepat. Aku bergerak, bebas. Aku mengikuti dorongan di dalam diriku sendiri, terus dan terus.

Lalu tiba-tiba kegelapan itu menjadi terang, putih, cerah, tak ada rasa panas tetapi kesejukan. Cahaya itu membuat sejuk. Sejenak aku terdiam. Inilah ketakterbatasan tadi; tak ada dinding, langit-langit, atau lantai. Lalu aku bergerak lagi, berputar dan semuanya aku lakukan. Aku bebas.

Ada, terlihat, titik-titik cahaya seperti matahari. Ia jauh ada di sana, beberapa tersebar. Sambil terus bergerak, aku mencermati mereka. Lalu ada satu yang mendekat. Aneh lagi, terang yang dipancarkannya tak berubah ketika ia jauh dan ketika dekat. Ia mendekat terus, bulat seperti bandul bertali mainan anak-anak. Aku terdiam lagi terpana olehnya, berpikir, “Apakah ini?”  Ia makin mendekat cepat, dan aku mencoba menangkapnya. “Hah?” aku terkejut, berteriak sendiri. Ia tak berasa. Aku tak dapat menyentuhnya. Ia menjauh cepat sekali. Bandul cahaya yang lain ada yang mendekat tetapi aku tak dapat menjangkaunya.

Aku terdiam.

Kemudian dorongan di dalam diriku yang mengajakku bergerak bebas, mengajakku, “Dekati cahaya itu!” dan sekejap kemudian aku sudah berada di dekat cahaya itu. Namun cahaya itu secepat kilat telah menjauh. Aku terheran-heran. Aku berpikir untuk mendekati cahaya yang lain, dan seketika aku telah ada di sana. “Hah? Bagaimana bisa?”

Namun, cahaya itu telah jauh ketika keterkejutanku belum hilang. Ia menjauh begitu aku ada di dekatnya. Aku berpikir cepat mendekatinya, begitu aku melihat dan pasti aku berada di dekatnya. Lalu cahaya itu pasti menjauh saat itu juga. Aku seperti berkejar-kejaran dengan banyak cahaya itu, cepat sekali. Aku heran, terkejut, bingung. Tetapi makin lama aku hanya ingin menikmatinya saja; berpikir di sini maka di sini, berpikir di sana maka di sana. Diriku masih ingin ke sana ke mari, bergerak bebas. Semuanya menyejukkan, membuatku tenang, senang, ke sana, ke mari, cepat sekali, bebas sekali.

Perlahan-lahan aku mulai merasakan, ada yang lain di tempat ini. Aku tidak sendiri. Aku di sini, sementara ia di sana. Aku merasakannya, “Itu dia!” Mataku menangkap bayangannya. Seketika aku sudah berada di tempatnya, namun ia sudah tak ada. Lalu, “Di sana!” dan tubuhku bergerak ke sana. Namun ia sudah tak ada lagi. Terus dan terus aku dan dia berkejaran.

Hingga aku terdiam dan melihatnya saja. Bayangan itu di sana, menari bebas. Dari jauh, aku mulai mengikuti gerakannya. Ia meliuk aku meliuk. Ia meluncur ke atas, aku meluncur ke atas. Ia berputar, aku berputar. Sampai aku merasa mulai mendekatinya dan semakin dekat, sampai aku berada di sisinya, di sampingnya dekat sekali. Ia dan diriku bergerak dengan gerakan yang sama.

Mengejutkan, aneh, wajahnya sama dengan wajahku. Tubuhnya sama dengan tubuhku. Rambutnya yang terurai mengikuti gerakannya, sama dengan rambutku. Ia tersenyum dan aku tersenyum.

IMG20170714214531

                                                                                                                                           Orchid at Ngurah Rai

Ia seperti tersadar, tahu, aku telah mengukur dirinya dengan diriku. Perlahan, diriku dan dirinya makin dekat, dekat dan dekat sekali, merapat, hingga, “Ah…!” Aku berteriak keras-keras, tersentak, mengejang. Ia yang merapat, menghilang dan masuk ke dalam diriku. Dan aku tersentak, terkejut. Ia yang seukuran denganku seperti telah mendesak sebagian dari diriku dengan dirinya.

“Ah!” aku masih berteriak, panjang, tak tahan. Tubuhku membalik, berjumpalitan, berputar hebat, di sini, di sana, bergerak teramat cepat, tak berhenti.

Lalu seketika aku melihat mata yang teduh itu menatapku, tersenyum kecil, mengejutkanku, “Ia?”

Sekejap kemudian aku merasakan tubuhku yang miring tak karuan, mulai merasakan tanganku bersentuhan dengan benda keras dan kasar. Aspal jalan, aku melirik ke aspal jalan itu. “Tanganku!” pikirku. Satu tanganku telah menyangga tubuhku pada aspal dengan tenaga semampunya. Sementara kakiku, aku melirik ia ada di atas. Aku terjungkir, miring.

Orang-orang itu belum beranjak dari tempatnya masing-masing, masih seperti tadi. Ada yang mulutnya menganga, ada yang mulai lemas terduduk, menutup muka, tak tega, memegang kepala dengan dua tangannya. Ada yang badannya menyorong seakan mulai berlari ke arahku. Tujuh hingga delapan langkah lagi ia sampai di tempatku ini. Sementara pengemudi wanita itu membalikkan wajahnya ke arah depan, ke arahku, tangannya seperti membuka pintu mobilnya.

Sebentar kemudian, bruk, tubuhku menyentuh aspal, tangan, bahu, kepala dan kemudian badan serta kakiku. Tubuhku miring, dan sebentar kemudian terguling dan terlentang. Orang-orang itu mengejarku.

“Cepat tolong aku!” terasa lama sekali mereka baru sampai di tempatku jatuh. Mereka memegangiku; kaki, tangan, kepala, lalu leher.

“Masih hidup!” salah satunya berteriak.

“Iya tentu saja!” aku masih menyahut tetapi tampaknya tak mereka dengar.

“Cepat, telepon ambulan! Cepat!” entah ia, siapa, keras berteriak pada siapa.

Wanita itu berjalan ke arah kemudinya dan membuka pintu belakang.

Mata yang teduh itu? Aku mencarinya. Dan ternyata, ia masih berdiri di sana, dengan mata yang aku lihat sesungguhnya mampu memuat bumi dan segala isinya ini. Aku tersenyum kepadanya.

“Cepat!” teriak satu orang pria yang menggendongku di bagian kepala.

***

“Syukurlah Rin! Kamu sudah siuman!” kata-kata pertama ibu, menggangguku yang mengingat rangkaian gambar di kepalaku yang seingatku belum lama aku alami. Gambar-gambar itu, di dalam mata yang teduh itu. Apakah ingatanku akan kejadian itu karena mata itu juga?

Anak-anakku, samar terdengar memasuki ruang tempatku dirawat. Satu orang berdiri di sampingku, dan adiknya dipangkuan ibuku.

“Hai?” kata-kataku lemah, tanpa bisa bergerak, mungkin tak terdengar, terbata-bata, “masih rajin belajar, kan?”

“Iya!”

“Iya!”

“Sudahlah, Rin! Sembuhlah dulu” mereka bertiga saling melempariku dengan kata-kata, bersautan.

“Ibu sudah baikan, ya?” kata si kecil.

Aku melihat mereka. Aku menikmati pandangannya.

“Syukurlah!” kata ibuku dengan matanya.

Lurah Tua dan Lurah Paris

IMG20170714104214

                                                                                                                                morning at seminyak


Telah beberapa hari orang tua itu duduk di kursi teras rumahnya. Kemejanya rapi, batik yang berkelas berwarna coklat tua. Peci hitam tegak di kepalanya. Sedangkan celana panjang hitam, cemerlang di antara rotan-rotan yang membungkus tempat duduknya. Matanya menerawang tajam, berwibawa. Ia diam saja. Ia terus berdiam diri. Cangkir di mejanya tidak juga disentuhnya. Dari lagaknya, ia tak melihatnya. Ia hanya peduli dengan pandangan matanya yang tajam itu saja, meskipun sedari tadi hanya pohon sawo kecik di kiri halamannya yang tampak dipandanginya. Ia betah dengan pandangan itu, dan cangkir itu tampak sia-sia berada di sana. Begitulah kebiasaan Pak Jogo, setelah kalah di pemilihan.

Begitu juga ketika Daryu gadis semampai, yang tak kalah rapi datang menghampirinya. Dari cara berjalannya, tampak ia menjaga kesopanan, keanggunan meskipun juga terlihat santai. Atau ia sudah terbiasa dan sopan anggun itu sudah menjadi adat kesehariannya. Langkahnya teratur dengan jingkat sandal yang berirama. Wajahnya bersih, meskipun tampak ada sebersit gangguan.

                “Bapak, tehnya dianggurkan saja?” tanyanya sambil mendudukkan diri, di kursi di samping kiri si bapak. Si bapak diam saja. Ia masih saja asyik dengan sawo kecik itu.

 

Daryu sedikit menundukkan pandangannya, dengan wajah yang mengarah pada si Bapak. Ia mengikuti lagak si bapak yang diam. Sesekali ia melirik wajah si bapak, mencuri pandang. Dan si bapak dengan enaknya terus menikmati pandangan pada sawo kecik di halaman.

“Pisang goreng dari Mbok Rah, tadi diantar Lik Domo. Kata Lik Domo, Mbok Rah mengirim salam.” Kata Daryu, tetapi tak mendapat tanggapan yang berarti.

“Juga getuk kelapa, lengkap dengan juruh. Kalau Bapak mau, di meja makan juga masih ada. Ini sebagian saya bawa,” lanjut Daryu.

Tetapi tetap tak mengubah keadaan.

Seseorang yang bertelanjang dada, menuntun sepeda dengan muatan karung yang penuh tampak memberatkannya. Kulit tubuhnya hitam, berkilat-kilat oleh sinar matahari yang menghantam keringat.

“Selamat pagi Pak Lurah!” serunya dari jalan di seberang pagar bambu di dekat sawo kecik.

“Iya, Pak Wo. Pagi-pagi, kok, ya, sudah mandi keringat lho!” balas si bapak tak kalah teriak.

“Iya! buat sebaran benih,” kata Pak Wo yang sudah hilang dari jalan di samping rumah Pak Lurah.

Suasana yang diam tadi telah pecah, tetapi oleh Pak Wo, yang pagi-pagi telah menyiapkan lahan sawahnya untuk lahan yang dipakai menyebar benih padi. Dan rupanya hanya teriakan-teriakan tadi yang membuat ramai. Setelah percakapan dengan Pak Wo selesai, suasana teras rumah itu kembali sepi.

Tatapan mata yang tajam itu kembali beraksi. Senyum yang santun kepada Pak Wo pun telah hilang berganti dengan tak peduli. Bibir yang tadi berteriak tadi, kini seperti tercekat, tak mampu mengucapkan kalimat-kalimat. Sepertinya si bapak tahu siapa-siapa yang mesti dituturi akrab, atau malah didiamkan seribu bahasa.

“Bapak, tehnya sudah dingin. Saya ganti, ya,” Daryu mengingatkan pada si bapak pada cangkir di meja yang dikelilingi kursi. Dan setelah mengucapkannya, ia diam. Badannya sedikit condong ke depan, hendak meninggalkan tempat duduknya. Tetapi ia seperti bersabar menunggu, memaksakan diri, agar mendengar si bapak mengucapkan sesuatu.

Ia mengangkat cangkir itu. Isinya masih penuh tanda tak disentuh. Seketika wajahnya makin muram memperlihatkan emosinya. Berlawanan dengannya, si bapak tetap tenang dengan dirinya sendiri. Wajah Daryu memerah. Si Bapak hanya memandangi cangkir teh, dan sesekali pisang goreng empat potong, dengan getuk yang kotak di piring yang terpisah.

Daryu beranjak, hendak meninggalkan tempat itu, tetapi tak jadi.

“Biar saja, tehnya nanti bapak minum yang sudah saja, tidak usah diganti.” Tiba-tiba si bapak berkata-kata. Rupanya si bapak sedari tadi mendengarkan juga perkataan Daryu.

Daryu diam lagi, tampak mati kutu. Tetapi sekejap kemudian ia memandang piring getuk dan pisang goreng, sehinggga, “Pisang gorengnya tidak dimakan?”

Sia-sia sekali lagi. Si bapak kembali diam dan membuat si gadis tampak layu, tak bisa tahan dengan sikap itu, tetapi tak bisa melakukan apa-apa.

“Bapak, sampai kapan? Kekalahan itu sudah terjadi, sudah lewat. Kenapa Bapak pikirkan terus?” tanyanya tak mendapat jawaban.

Si bapak mengambil piring pisang goreng satu potong dan menggigitnya, sekali saja dan mengunyahnya pelan. Tak memperlihatkan keinginan untuk makan cepat-cepat. Daryu memperhatikan si bapak. Wajahnya masih kecewa. Kata-katanya tak lagi ditanggapi. Wajahnya yang bersih tadi, telah berubah memperlihatkan ekspresi yang berat, bingung.

Si bapak hanya makan satu gigitan pisang goreng itu saja.

“Bapak, bagaimana nanti kalau sakit?” tanyanya sekali lagi. Wajahnya sedikit lebih cerah.

Sebentar ia memperhatikan tangan si bapak yang mulai keriput. Ia meraih tangan itu, tetapi tangan itu telah ditarik oleh si pemilik. Daryu menahan emosi. Ia menunduk.

“Kalian ini bisa apa? Sekali-sekali, buktikan pada bapakmu ini. Sudah tua. Masih juga diberi pertanyaan,” katanya.

“Bapak, kekalahan itu sudah lewat. Bapak sudah memerintah lama. Sudah berapa bulan Bapak masih memikirkan juga?” Tanya Daryu, “Nanti kalau Bapak terus-terusan begini, bisa sakit, Pak!”

“Lagi-lagi. Kok, kamu seperti bicara sama anak-anak. Kekalahan sudah lewat, siapa yang tidak tahu? Yang kalah itu kan saya. Kok kamu bicara seperti itu.” Ketenangan si bapak makin membuat wajah si gadis bingung.

“Pak, sudah tidak ada lagi orang-orang yang bisa disalahkan. Pendukung lurah tua sudah pergi mendekati lurah paris. Begitu juga dengan pendukung Lurah Durahman. Pendukung Bapak tinggal warga-warga yang sudah berumur, pak Wo dan teman-temannya masih memanggil ‘Pak Lurah,’ karena mereka mengingat jasa dan perjuangan Bapak dulu. Untuk apa Bapak mengingat pengkhianat? Lurah Paris sudah menang. Mereka sudah lupa dengan sorak-sorak kampanye; Lurah Jogo, yang dulu mereka teriakkan. Begitu pun dengan julukan lurah tua dari mereka, yel-yel itu sudah mereka kubur bersama dengan kaos-kaos yang rusak oleh pekerjaan di sawah,” kata Daryu tak peduli.

“Ayo, Pak, biar mereka yang menang bekerja. Biar program mereka yang mereka pikir bagus mereka jalankan. Kita jangan memikirkan kekalahan lagi. Jangan lagi merasa ditipu oleh para juru pencari suara yang tak mampu itu. Kekalahan apalah artinya, toh Bapak tetap dikenang sebagai orang yang pernah jaya,” katanya lagi dengan suara dipendam.

“Bertahun-tahun dulu aku membangun desa ini. Lahan yang tidak produktif, pelan-pelan diolah, ternyata bisa. Tambang batu yang liar, ternyata bisa tertib masuk kas desa. Peternakan, pertanian, semua berjalan. Bahkan sampai bisa punya uang menyekolahkan kader desa. Tapi, kok, semua hilang. Pelan-pelan tak terasa, tahu-tahu, entah ke mana. Apa yang mereka bisa? Apa yang kalian bisa lakukan, sebenarnya? Apa harus mengandalkan orang tua seperti aku?”

Pak Wo kembali lewat dan menyapa, “Pak Lurah,” dan dijawab, “Ya, monggo.”

“Mereka yang terpilih ini orang-orang muda pak. Jaman sudah menghendaki seperti itu. tidak bisa lagi kita berharap pada pola lama, orang tua, berumur pasti lebih hebat dengan pengalamannya. Orang punya pendapat lain, mereka percaya pada semangat, pada hal-hal baru. Tidak gampang pak,” kata Daryu.

Si bapak menjelaskan bahwa sudah banyak anak-anak muda yang meninggalkan desa. Kemunduran desa yang pelan, tak terasa. Tapi setelah bertahun-tahun baru terlihat. Desa sudah kalah melawan pembangunan.

Daryu menjelaskan seperti berkata pada dirinya sendiri, bahwa ia bisa saja ke kota, bekerja, mengaktualkan diri. Seperti yang lain, orang-orang muda yang pergi merantau. Tetapi, kalau bapak berkorban berjuang demi desa, ia juga berjuang, berkorban demi Bapaknya. Sampai sekarang ia masih setia mengikuti mandat dari ibunya untuk menjaga si bapak. Ia sebagai anak tunggal, tidak ada lagi orang yang akan menjaga bapaknya di masa tua. Apalagi di masa muda, bapaknya sangat aktif.

IMG20170714130939

                                                                                                                                              uluwatu temple


“Pasti Bapakmu butuh orang yang merawatnya,” ibu berkata.

Daryu menjelaskan bahwa ia mengorbankan diri demi bapaknya. Sekolah tinggi ternyata harus kembali ke desa. Dan hubungannya dengan Ramadi juga dikandaskan, karena Ramadi maju pilihan beradu dengan pak Jogo. Tetapi pendapat ini ditentang Bapaknya bahwa seharusnya sudah haknya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Tidak perlu terpaku pada mandat ibunya.

“Saya juga berkorban, Pak. Tetapi Bapak selalu minta pengorbanan buat desa,” jelas Daryu tak mau kalah.

“Aku sengaja memilih orang-orang muda, untuk mencari suara. Tapi rupanya mereka tidak bisa diandalkan. Rusak semua,” kata Pak Lurah Tua.

“Apa Bapak mau mengungkit-ungkit hubunganku dengan Ramadi? Sudah tidak ada hubungan lagi, Pak. Aku bukan pengkhianat, meskipun tidak bisa membuat Bapak jadi pemenang,” kata Daryu lemah.

Dari jalan di samping rumah, tampak seorang muda bersepeda, mendekati rumah itu, seketika menarik pandangan Daryu. Sedangkan si bapak, dengan pelan, beranjak masuk ke rumah. Pemuda itu masih sempat melihat; Daryu pun menoleh ke arah bapaknya, Pak Jogo.

Sepeda itu berhenti di depan teras. Ia menunduk pada Daryu yang sudah berdiri dan berjalan mendekat ke arah pemuda itu.

“Bapak, ada?” tanya pemuda itu, Ramadi, dari sepedanya.

“Ada, Mas. Monggo duduk dulu. Ini Bapak tadi baru saja masuk. Silakan duduk,” kata Daryu.

Mereka duduk di kursi teras itu terlihat akrab dengan basa-basi, saling senyum yang mengalir gampang, bahkan kadang mereka sempat tertawa kecil.

“Apa gara-gara aku, Pak Jogo jadi begitu?” Ramadi bertanya, setengah berbisik.

Dan Daryu hanya menjawab dengan lirikan saja.

“Ini, tim sedang berkeliling. Hari ini giliran masuk kampung ini. Sebentar lagi mereka sampai. Intinya mau beramah tamah, silaturahmi,” kata Ramadi, lurah yang baru setelah mereka masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah terpampang beberapa foto berbingkai warna emas tersusun rapi. Beberapa menampilkan wajah pak lurah Jogo dengan pakaian dinasnya. Sebagian lagi memperlihatkan dia sedang bersama dengan pejabat yang lain, berjabatan tangan. Bahkan ada yang memperlihatkan gambar pak lurah bersama dengan presiden.

Sepertinya Ramadi harus kecewa karena tidak ditemui oleh Lurah Jogo. Semua timnya telah hadir di rumah itu, namun sang tuan rumah malah berdiam diri.

Penjelasan dari Daryu setelah masuk ke ruangan dalam, “Bapak lagi sakit, kurang enak badan. Kalau menurut saya, Bapak juga mendukung selama semuanya untuk kemajuan desa.”

Tampaknya Lurah Tua, Jogo, masih belum menerima kekalahannya. Kondisi pemilihan pada waktu kampanye yang menjadi bebannya. Pertarungan yang berjalan sengit antara dirinya dan lurah paris membuatnya tak bisa menerima kekalahannya. Tim yang diharapkan mampu mendulang suara untuknya, tak mampu mencapai yang diinginkannya, padahal mereka telah melaporkan bahwa peluang menang besar sekali. Hingga pertarungan itu menimbulkan rasa kecewa, ketika tim dari Lurah Paris menggunakan istilah lurah tua untuknya di saat-saat kampanye hendak berakhir. Sementara mereka sendiri menggunakan istilah Lurah Paris untuk lurah jagoannya. Tim Lurah Tua kewalahan dengan kondisi itu. Pengalaman dan hasil pembangunan yang mereka angkat, hanya bisa mengangkat suara hanya bisa untuk tidak kalah telak. Dan Lurah Tua sangat menyesal dengan kondisi itu.

“Sampaikan salam hormat dari kami semua. Dan juga terima kasih, karena keadaan mereka yang berhasil, juga karena hasil dari jerih payah, usaha pak Jogo, ketika dia menyelenggarakan program pendidikan kader desa,” kata Ramadi.

Keadaan Lurah Tua sendiri akhirnya semakin memprihatinkan. Ia selama beberapa minggu hanya tiduran dan tidak pernah keluar rumah. Para warga mendapat kabar bahwa pak Lurah Tua harus banyak istirahat. Tetapi sepertinya mereka membuat perkiraan sendiri bahwa Lurah Tua tidak bisa menerima kekalahannya hingga mengakibatkan dia sakit. Sepertinya berita itu mereka dapatkan dari orang-orang yang biasa ke rumah itu seperti lik Wo.

Namun begitu lurah Ramadi dan warga tetap saja terkejut ketika mendapat kabar bahwa pak lurah meninggal. Lurah Ramadi merasakan pemilihan desa belum berlalu, desa masih bersosialisasi hasil anjangsananya, dan warga juga merasa demikian. Mereka tetap menganggap meninggalnya pak lurah Jogo adalah berita yang mengejutkan.

Pada pemakaman Lurah Tua hadirlah Ramadi yang mengatakan bahwa ia akan  menghidupkan kembali program yang sudah hilang yaitu sekolah desa. Anak-anak desa berhak mendapat pendidikan yang layak, dan bagi yang mampu secara pemikirannya, ia akan menyekolahkan setinggi-tingginya, meneladani program Lurah Jogo, yang berhasil membuat dirinya bisa sampai ke Paris. Tidak mudah baginya sekolah setinggi itu. Tidak mudah juga bagi desa untuk menyekolahkan anak desanya. Tetapi ternyata ada hasilnya, terlihat. Dan sebagai balas jasa, ia berjanji mencari cara melaksanakannya.

Daryu sepeninggal bapaknya, masih tetap tinggal di desa itu, meskipun ia sendiri di rumah itu. Ia menjadi ahli waris satu-satunya, untuk harta dan juga warga yang setia menjadi pengikut bapaknya. Warga sepertinya berharap agar ia satu saat bisa mendapatkan kekuasaan seperti yang dulu pernah ditempati orang tuanya. Mereka merasa Daryu mempunyai darah kepemimpinan. Warga percaya ia bisa lebih baik dari Lurah Paris meskipun Lurah Paris bisa menang, tetapi ia tidak punya garis keturunan pemimpin.

Namun, selang setahun setelah kematian Pak Jogo, Daryu terlihat dekat dengan Ramadi. Mereka menjalin lagi hubungan yang terputus karena proses pemilihan kepala desa. Banyak orang mengguncingkan Daryu sudah salah langkah.  Beberapa gunjingan mengatakan, ia berhak, sah-sah saja menjalin hubungan itu, karena ia mempunyai hak pribadi.

Double Monday

Pagi itu, pintu gerbang rumah itu terbuka meskipun hari masih gelap, oleh dorongan tangan Hasto dengan sepedanya. Dengan tas ransel di punggung dia segera mengayuh sepeda cepat-cepat menyusuri jalan perumahan menuju jalan raya.


Berada di jalur sepeda di jalan raya dia semakin cepat mengayuh sepeda balapnya seolah-olah tanpa peduli pada pengguna yang lain; seperti berlomba, semakin cepat, membelok,  manuver dengan santai ia lakukan, sesuka dia. Berulang kali ia keluar dari batas  jalur sepeda,  seakan-akan ia benar-benar memburu waktu.

 


Sehingga, tiba-tiba saja satu mobil hampir menabraknya ketika Hasto menyerobot jalur dan klakson mobil itu pun keras membentaknya, membuat ribut pagi yang baru saja mulai. Pengemudi mobil itu tampaknya benar-benar dibuat kesal sehingga mengejarnya dan mengintainya dari jalur mobil. Beberapa kali ia membunyikan klakson, tetapi tetap tak dipedulikan oleh Hasto.

Kota belum terlalu ramai; pengendara sepeda tampak keluar dari jalan-jalan perumahan menyatu dengan motor dan mobil di jalan yang lebih besar, bertemu Hasto dan mulai beriringan makin banyak. Mereka kemudian menyatu di jalan yang lebih besar dengan jalur sepeda yang lebih lebar, hingga mulai tampak banyak bangunan yang kotak-kotak sisinya.

Hasto memutar di salah satu bangunan yang tak terlalu tinggi dan masih sepi. Tempat parkir masih kosong. Selang tak berapa lama satu mobil menyusul dengan manuver yang tergesa-gesa dan sopir mobil menghampiri Hasto dan membentak, ”Hasto, kamu tidak bisa rapi kalau bersepeda? Etika kamu di mana?”

Hasto terkejut dan membantah, “Ada apa, Pak?” sambil menengok kanan kiri hingga melihat mobil yang di parkir itu adalah mobil yang tadi membuat klakson kencang sekali.

“Jalan itu memangnya punya kakek kamu?” bentak si bapak lagi.

Pak Melaz, bos Hasto, seorang yang pemarah dengan bicara yang keras, dengan kumis paling tebal di kantor itu, dan kepala sedikit botak. Mata pak Melaz sedikit merah, kurang istirahat. Dandanannya rapi, kemeja lengan panjang berwarna gading polos, celana hitam, dengan sepatu mengkilat. Sabuknya berwarna hitam. Rambut disisir ke belakang, basah oleh minyak, sangat rapi.

“Saya, kan tidak salah, Pak?” tanya Hasto.

“Kamu tidak salah, menurut kamu! Menurut saya tidak punya etika!” bentak Pak Melaz.

Mereka saling bantah sembari terus berjalan cepat masuk kantor. Pak Melaz membuka pintu kantor sendiri.


“OB pemalas, jam segini belum datang. Maunya apa anak itu? Sudah dikuliahkan, malah jadi pemalas!” pak Melaz menggerutu.


Hasto masuk kantor setelah berganti baju, dari seragam bersepeda menjadi seragam kantor. Ia segera duduk di ruangannya, membuka satu berkas di mejanya, dan menyalakan komputernya. Ia terlihat membuka buku dan mencermatinya, memeriksanya. Sebentar kemudian dia mengeluarkan buku besar dari tasnya dan mencermatinya di satu halaman.

“Kopinya, Mas,” kata OB sambil menaruh segelas kopi.

“Oke, trims!” Hasto menyahut tanpa melihat.

Dan si OB terus berjalan mengarah ke ruang pak Melaz. Ia membuka pintu dan meletakkan segelas kopi, segelas teh, dan segelas besar air putih.

“Tompi, kamu terlambat lagi?” tanya Pak Melaz mulai sibuk di mejanya.

“Kok lagi? Sama sekali tidak, Pak!” jawab Tompi.

Pak Melaz marah kepada Tompi. Ia menjelaskan bagaimana ia membuka pintu sendiri. Dan Tompi menjelaskan bahwa ia ada di dapur, padahal sudah membersihkan meja, mengepel, tinggal menyiapkan minuman saja.

“Bagaimana pintu masih terkunci?” tanya pak Melaz lagi tampak sibuk sekali dengan dokumen-dokumen.

“Saya ada di dapur, ya, pintu saya kunci lagi. Demi keamanan!” jawab Tompi tak mau kalah.

Tompi lalu menceritakan bagaimana kantor sebelah kecurian hanya dalam waktu seperempat jam, alias lima belas menit. Cepat sekali. Kejadiannya minggu lalu. Ia mendengar dari security di pos depan. Dan pos depan, kehilangan jejak. Dari CCTV, dari nomor motor, dan segalanya buat mengecek. Hasilnya nol. Jadi kuncinya ada di pencegahan, kehati-hatian.

untitled-1

christmas light at stephanus church Jakarta


“Jangan sampai kantor kita kecurian juga!” Tompi mengkhiri penjelasannya.

“Jam berapa mereka kecurian? Malam hari, bukan pagi hari!” balas pak Melaz.

“Ya, tapi pencurian, kan, terserah pencurinya. Mau pagi, mau siang, mau malam, terserah dia. Kita hanya bisa jaga diri, Pak!” balas Tompi sekali lagi.

Mereka masih berdebat, dan terus berdebat. Pak Melaz sembari mulai sibuk dengan berkas-berkasnya. Ia membuka, memeriksa dan menulis di buku agendanya. Ia mengecek berkas lagi dan kadang berkas itu diletakkan lagi saja, sepertinya tak penting.

“Kamu dibilang telat. Akui saja!” kata Pak Melaz membuka tasnya.

“Pak, meja sudah bersih. Berkas-berkas sudah aku rapikan. Yang lama ada di lemari. Yang baru sudah di depan meja. Bagaimana mungkin saya dikatakan terlambat?” balas Tompi.

“Bawa ke Hasto, buat 2 hari lagi!” pak Melaz, menyodorkan satu kumpulan berkas ke Tompi.

“Besok, jangan telat lagi!” kata pak Melaz.

“Saya tidak terlambat. Saya tidak mungkin terlambat. Karena nanti jam sepuluh, saya ada jadwal kuliah!” sanggah Tompi.

“Cepat, kasihkan Hasto! Dan jangan karena kamu bisa kuliah, kamu jadi membantah,” bentak pak Melaz.

Dan Tompi berjalan ke arah Hasto. Di mejanya, Hasto sedang berbicara di telpon dengan pak Melaz. Pak Melaz menjelaskan berkas yang dibawa oleh Tompi. Dan Hasto segera membuka filenya. Ia menerima berkas dari tompi dan sekaligus membuka file di komputernya.

“Dua hari lagi kata pak Melaz!” kata Tompi dengan senyum penuh pada Hasto.

“Ya, oke!” kata Hasto menatap Tompi.

IMG20170713172720

 Seminyak, west meet Bali


Setelah beberapa lama kantor itu telah ramai dengan kedatangan teman-teman sekantor Hasto; sebagian besar perempuan-perempuan muda dan pria-pria muda, beberapa tampak juga yang telah seumur sedikit di bawah pak Melaz. Mereka mulai sibuk di tempat masing-masing; dengan lembaran-lembaran kertas, dengan komputer di meja, telpon yang sering berdering, dengan emosi dan konsentrasi yang terlihat di wajah. Beberapa terlihat saling berdiskusi sebentar, berbicara sambil menunjuk kertas yang mereka pegang.

Tompi membawakan minuman, menaruhnya di meja masing-masing secangkir, sambil mengatakan, “Saya ada kuliah jam sepuluh.” Kata-kata yang diucapkannya setiap menaruh cangkir. Kadang dengan menambahi, “Hanya hari ini saja.” Kadang ditanggapi dingin, tetapi ada juga yang menanggapi, “Bukannya kuliah sore hari? Mengganggu, dong?” dan Tompi menjawab, “Hanya hari ini, saya sudah bilang!” Mereka masih sibuk hingga siang hari, mengeluhkan Tompi tidak membantu mereka.

Di jam istirahat sebagian dari mereka makan bersama-sama di kantin di bagian belakang. Hasto dan teman-teman kantornya tampak di antara mereka. Di sana mereka terlihat ramai, memesan makanan, sebagian masih berdiskusi, tentang pekerjaan, tentang musik yang sedang tren, film dan yang lainnya.

“Sebenarnya, kita ini butuh satu hari lagi. Enam hari itu tidak cukup, tidak pernah cukup,” kata Hasto pada teman-temannya.

“Ya, tapi kalau kamu sudah punya delapan hari kerja, kamu juga akan bilang, ”kita butuh satu hari lagi.”

Dan hasto saling bantah, karena pekerjaan itu selalu dikejar waktu deadline, tak pernah cukup selesai.

Di hari lain, mereka akan bercerita hal lain, tentang hal yang sehari-hari terjadi; macet, tidak ada taksi, dan yang lainya.

“Aneh lho. Aku mimpi sedang bermain baseball. Aku lempar bola, dan dipukul jauh sekali, hebat sekali. Giliran aku lihat orang itu, ternyata kakekku!”

Teman-teman Hasto tertawa. Sebagian mendengar serius. Sebagian lagi usul, bahwa kakeknya yang sudah meninggal ingin bermain kasti dengan Hasto.

Hasto masih diburu-buru dengan kesibukannya. Di hari Senin dia harus meeting di kantor, siang hari. Ia sangat sibuk di hari Senin, selain untuk mempersiapkan meeting, dia juga harus mengerjakan pekerjaan hariannya. Di sore hari ia harus menemani pacarnya menonton. Ia menonton dengan membawa tas dari kantor, berisi berkas-berkas kantor.

“Aduh, kamu tidak pernah meluangkan waktu khusus, lho, buat aku. Nonton saja masih harus bawa tas gede begitu!” kata pacarnya, Rosi.

“Banyak pekerjaan. Belum selesai. Ayo cepat,” katanya ketika sedang makan sehabis menonton.

Hasto asyik menikmati makannya dengan diperhatikan oleh Rosi. Dan tiba-tiba ia kaget melihat Rosi, dan menanyakan kenapa dipandangi seperti itu.

“Sudah, ayo makan,” kata Hasto.

Di hari berikutnya, Hasto masuk kantor seperti biasa. Ia mengayuh sepedanya cepat-cepat, tergesa-gesa. Ia segera membuka berkas-berkas dan mengerjakan dengan komputernya. Sementara teman-temannya masuk dengan tergesa-gesa dan membicarakan hari Senin pasti sibuk sekali, jalan yang macet, dan segala hal yang sepertinya mendesak semua. Hasto mendengarkan mereka mengeluh dan seperti tak peduli. Ia tetap bekerja seperti biasa. Hingga jam makan siang pun ia masih seperti biasa hingga di telepon oleh Rosi, “Ingat, nanti sore jam setengah tujuh sudah di sana ya!”

Dan Hasto membalas, ”Kok, menonton lagi? Kita kan hanya sekali menonton seminggu, di hari Senin!”

Rosi membalasnya, “Ya, memang Cuma sekali. Sampai ketemu nanti, ya. Cium sayang!”

Hasto bingung sebentar dan melanjutkan makan siangnya tak peduli dengan kata-kata Rosi.

“Ayo, cepat! Meeting!” kata temannya.

“Ha? Meeting? Hari Selasa kok meeting?” kata Hasto.

“Bangun, To! Ayo meeting!” kata temannya, sambil mencubit pipinya. Dan satu per satu, mereka meninggalkannya.

“Hari Senin? Meeting? Lagi?” tanyanya bingung sendiri, hingga ia bertanya pada penjaga kantin.

”Senin,” kata penjaga kantin

Seketika itu juga Hasto bergegas menuju ruang kantor dan langsung menuju ruang meeting. Dilihatnya, di sana pak Melaz sudah duduk dengan berkas-berkasnya di meja, dan Tompi mengedarkan minuman mineral dan meletakkan di meja masing-masing satu di depan kursi.

“Ah, Hasto, cepat sekali kau mau meeting. Silakan duduk!” kata pak Melaz.

“Oh, tidak pak. Ini hari Selasa kan?” tanyanya.

“Terserah kamu. Cepat meeting!” kata pak Melaz santai sekali, tak peduli, sibuk sendiri dengan dokumennya.

Tompi membalas Hasto dengan bahasa isyarat menunjuk kalender dan menggerakkan tangannya supaya cepat-cepat menyiapkan meeting.

Hasto kembali ke ruang besar dan melihat teman-temannya mulai meninggalkan meja dan menuju ruang meeting.

Hasto masih bingung dan berdiri di samping mejanya, ketika Tompi menghampirinya, “Cepat, ditunggu Pak Melaz!”

Ia bergegas ke mejanya merapikan dokuen-dokumennya sembari memperhatikan teman-temannya yang sudah beranjak ke ruang meeting, sebagian merapikan dkumen-dokumen. Dia terlihat bingung, bertanya-tanya hingga akhirnya ia bergegas mengikuti meeting.

Di meeting menjadi kacau oleh Hasto yang tidak siap. Dia seperti linglung. Dia hanya mengikuti saja meeting itu, sembari berharap cepat selesai. Begitu juga teman-temannya memperhatikan Hasto, menjadi bingung dengan Hasto yang tak siap.

Setelah meeting Hasto merasakan ada masalah, dan membuatnya bingung. Dia sepertinya telah berada di hari yang salah.

“Kenapa di meeting kamu seperti itu?” tanya temannya.

“Apa?” Hasto tak peduli. Dia memperhatikan ruangan kantor seperti sebelum meeting tadi, seperti berputar semua, membuatnya bingung.

“Kamu sakit? Kamu lembur apa semalam?” tanya temannya menyambung pertanyaan dan kesal tak mendapat tanggapan yang diharapkan.

Sementara Hasto menjawab, “Tidak apa-apa,” sembari melirik telepon genggamnya, memikirkan seseorang, perlu menelepon seseorang, dan juga melirik jam dinding di ruang itu.

Dia menelepon Rosi menanyakan apakah ia akan menonton atau tidak dan Rosi menjawab, “Iya, sudah berangkat!”

Hasto menengok jam tangannya dan segera bergegas. Dia terlihat terbengong-bengong. Dia seperti melihat ruangan kantor seperti berputar-putar. Teman-temannya yang masih bekerja pun seperti berputar-putar juga.

Hasto semakin sibuk, dan terlihat kelelahan. Minggu ia bermain baseball dengan teman-teman klub. Setelah itu, ia mengalami Senin yang dua kali, dobel. Dan ia tak mengerti. Ia tetap sibuk seperti biasa, bersepeda, membawa berkas ke rumah dan bekerja lagi, dan ia harus mengalami dua kali senin setiap minggu.

Pak Melaz memberinya banyak tugas. Dan Hasto semakin kelelahan, kadang tidak bisa menerima juga dengan Rosi yang selalu meminta agar jangan tertidur ketika di bioskop dan itu menjadi perdebatan di antara mereka. Kejadian yang dulu tidak pernah terjadi, dan Rosi tak mengerti bagaimana bisa terjadi, tetapi Hasto sendiri seperti tak bisa bercerita, tak akan bisa dimengerti. Begitu juga ketika makan bersama, Hasto terlihat dingin. Dia terlihat lelah.

Sementara itu, Pak Melaz menemui seseorang di bandara, perempuan bernama Nina. Ia melaporkan bahwa ia sedang mencari seseorang supaya menjadi pimpinan divisi, persiapan sudah berjalan. Dan ia menyerahkan berkas-berkasnya. Mereka terlihat serius membicarakan masalah kantor dan divisi baru yang direncanakan, berdiskusi, dan Pak Melaz terlihat sangat menghormati perempuan itu, meskipun umurnya jauh lebih muda. Mereka kemudian bersama-sama menuju kantor, tetapi perempuan itu turun di tempat lain.

Di hari Senin, ternyata Nina menonton di bioskop seperti tempat Hasto dan Rosi menonton. Di sana ia menemui Hasto dan berkenalan tanpa setahu Rosi. Mereka berbicara santai dan bertukar kartu nama. Setelah itu mereka menonton film masing-masing.

Setelah pertemuan itu, Hasto beberapa kali bertemu dengan Nina dan mereka semakin akrab. Hasto kadang-kadang menemui Nina di rumah kosnya. Mereka saling bercerita tentang pekerjaan masing-masing. Hasto bercerita bahwa di kantor ia sibuk sekali karena ia mengalami dua kali Senin.

“Dua kali Senin?” Nina bingung dengan penjelasan Hasto, “orang-orang punya hari Senin, malah banyak, setiap bulan ada empat, setiap tahun ada,”

“Maksudku, setiap Minggu, ada dua Senin,” kata Hasto, yang membuat Nina tertawa dan membantahnya, “Tidak mungkin.”

Hasto menceritakan setiap Minggu ia ada meeting dua kali, berurutan, karena hari Senin dua kali. Senin, Rosi minta nonton. Dan besoknya, dia minta lagi, karena hari Senin lagi. Dia lelah juga merasakannya, tetapi orang lain pasti akan mentertawakannya jika ia menceritakannya. Nina menghentikan tawanya ketika Hasto mengakhiri ceritanya. Tiba-tiba ia seperti bersalah ketika Hasto meliriknya, karena mentertawakan cerita Hasto. Maka ia mengalihkan perhatian Hasto, “Cantik mana, antara Rosi dengan aku?”

Dan Hasto menjawab, “Nina!”

Nina tertawa lagi, sembari mengatakan, “Kalau Rosi yang bertanya, pasti kamu menjawab, Rosi!”

Dan Nina segera menyambung dengan bahasa yang halus, mesra, romantis. “Dasar laki-laki!” Hasto hanya tersenyum mendengar kata-kata Nina. Mereka saling melihat, memperhatikan satu sama lain, saling diam, dan terpesona satu dengan yang lain, “Aku jujur kok,” kata Hasto pelan, santai, terdengar jelas dan Nina sangat memperhatikan kata-kata Hasto. Nina seperti terkejut mendengar Hasto mengatakannya dengan lembut sekali. Tetapi ia terkesiap dan segera mengalihkan pandangannya, menghindar dari pandangan Hasto. Nina menjawabnya, “Ya, aku percaya, kok,” lembut ia berkata, hingga Hasto juga diam memperhatikan dan tersenyum pada Nina. Nina melanjutkan lagi, sambil memandang Hasto, menatapnya, “Laki-laki memang pembohong.” Dan Nina tertawa lagi. Hasto terlihat tersipu malu, telah dikerjai oleh Nina.

Hasto sepertinya sudah lelah, ribut, kacau dengan kondisi itu, dua kali Senin dalam seminggu membuatnya bekerja semakin keras. Tetapi ia masih bisa mengatasi pekerjaannya, bahkan menghadapi Rosi dan ditambah Nina kenalannya.

Setelah beberapa lama Hasto mengalami semuanya, satu hari Hasto dipanggil oleh pak Melaz ke ruangannya. Sementara pak Melaz malah sibuk di ruang tamu dengan tamunya. Di ruang pak Melaz, Hasto terkejut bertemu dengan Nina.

“Hei, Nina, kamu melamar pekerjaan di sini?” katanya memulai cerita. Dan ia mengakrabi Nina dengan cerita-ceritanya, begitu juga Nina menyambung akrab cerita dari Hasto, sembari menunggu pak Melaz. Mereka bercerita tentang film, musik dan lain-lain, dan Hasto menceritakan kehidupan kantor yang sangat dinamis. Pekerjaan banyak pasti Nina akan senang berada di kantor itu.

“Hasto!” pak Melaz tiba-tiba sudah di depan pintu ruangannya, dan menyuruh Hasto supaya duduk yang sopan, jangan mengganggu Nina. Ia menyuruh menghormati Nina.

“Bu Nina, ini Hasto! Hasto, ini bu Nina!” kata pak Melazt memperkenalkan mereka berdua.

Kita akan berbicara mengenai pembentukan divisi baru dan Hasto, aku memilih kamu memimpin divisi itu. pekerjaan akan dijelaskan langsung oleh bu Nina,” dan pak Melaz menyerahkan langsung kepada bu Nina. Hasto pelan-pelan, seperti berbisik, ”Kenapa tidak bilang-bilang?” sambil tersenyum kecil menghindari pandangan pak Melaz.

“Oke, Hasto, santai saja silakan duduk,” kata Nina menunjuk sofa, mempersilakan Hasto duduk ditemani Pak Melaz.

Di sana Hasto kurang nyaman, karena ia salah kira bahwa Nina yang dikira temannya ternyata adalah orang dalam kantor yang selama ini masih sekolah. Ia pulang untuk mewakili tugas dari ayahnya.

“Hasto, kamu bisa serius?” kata pak Melaz yang melihat perilaku Hasto kurang memperhatikan, kebingungan.

“Oke, Hasto. Ikuti kata pak Melaz ya!” kata Nina sambil melirik Hasto. Pak Melaz melihat keanehan di antara mereka.

Siang itu di ruang pak Melaz, Hasto mendapat penjelasan panjang lebar mengenai divisi yang akan dipimpinnya sampai sore, menjelang jam pulang.

“O, ya. Sebagai penghargaan, sebagai tanda, ini ada hadiah. Silakan dibuka!” kata Nina diperhatikan oleh pak Melast.

Dan Hasto membuka hadiah dari Nina, ternyata adalah pemukul baseball. Hasto keluar ruangan dengan tongkat baseball di tangan kanan di pundaknya, dan di kiri memegang berkas-berkas dari Nina dan pak Melaz.

Di mejanya, Hasto mendapat ucapan selamat dari teman-temannya. Dan sebagian mencandainya, “Ingat, ajak kakekmu bermain baseball!”

Terakhir adalah Nina keluar dari kantor diikuti pak Melaz memberi selamat.

Sesosok Bayang (Heavenly Ghost)

                                      “Menurutmu, apakah kau bahagia?                                Apakah manusia harus bahagia?  Apakah mungkin ada orang yang memang diciptakan bukan untuk bahagia? Orang itu hanya mencari-carinya, menjalaninya, semampunya. Berapa jauh perjalanan harus ditempuh, berapa lama kaki harus mengayuh?”

IMG20170714214614.jpg

Ngurah Rai 

Di tepi danau itu mereka bertemu tanpa bertatap muka. Raka yang lebih sering menjadi pengganggu akhirnya tersadar ia harus minta maaf, tetapi Gadis tampak tak terlalu peduli dengan permintaan Raka. Bahkan ia tak menanggapi sama sekali Raka yang menemuinya di pinggir danau. Seakan gangguan-gangguan Raka di sekolah itu tak ada artinya lagi. Gadis hanya menatap permukaan danau dan memainkan kedua kakinya yang tercelup di air.

Sementara Raka telah mengetahui bahwa nasibnya tak lebih dari baik dari Gadis; keluarganya yang tak sempurna, ibunya yang lebih sibuk mengurus perusahaan daripada memperhatikan Raka dan adiknya Krisa. Foto keluarga yang menempel besar di ruang keluarganya pun tanpa gambar seorang ayah. Sepertinya Raka telah menyadari kerapuhan Gadis karena kehidupan yang kurang lebih sama. Ratna yang telah membela Gadis dari gangguan Raka dengan cara yang berlebihan ternyata benar, bahwa Gadis sudah cukup menderita dengan kayuhan sepedanya, dengan kue-kue yang dijualnya. Raka sepertinya tahu, apa yang terjadi pada Gadis bisa terjadi pada Krisa adiknya.

“Pada danau ini aku tenang. Mungkin karena ayahku yang pergi tinggal di sana. Mungkin ia menanam pohon-pohon rimbun ini, hingga air danau menjadi sejuk dan bisa mencuci kakiku dari keringat dan membuatku lega dengan kesejukannya.” Dan Gadis masih mencelupkan kakinya di air sementara tangannya masih melemparkan batu-batu membuat lompatan-lompatan di danau hingga akhirnya tenggelam di danau.

Hingga sore Gadis tanpa tegur sapa meninggalkan Raka sendirian di tepi danau itu. Ia kembali mengayuh sepedanya dan berjalan pulang. Pelan ia mengayuh, tak secepat ketika di siang hari ia mengantarkan kue-kuenya ke toko-toko di sekitar kampungnya.

Sementara Raka masih diam beberapa lama di sana. Ia seperti menenangkan diri juga, setelah gangguan-gangguannya di sekolah kepada Gadis ternyata tak pantas, juga gangguan-gangguannya kepada teman-teman perempuan lain di sekolah itu mungkin sama tak pantas. Semua kebandelan dan kebadungannya ternyata hanya pelarian-pelarian agar ia dapat merasakan bahagia. Matanya melirik pada beberapa bunga yang telah tumbuh di sana. Sepertinya Gadis telah menaruhnya beberapa lama hingga bunga-bunga itu tumbuh dan mungkin beberapa waktu lagi akan membuat tepi danau itu berwarna-warni. Bunga-bunga yang serupa dengan rangkaian bunga yang diberikannya pada Gadis ketika istirahat kelas beberapa waktu lalu. Tetapi tampak artinya sangat berbeda, bahwa bunga di danau itu ditanam dengan kesungguhan, sedangkan rangkaian bunga di sekolah beberapa waktu lalu adalah simbol kebadungannya. Rangkaian bunga yang membuat Ratna dan kawan-kawannya berang dan habis-habisan membela Gadis. Hingga teman-teman badung Raka berkelahi dengan teman-teman Ratna.

Beberapa lama setelah itu, tak ada lagi Raka yang badung, yang mengganggu, acuh dengan sekolah, acuh dengan adiknya Krisa. Ia menjadi penuh perhatian pada adiknya, seperti tak ingin adiknya menjadi seperti Gadis yang rapuh, yang mencari kebahagiaan dengan bekerja keras menjadi pelampiasan untuk melupakan sakit. Sebuah surat yang ditulis Ratna semakin mengingatkannya bahwa ia dan Gadis adalah orang-orang senasib. Hanya saja nasib itu ditanggapi dengan berbeda, bahkan jauh berbeda. “Raka, aku perlu memberitahumu satu hal tentang Gadis. Ia rapuh. Ia terlihat kuat, tapi sebenarnya, rapuh, dan aku ingin melindunginya agar ia kuat setidaknya agar ia bisa mencapai cita-citanya. Ia tak pernah selesai jika ia bercerita tentang keluarganya, tentang ayahnya. Ia berhenti setiap akan menyebut kata ayah. Aku tidak tahu, tetapi, ia memang tak pernah menyelesaikan ceritanya. Bagiku aneh, ternyata tak ada gambar ayah di fotonya. Aku pikir kau perlu tahu itu.”

Surat itu mengingatkannya pada foto yang sama di ruang tengah rumahnya, seorang wanita yang masih muda dengan anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Raka terkejut bahwa yang dialaminya ternyata sama dengan yang dialami Gadis. Dan sepertinya lebih penting lagi adalah adiknya Krisa, yang dirasanya tentu tak sekuat dirinya. Ia bergegas ke kamar adiknya dan ternyata adiknya masih belajar.

Dengan geragapan Raka bertanya, “Kamu belum tidur? Masih belajar?”

“Tinggal sedikit lagi. Ada apa, Kak?” Krisa menyahut pelan saja.

“Enggak! Cuma mau bilang, selamat malam, selamat tidur, aku pikir kamu sudah selesai belajar!” sekali lagi Raka berkata-kata seperti merasakan bahwa begitulah Gadis, belajar, bekerja melupakan masalah yang terpendam.

”Iya, sebentar lagi selesai!” kata Krisa tanpa beban.

Namun yang dilihat Raka bukan Krisa yang tanpa beban, melainkan Krisa yang menyembunyikan beban itu atau belum tahu dan tak tahu beban itu berakibat pada perkembangan perilaku seperti yang dilihatnya pada Gadis dan juga dirinya. Krisa sepertinya mengingatkan Raka pada Gadis yang bekerja di siang hari dan masih harus belajar di malam harinya, bahkan menyempatkan menengok ibunya masih bekerja.

“Ibu, tidak istirahat dulu?” tanya Gadis pada ibunya.

“Kamu juga belum?” sahut ibu Gadis, dan melanjutkan dengan santai, “Iya, sebentar lagi. Beberapa hari ini kelihatannya, kamu ada masalah. Kalau betul, ibu mungkin boleh tahu?” tanya ibunya melanjutkan percakapan dengan Gadis. Dan Gadis tidak menjawab bahwa ia mempunyai masalah karena Raka, melainkan, “Beberapa minggu lagi ujian. Aku ingin melanjutkan sekolah terus. Tapi apa mungkin bisa? Biayanya mahal. Berapa kue yang harus dijual agar bisa kuliah?”

“Ibu senang kamu berpikir sederhana sekali. Berarti Ibu salah duga. Ibu pikir ada teman yang mengganggu kamu. Kalau ibu malah punya pikiran menjual rumah, cari yang lebih kecil, yang penting kamu bisa sekolah. Tapi itu kalau dipikir. Lebih baiknya, ya, Gadis lulus dulu, sekolah nilainya bagus, kuliah. Biaya? Siapa tahu ada rejeki, nanti saja. Sekarang istirahat saja dulu. Besok masih banyak pekerjaan lho!”

“Kalau jual rumah, nanti tinggal dimana?” tanya Gadis.

“Kok, tinggal dimana?! Lha, sekarang kan masih di sini? Sekarang waktunya tidur. Kalau masalah tinggal dimana, ya, nanti dipikir kalau sudah dijual saja.” Sekali kali ibu Gadis menguatkan Gadis. “Sudah tidur sana. Biar Ibu beres-beres, nanti juga cepet-cepet tidur,” kata ibu Gadis memaksa.

Beberapa hari kemudian Raka mengikuti kebiasaan Gadis. Ia ikut mengambil kue buatan ibu Gadis dan menjualnya dengan bersepeda juga. Beberapa kali Gadis bertemu Raka, namun seolah tak kenal. Bahkan berkali-kali bertemu ketika ibunya memberikan kue jualannya pada Raka, tak disapa Gadis sekalipun. Namun Raka berkeras dan seperti tak berusaha untuk mendapatkan sapaan Gadis. Ibu Gadis seringkali memperhatikan kedua remaja itu, begitu pun dengan pembantu-pembantunya, dan mereka sepertinya sepakat bahwa kedua remaja itu sepertinya saling kenal, tetapi masih memendam masalah masing-masing.

Raka dan Gadis seperti berlomba-lomba untuk menjual lebih banyak, bekerja lebih keras dengan bersepeda. Mereka mengambil dan menjual kue-kue dengan menitipkan di toko-toko, dan mengumpulkan uang hasil penjualan dan menyerahkan pada ibu Gadis. Gadis menjual di sekitar kampung, sedangkan Raka menjualnya di sekitar rumahnya yang lebih dekat kota.

Raka bukan lagi remaja badung dan berkumpul dengan teman-teman badung, tetapi malah sudah meninggalkan mereka. Perubahan yang sangat mencolok yang membuatnya kelelahan. Namun kebahagiaan tampak terlihat di wajah Raka. Ia menjadi perhatian pada adiknya dan juga urusan sekolah. Hingga waktu kelulusan sekolah, ia pun berhasil melewatinya.

Mereka masing-masing memiliki pilihan yang berbeda. Mereka benar-benar berpisah tanpa saling tahu masing-masing. Dan masing-masing masih terus bersepeda. Seakan-akan bersepeda telah menyatu dengan mereka, ke kampus, dan lain-lain dengan bersepeda. Raka benar-benar menjadi pekerja keras dengan berkulih sembari magang di satu perusahaan. Dan Gadis lebih banyak kuliah saja tentang psikologi: tentang hubungan antara masalah dan manusia. Dalam satu kesempatan Gadis membuat satu tulisan tentang manusia dan masalahnya, yaitu: Manusia bermasalah jika ia dan masalahnya menyatu, tidak menyadari adanya masalah di dalam dirinya. Dan tipe yang lain yang lebih aman manusia berada di luar masalah, atau sadar ada masalah di dalam dirinya. Gadis menggambar manusia yang bermasalah dengan menuliskan masalah menempel di tubuh. Sedang tipe lain, manusia sedang melihat kata masalah di samping tubuhnya. Setelah menulis ini, Gadis tampak sangat bahagia, wajahnya cerah, dan menguasai diri, sangat berbeda dengan masa sekolah. Dan entah kenapa setelah menulis itu tiba-tiba ia teringat pada Raka. Ia kemudian menuliskan sesuatu tentang Raka.

“Raka berarti retak. Apa yang retak Raka? Jiwamukah? Sehingga kau memberiku bunga setelah baru saja kau memutus hubungan dengan Nia?’

‘Kakiku seperti mau patah dan, ya, sudah, selesai, karena sakit yang lama itu terulang lagi. Tetapi syukurlah, ada Ratna yang menolongku, sehingga aku tidak terluka begitu parah. Malah, apa yang kau buat itu membuatku mengayuh sepedaku lebih cepat, lebih cepat dan lebih cepat lagi.

Sepeda, hanya sepedalah yang bisa membawaku sampai ke tempat yang setidaknya dari sini, sekarang ini, makin jelas kulihat, sudah terlihat. Mungkin aku pikir tak jauh lagi. Sepeda yang mengantarku, belajar, kuliah, dan mendapati kesadaran bahwa ketika luka tak bisa disembuhkan, satu-satunya cara untuk tak merasa sakit adalah dengan melupakannya.’

‘Kau ingat danau itu, tempatmu minta maaf? Maaf? Apa guna? Permintaanmu itu kupikir hanyalah angin lewat, tak membuat rasa sakitku berkurang, atau juga tak akan menyembuhkan retakmu. Atau mungkin, luka di diriku telah membuatku memacu diri hingga tak peduli dengan permintaanmu, atau malah aku tak tahu apakah arti permintaan maaf itu?’

‘Lucukah?’

‘Ya, lucu, kalau mengingat waktu itu, mengingat diriku yang begitu rapuh. Mungkin kita sama. Kau begitu jelas tahu apa arti maaf, tetapi kau juga tak bosan membuat luka. Aku, yang bahkan tak berani membuat sakit, ternyata tak pernah merasa perlu memberimu maaf. Sama seperti sepeda itu mungkin lelah dan aku tak pernah minta maaf. Sepeda yang tak bicara, telah kubawa ke mana aku suka, hanya demi sebuah: pelarian. Lari dari bayang-bayang di belakang yang tak pernah mengejar. Lari dari sakit oleh perbuatan sang waktu.’

‘Tetapi beruntunglah aku. Dengan sepeda ini aku telah mampu menempuh jarak dan mengayuh waktu, hingga sekarang mampu menuliskan kelucuan pada waktu itu. Ya, histerisku sekarang menjadi lucu, setelah aku menyadari sakit oleh sang waktu lebih terasa daripada sakit dari perbuatanmu. Ya, seperti danau di sana yang mampu mendinginkan ketakutanku pada bayang-bayang itu, tampaknya sepeda ini juga akan mengantarku pada sebuah danau yang lain. Danau yang mungkin tak tersentuh karena terlalu jauh, yang mungkin tak diketahui oleh orang lain karena mereka pikir danau itu tak pernah ada.’

‘Ah, mengapa aku menuliskan ini? Ataukah, ini hanyalah sebuah kejujuran karena setidaknya aku telah mampu melihat danau lain itu. Danau yang hanya bisa kucapai setelah mengayuh waktu, menempuh jarak. Danau yang begitu luas.’

‘Kalau kau datang sekarang dengan bunga itu, mungkin aku yang sekarang akan bilang, “Apakah kau yakin bahwa akulah yang pantas kau beri? Tidakkah ada gadis lain yang  pantas? Bagaimana kalau ternyata, waktu yang tak pernah mundur memberimu kesempatan yang lebih baik, dan memberiku kesempatan menemukan yang lebih baik? Maukah kau datang lagi, ketika kita, bersama, telah sampai pada kesadaran pada satu waktu itu?’

‘Ah, jawaban yang mengada-ada, karena kau tak pernah memberiku bunga lagi. Tetapi itu jawabanku yang jujur, karena aku ingin sampai di danau itu lebih dulu. Danau yang luas, sejuk, hanya aku sendiri di sana. Danau yang jauh terlalu jauh, luas terlalu luas. Danau yang kurasa ada di dalam hatiku sendiri.’

Tulisan itu seperti surat. Tetapi tak pernah dikirimkan pada Raka.

IMG20170713172039

seminyak sky

Gadis kembali sibuk dengan kuliahnya dan juga dengan sepedanya. Bahkan satu waktu dia mengayuh sepedanya untuk kembali ke rumah. Dari tempat kuliahnya ke rumah, perjalanan yang cukup jauh. Jalan yang sibuk meski tak terlalu ramai. Mobil, motor, saling menyelip, menderu, ramai. Gadis dengan santai mengayuh sepedanya. Satu saat, mobil, motor di jalan raya tak bersuara, senyap. Satu mobil membanting arah, ke arah Gadis yang mencoba menghindar.

Akhirnya sebuah ambulance meraung-raung. Ia harus tergeletak di rumah sakit. Ratna, Andi, Ibu Gadis menjenguk, sedih, tanpa bicara. Raka juga ada di sana. Raka membawa karangan bunga dan berpakaian jas lengkap, didampingi Ratna dan Andi, “Dis, aku sengaja membawa mereka bersama-sama. Agar mereka tahu, aku minta maaf, dan mau menyerahkan bunga ini, kamu cepat sembuh, I love you.” Ibu Gadis baru tahu kalau Raka mencintai Gadis.

Satu hal yang tak disadari Raka, di kamar itu Gadis sudah duduk, berjalan, terbang, ke sana ke mari, tetapi sebagai hantu yang diam, melihat Raka. Hantu Gadis yang dari wajahnya terlihat bahagia. Ia sudah menjadi sosok hantu cantik yang berpakaian serba putih, modis bersamaan dengan satu kupu-kupu mengepakkan sayap di perdu. Hantu Gadis mencermati kupu-kupu di luar ruang rawat itu, begitu pun Raka. Dan Gadis, yang koma, akhirnya meninggal.

Raka tetap aktif dengan kegiatannya, kuliah, magang arsitektur, bersepeda, dan tanpa disadarinya selalu diikuti oleh Hantu Gadis yang tak terlihat olehnya. Raka merasakan ada yang memperhatikan. Raka kadang menengok ke kiri ke kanan sendiri. Hantu Gadis mengikutinya terus. Malam hari, Raka sedang begadang menggambar. Hantu Gadis di dekatnya. Raka terus celingukan karena merasa ada yang memperhatikan. Bahkan Gadis berbicara kepadanya, “Ka, minum dulu?” dan tanpa sengaja Raka minum. Setelah minum, ia celingukan karena merasa ada yang memperhatikan. Raka makin kebingungan, sampai-sampai membuka jendela dan mengamati sekeliling.

Kehadiran Hantu Gadis ini sebenarnya selalu ditandai oleh adanya kupu-kupu, yang kurang disadari Raka. Hantu Gadis sering mengingatkan bila Raka perlu, misalnya membangunkan Raka yang ketiduran, mengingatkan Raka untuk sekedar minum ketika lembur, dan lain-lain.

Akhirnya Raka menyadari keanehan ada di dirinya. Ia sadar seperti selalu ada yang mengikutinya. Secara kebetulan ketika Raka sedang beristirahat di dekat kolam air di taman rumahnya, ia memberi makan ikan di kolam itu. Tanpa disadarinya, selalu ada  getaran air yang mengikuti getaran air setelah ia melemparkan makanan ke kolam itu. Setelah ia cermati, seperti ada yang mengikuti lemparannya. Beberapa kali ia ulangi, dan begitu terus. Pada saat yang sama ia melihat ada kupu-kupu di satu bunga taman itu. Seketika itu juga ia kaget. Tidak hanya sekali itu ia melihat kupu-kupu. Ia telah melihat di rumah sakit dulu, di tempat magangnya, di kampusnya, di rumahnya, di semua tempat. Ia segera mengumpulkan ingatan-ingatannya, dan berujung pada kupu-kupu pertama, di rumah sakit ketika Gadis meninggal. Ia segera sadar, Gadis ada di dekatnya.

Karena itu ia kembali ke danau dan di sana ia menjadi emosional merasa bertemu dengan Hantu Gadis. Tetapi ternyata itu hanya khayalannya saja. Ternyata ia sendirian. Antara yakin dan tidak, ia menceburkan diri ke danau, dengan maksud mempersatukan diri dengan Hantu Gadis. Tubuhnya melayang di dalam air danau, tenggelam hingga beberapa lama tanpa usaha untuk berenang. Tiba-tiba satu tangan cepat menariknya mengangkatnya ke permukaan. Gadis yang berpakaian serba putih telah mengangkatnya. Dan mereka pun bisa saling berkomunikasi. Gadis marah, “Hidup Raka! Hidup!” Sebaliknya Raka merasa punya hak mengikuti Gadis. Mereka saling debat, dan Gadis tidak mau Raka bertindak seperti itu.

Raka yang gagal mengikuti Gadis, kembali melanjutkan aktivitasnya. Setelah peristiwa danau itu, mereka bisa saling berkomunikasi. Dan Raka merancang kafe apung di danau itu. Hingga selesai dibangun.

Raka kembali berkumpul, bersepeda gunung bersama teman-temannya. Mereka bersenang-senang, naik dan menuruni bukit. Tetapi Raka kecelakaan. Hantu Gadis memanggil-manggil, menangis, histeris di antara teman-teman Raka. Raka masuk rumah sakit. Adik dan ibunya, dan juga Gadis di samping Raka. Hantu Raka terlihat tersenyum, sedangkan Hantu Gadis sedih. Ibu Raka terdiam melihat Raka yang tergeletak sedangkan Krisa berkata, “Kak, cepat sembuh. Nanti siapa yang aku tanya? Siapa yang bilang ke aku selamat malam, Kak?” Setelah berhenti sejenak, ia baru mulai sesenggukan, menangis.

Hantu Raka berjalan di tepi danau bersama dengan Hantu Gadis. Beberapa pengunjung yang memancing masih tampak. Hantu Gadis tak gembira lagi. Hantu Gadis khawatir, sangat khawatir kalau Raka sampai mati, sedangkan Raka sangat dingin, seperti dulu sebelum berubah. Mereka berdebat, “Kamu harus hidup Raka. Ibumu, adikmu masih mengharapkan kehadiranmu.”

Tetapi Raka membalas, “Bukankah ibumu masih mengharapkanmu juga?”

“Ka, beda! Kami orang yang sudah terbiasa. Kami hanya menghadapinya. Bahagia atau tidak bagi kami tidak ada bedanya. Ada atau tidak ada aku, tidak ada bedanya. Kami sudah lama saling kehilangan. Kami sudah biasa. Kami hanya mampu menghadapi saja.”

Dan Raka kembali bicara, “Ibumu mencintaimu Gadis.”

Gadis marah oleh kata-kata Raka, “Memang! Tetapi apa daya dia kalau keadaan yang memaksa menerima apa adanya saja.”

Raka mulai bercerita tentang Gadis yang dilihatnya, “Bukankah kau bahagia di sini? Aku melihat ketika hidup kau adalah orang yang bahagia, naik sepeda, jual kue, punya danau. Aku tidak punya. Kamu membuatku bahagia. Kamu yang mengajarkan apakah mau bersepeda atau tidak. Ternyata sepeda pun tak membuatku lebih susah. Aku tidak punya pilihan-pilihan seperti kamu, Dis.”

Gadis membalas tenang, “Apakah menurutmu, bagimu, itu masih penting? Seberapa penting pilihanmu, bahagiamu dengan kebahagiaan mereka? Lalu untuk apa kau bekerja siang malam, bersepeda tanpa lelah? Itukah bahagiamu, Ka?”

Gadis berkata seperti ketika menanyakan bahagiakah Raka pada waktu mereka di danau dulu.

Malam hari Hantu Gadis sendirian di tepi danau. Ia melihat lampu-lampu di kafe di antara gelap. Terlihat beberapa orang masih memancing, dan beberapa pengunjung lain menikmati malam. Ia mencelupkan kakinya di air danau dan berkata pada dirinya sendiri, ”Kau benar Raka. Aku berhak bahagia, tapi hanya kalau kamu hidup.” Ekspresi wajah Hantu Gadis terlihat kembali seperti awal, kebahagiaannya tidak sama lagi.

Sementara Raka masih di rumah sakit, Krisa duduk dan diam di teras, dengan ekspresi seperti wajah Gadis ketika di masa sekolah. Wajah yang rapuh, karena kehilangan yang diharapkannya. Ia mencari-cari di teras itu mencari sesuatu, merasakan ada sesuatu tapi tak terlihat. Dan yang dilihatnya hanya kupu-kupu yang terbang ke sana ke mari, dari perdu satu ke perdu yang lain. Hingga kupu-kupu itu terbang menjauh dan Krisa terdiam, melihat kupu-kupu itu terbang.

Roller Coaster

IMG20170714175347 - Copy

 

Jimbaran beach welcoming the people enjoy the dawn

 


Ketika kami mengakhiri debat, ia tahu bahwa aku masih menunggunya mengetuk pintu, untuk berbicara lagi saling memberi tahu bahwa kami tidak benar-benar berpisah. Sebenarnya ia pun tidak benar-benar pergi begitu saja. Aku tahu ia masih duduk di teras kecil yang hanya berisi satu meja dan dua kursi itu. Tetapi, saling diam akhirnya memang yang kami lakukan.

“Kalau kau ingin perpisahan, kau harus peluk aku! Untuk terakhir kali,” katanya datar tak mau berpisah sembari berdiri merentangkan tangan.

“Kalau kau tak ingin perpisahan, jangan ikut serta permainan itu,” balasku acuh melawan permintaannya dengan berdiri bersedekap dan tak lama kemudian masuk kamar.

Permainan yang aku tolak adalah permainan yang sedang ramai sekali diperbincangkan masyarakat kota, baik yang muda maupun yang tua. Permainan yang menurutku sebenarnya tidak mereka ketahui benar-benar. Mereka hanya tahu permainan itu menarik, mendebarkan, memicu adrenalin dan entah apa lagi yang mereka rasakan. Permainan yang menurutku menipu, palsu, hanya menginginkan keuntungan finansial semata.

Pemain adalah para undangan yang memang benar-benar memenuhi syarat dengan tes yang bermacam-macam, yang tertarik dengan tantangan, saling mengalahkan, yang mereka sebut para juara. Dan mereka, seperti Pantheon, benar-benar pilihan, dan masyarakat telah tahu itu dengan pemberitaan dan iklan-iklan yang menarik sekali. Namun bagiku, itu hanya cara mereka untuk menarik banyak orang datang  dan menyaksikan saja. Palsu semua palsu, bagiku dan bagi orang-orang yang sepaham denganku.

Semua berawal dari dibangunnya sebuah teluk dengan megaproyek yang benar-benar membuat decak kagum, beberapa tahun. Sangat beralasan ketika pemerintah membuatnya untuk mengatasi banjir yang sudah tidak bisa ditanggung lagi mengganggu kehidupan kota. Teluk yang sebenarnya adalah danau di tepi laut untuk menampung air laut pasang juga aliran sungai. Dan masyarakat yang terbiasa dengan banjir air laut, yang mengeluhkan kemampuan pemerintah, digusur dan dipindah. Lahan mereka dikeruk dan tempat lain diuruk dengan teknologi yang gila-gilaan.

Dampaknya, sebuah ruang baru tercipta, di atas dan dibawah tanah. Ruang yang begitu besar, hampir berupa teluk baru, tetapi dam panjang dan besar menjadi pembatas antara air laut dan air sungai membuatnya terlihat sebagai danau. Dan letaknya yang berada di ujung sungai pembawa banjir secara berkala, membuatnya terlihat sebagai teluk. Dan ternyata, beberapa tahun kemudian para pemilik modal mulai mengaduk-aduk peluang meraih uang di ruang baru itu. Gedung-gedung tinggi, stasiun kereta, tempat hiburan, taman, semua ada, dibangun dan cepat sekali.

Cerita yang panjang, terlalu panjang, karena aku dan generasiku tidak melihat langsung proses pembentukan teluk itu, melainkan hanya cerita dari orang-orang tua dan berita-berita di media. Cerita yang sebenarnya tidak terlalu kami risaukan. Tetapi generasi kami, sangat risau melihat kondisi yang sangat ramai di sana, baik secara sosial maupun karena banyaknya finansial yang mengaduk-aduk di sana.

Masyarakat sangat mudah ditarik ke sana, contohnya dengan festival sungai. Sungai menjadi tempat mereka menyalurkan kesenangan, kegembiraan, dengan perahu, dengan cahaya. Sungai dihias, didesain, dirupa, sehingga masyarakat tanpa terasa telah mencintai sungai yang berujung di teluk itu. Masyarakat yang suka dan masyarakat yang benci telah terbentuk. Semua melakukan kegiatan-kegiatan mengikuti; entah hanya pemikiran, dengan aktivitas  terbuka, atau yang perlahan dengan bersembunyi seperti kelompokku.

Kelompokku adalah orang-orang yang memanfaatkan teknologi, seperti juga para investor di sana menggunakan teknologi, bahkan sangat getol dan fokus pada teknologi itu. Kami melakukan penelitian-penelitian, percobaan-percobaan dan pengembangan-pengembangan mengikuti teknologi, dan tujuan kami adalah melawan. Teknologi sangat memainkan peran. Dan kelompok kami berpikir jernih untuk menciptakan teknologi serupa dan bisa menghancurkan teknologi yang para investor ciptakan. Teknologi inilah yang membuat kami tahu bahwa permainan di delta itu adalah palsu.

IMG20170714185030

 

Jimbaran Beach heat

 

Karena itu aku melarang Pantheon ikut serta di dalamnya. Pantheon hanya akan menjadi korban, meskipun hanya korban pemikiran, meskipun tidak  akan mengakibatkannya menjadi korban yang sesungguhnya. Tetapi bagiku bukan tidak mungkin ia akan menjadi korban secara harafiah, karena adanya pihak-pihak yang saling berlawanan, yaitu pihak mereka melawan pihakku. Dan pihak-pihak itu saling melawan dengan diam-diam, bersaing, saling mengalahkan. Yang aku perkirakan satu saat perlawanan bisa menjadi terbuka, mengambil tempat di teluk itu. Masing-masing pihak telah tahu, dan berhasil menciptakan alat dan teknologi yang hampir sama dan bersifat saling melawan. Dan masyarakat yang terbuai, bukan tidak mungkin akan menjadi korban dari pertarungan kami.

Hari dan waktu telah ditetapkan. Orang-orang telah berkumpul ramai sekali di lapangan terbuka yang disebut delta. Mereka telah siap dengan kacamata hitam besar membuat mereka terlihat seperti tawon-tawon yang berjalan tegak. Pandangan mereka terfokus pada teluk dengan air yang begitu luas begitu tenang yang hanya membentuk gelombang-gelombang kecil karena perahu-perahu motor yang berbentuk kapsul telah terparkir di sana dengan pengendara-pengendara yang telah siap pula. Pengendara yang juga serupa dengan tawon-tawon yang berjalan tegak berpakaian khusus untuk keamanan mereka; pakaian sport yang mencolok, berwarna serba keperakan. Mereka sebanyak dua puluhan orang, muda-muda, yang direkrut dari seleksi dan seleksi. Dan Pantheon bernomor tujuh.

Aku juga berada di sana, hanya saja bukan sebagai penonton, tetapi sebagai penyelundup, menjalankan aktifitas kelompokku. Aktifitas yang direncanakan oleh kelompok, untuk melawan, dan mengacaukan, tidak lebih dari itu, karena kami memiliki keterbatasan, sangat banyak. Tetapi kami sudah siap untuk mengejutkan. Kami bayangkan keributan yang terjadi karena masyarakat yang kacau pada saat kami mulai menjalankan program.

Sebelum Pantheon mulai berlomba, aku sempat menemuinya, dan akhirnya kami saling berpelukan. Saat itu masing-masing dari kami tahu bahwa pelukan itu berarti perpisahan. Tapi aku benar-benar sadar bahwa perpisahan telah terjadi.  Ia tidak tahu bahwa pelukan itu adalah usahaku untuk menanam transmitter di baju sportnya, yang akan mengirimkan dan menerima frekuensi dari kelompokku.

Permainan dimulai. Tepuk tangan membahana, dan beribu mata itu memandang ke arah perahu dan para pemain yang mengangkat tangan pada penonton. Manusia-manusia, tawon-tawon yang berjalan tegak dengan pakaian berseragam perak berbadan tegap hingga tak bersisa bagian tubuhnya. Musik mengiringi dengan dentuman-dentuman, terasa berat dengan ketegasan iramanya yang menghentak-hentak, seiring dengan pembawa acara yang berteriak membuat acara makin ramai, meriah.

Pemain sudah memasuki perahu-perahu, atau lebih tepatnya kapsul-kapsul yang akan membawa mereka memacu kecepatan untuk saling mengalahkan. Pantheon dipanggil dengan kode: TUJUH. Sementara pemain-pemain yang lain secara berurutan mendapat panggilan sesuai nomor urutnya. Sementara, transmitterku belum bekerja, yang kami yakin akan bekerja sesuai dengan yang kami rencanakan.

Para pemain mulai mengendarai kapsulnya dan mempercepat laju yang disambut dengan teriakan penonton. Masing-masing pemain menempuh jalurnya masing-masing. Jalur yang pada awalnya satu, sama, namun tak berapa lama jalur itu mulai pecah terlihat membentuk jalur-jalur cahaya di permukaan air. Dan yang mendebarkan adalah jalur-jalur ini terlihat saling bersimpangan. Banyak bersimpangan, hingga pemain harus hati-hati untuk menghindari tabrakan.

Pemain-pemain menyusuri jalur-jalur cahaya itu dengan kecepatan tinggi. Dan terlihat juga siapa yang berada di posisi paling depan. Mereka saling berlomba, meluncur, saling menyusul, menyalip, memutar, membuat manuver, membuat air bergelombang, membuat cipratan-cipratan tinggi. Mereka saling mengejar, adu cepat dengan terus di jalur masing-masing. Tetapi entah mengapa mereka seperti tahu posisi masing-masing, sehingga tampak mengejar dan memacu kecepatan. Mereka saling tak mau kalah.

Penonton makin ramai ketika ada pemain sampai di jalur-jalur cahaya yang terputus. Di bagian yang terputus ini para pemain membuat lompatan dan kembali turun lagi di jalur lanjutannya. Satu plat tiba-tiba menyembul dari permukaan air untuk pijakan lompatan, dan sebentar kemudian tenggelam lagi. Dan jalur-jalur yang putus ini bisa ada di satu tempat, saling bersilangan. Itu berarti pemain bisa saling bertubrukan di saat mereka melompat, melayang di udara. Dan persilangan ini banyak dan beberapa persilangan melibatkan beberapa pemain sekaligus.

Kaca mata menjadi pemandangan pokok di lapangan itu. Dua benda hitam cembung menonjol dari wajah setiap penonton. Dan jumlahnya ribuan. Benda yang bergerak ke kiri ke kanan mengikuti pembalap yang didukungnya. Terus-terusan bergerak aktif seaktif para pembalap yang memacu kecepatan. Kaca mata itu dilengkapi dengan batang yang lancip seukuran pensil, sedangkan di pangkalnya membesar berbentuk kotak sebesar kepalan tangan orang dewasa. Lampu kecil berwarna hijau berkelap-kelip tak berhenti.

Penonton sangat gaduh; teriakan, kekaguman, dan kengerian, terungkap dari mulut mereka. Mereka terus meneriaki pemain-pemain, dan masing-masing memiliki jagoannya, sehingga teriakan Satu, Satu, Satu, kadang susul-menyusul dengan teriakan Tujuh, Tujuh, Tujuh. Suasana yang sangat ramai. Dan pemain juga tampaknya sangat menikmati hal ini. Mereka semakin cepat, berkejaran, meskipun di jalur masing-masing. Sepertinya masing-masing juga semakin bersemangat, terlihat dari lompatan-lompatan yang mereka lakukan semakin tinggi. Pemain dan penonton saling menikmati adrenalin masing-masing.

Sementara aku masih menjalankan tugas dari kelompokku. Beberapa orang ada di tempat yang berbeda, menyebar di posisi masing-masing. Namun dari kaca mata yang kami pakai, bisa saling berkomunikasi, bisa memberi informasi-informasi tanpa saling bicara. Dari pihak penyelenggara, menyebar pula tenaga-tenaga keamanan dengan seragam yang merupakan satu kesatuan antara baju dan celana, berwarna oranye. Berbadan tegap mereka berkeliling dengan gerak-gerik wajah yang sangat waspada, sementara di baju mereka tersimpan senjata otomatis.

Beberapa pemain berada di depan, beberapa pemain tercecer di belakang. Namun masing-masing persaingan memiliki ketegangannya sendiri. Dari kecepatan yang saling beradu, hingga persimpangan yang saling mempertemukan jalur masing-masing, baik di permukaan air maupun saat melompat tinggi di udara. Dan lompatan ini sering kali menjadi ukuran seberapa tinggi kemampuan pemain dan seberapa mereka ingin menang. Tabrakan yang tidak ingin terjadi toh harus terjadi. Entah saling tabrakan, atau yang satu menabrak yang lain, baik tepat di badan maupun di bagian belakang.

Ketika permainan semakin ramai, tiba-tiba saja semua berhenti. Tak ada jalur permainan di permukaan air. Tak ada lompatan-lompatan di udara. Yang ada adalah pemain yang kebingungan dan memutar-mutar kapsulnya, saling mendekat saling bertanya. Sementara para penonton terdiam beberapa saat, sebelum beberapa saat kemudian saling pandang, saling menggelengkan kepala ke kiri ke kanan, mempertanyakan kepada penonton yang lain. Dan mereka mulai memegang, meraba-raba kacamatanya, seperti ada yang rusak. Suara mereka semakin ramai dari yang mempertanyakan alat, menjadi mempertanyakan apa yang terjadi.

IMG20170714180629

 

dawn at Jimbaran

 

Sedang aku masih waspada dengan informasi-informasi di kacamataku, sembari menggelengkan kepala, menengok ke kiri ke kanan, seolah kebingungan menirukan penonton yang lain. Di pihak lain, para petugas keamanan sekejap kemudian mulai membuat suasana semakin ribut dengan menerobos kerumunan penonton dan mencari sumber masalah yang adalah aku dan kelompokku. Mereka cepat sekali bergerak, berlari dan menangkap penonton yang mereka curigai, memegang kepala dengan dua tangan dan mengamati wajah, yang tak lain adalah mengamati kacamata yang dipakai. Hal ini membuat penonton makin gaduh.

Pembawa acara berteriak-teriak menenangkan penonton, menerangkan bahwa ada kerusakan, sehingga jalur balapan menjadi tidak kelihatan. Sembari memperdengarkan musik seperti di awal acara tadi, dia terus menerus menenangkan penonton.

Sayang sekali usahanya gagal karena satu dari anggota kelompokku tertangkap dan melakukan perlawanan, hingga akhirnya petugas keamanan melumpuhkannya dengan tembakan. Namun dia sempat meronta dan berteriak-teriak sehingga penonton seketika mengubah gaduh dan ketakutan. Oleh karena itu sebentar kemudian penonton pun mulai berlarian. Mereka mencari jalannya masing-masing untuk menyelamatkan diri. Sebagian besar berlari ke arah gerbang utama hingga menimbulkan keributan, riuh, kacau, tak terkendali.

Sedangkan aku menyelinap di antara penonton dan mendekati Pantheon yang tak tahu apa yang terjadi.

“Pantheon, ayo lari,” teriakku.

“Hah?” ia tak mendengar suaraku.

“Cepat naik, lari!” teriakku sekali lagi. Dan karena ia tak juga mendengar, akhirnya aku menerjunkan diri ke dalam air dan menyeretnya, ke dalam air. Mesin renangku mendorongku cepat menghindari tembakan-tembakan petugas yang dengan cepat mengejarku ketika aku mencebur ke lintasan air. Peluru-peluru berhamburan masuk ke air, dan aku beruntung terhindar dari tembakan mereka. Malang, Pantheon terkena tembakan di bahu dan pinggangnya.

Kami terus berlari melalui lubang gorong-gorong kota yang berujung di delta, dan segera berlari. Dengan tertatih-tatih Pantheon kupapah.

“Sekarang kamu tahu mengapa aku melarangmu?” tanyaku pada Pantheon.

“Tidak,” ia terbata-bata, lemah.

Dari jauh mulai terdengar langkah-langkah berlari para petugas keamanan.

“Mereka terluka. Ke sana!” mereka berteriak sayup terdengar olehku yang telah cukup jauh.

Kami menemukan bunker di bawah lapangan, dan beristirahat di sana. Aku menjelaskan pada Pantheon, bahwa permainan itu palsu hanya karena kacamata yang ia pakai. Jalur-jalur balap tadi hanya gambar di kacamata. Dan ketika aku lepas kacamataku dan aku pakaikan pada Pantheon, ia baru bisa percaya.

Sebentar kemudian aku harus pergi dan tak mungkin membawa Pantheon. Tempat persebunyianku telah diketahui. Pantheon sendirian. Namun sebelum aku meninggalkannya aku memeluknya sekali lagi.

“Perpisahan? Lagi?” ia bertanya.

“Ya. Yang terakhir!” kataku.

“Jangan bohong. Bawa aku,” katanya menahan sakit.

Ia tidak tahu aku telah menaruh peledak di punggungnya.

Aku tahu ia pasti tertangkap. Dan di lapangan telah terjadi pengamanan yang super ketat. Tapi aku memandangnya dari menara yang berseberangan dari lapangan. Dari sana terlihat jelas, Pantheon dibawa beberapa petugas, muncul dari bawah tanah. Mereka berjalan cepat sekali, mendekati gedung keamanan. Para anggota kelompokku yang tertangkap juga berada di sana. Aku tahu dari informasi di kaca mataku.

Aku menunggu beberapa waktu, sebelum akhirnya aku memencet tombol dan seketika itu juga terjadi ledakan listrik dahsyat. Hanya beberapa saat sesudah sebagian dari para petugas keamanan berlari keluar gedung.

Dari ledakan itu, ada susulan informasi-informasi di kacamataku, banyak dan cepat.

Hingga aku berjalan tenang meninggalkan lokasi awalku, menghindari para petugas yang tampaknya mengetahui keterlibatanku. Hingga aku berada di stasiun kereta bawah tanah pun aku masih melihat para petugas masih sangat sibuk mencermati keadaan di sekelilingnya.

Akhirnya aku tiba di markas. Dari sana pun aku bergegas, segera meninggalkan markas dan menurut informasi di kacamataku aku mendapat tempat di pelabuhan, tak sampai satu jam perjalanan dari delta.

Kegiatanku berhenti sementara. Hingga nanti akan ada aktifitas baru lagi.

Setelah kejadian itu aku tidak pernah bertemu Pantheon, tidak tahu apakah dia selamat. Hanya kadang berpikir, berandai-andai, bisa bertemu lagi dan merentangkan tangan.

Candlelita dan Besakih

Cinta itu menurutku persis seperti cerita; ada awal cerita, tokoh-tokoh, ada jalan cerita, tangis tawa, senyum cemberut.

Tetapi berhubungan dengan mereka berdua, cinta juga seperti garis yang dimulainya dengan sedikit lurus mengarah ke atas, melengkung ke kanan dan sedikit lebih panjang dari garis awal tadi, mencekung dan kembali naik. Garis ini kemudian sedikit melengkung sekali lagi seperti lengkungan pertama tadi tetapi mulai mengarah ke bawah panjang kemudian membentuk tiga gembungan kecil yang saling berdekatan dan setelah kembali sedikit lurus ke bawah garis ini kembali melengkung sedikit ke samping kanan dan membentuk lengkungan menggembung besar seperti lengkungan pelangi. Di atas lengkung pelangi ini tertulis huruf i dan disusul titik yang agak renggang dari huruf i itu. Setelah huruf i dan titik, ada lagi huruf t dan titik satu lagi dan huruf a. Semua huruf itu ditulis dengan huruf kecil. Di bawah garis paling awal ada gambar lingkaran pipih di atas dan tebal di bawah, seperti tetesan air. Sedangkan di atas cekungan sebelum garis itu turun ada gambar seperti gambar api mengarah ke atas berukuran lebih besar dari gambar yang seperti tetesan air tadi.

Sepertinya rumit, tetapi semua gambar tadi akan terlihat seperti lilin yang sedang menyala, melelehkan badannya sendiri. Gambar itulah yang ditunjukkan padaku, di pojok kanan bawah kertas yang ditunjukkannya. Sedang wajahku tergambar di kertas itu. Ia menandai gambarnya dengan tanda tangannya. Mengesankan bagiku melihat gambar wajahku hitam putih, yang aku memang tidak bisa membayangkan ada orang yang mau dengan rela melakukannya.

“Namaku,” dan ia menunjuk lengkungan garis di pojok kanan bawah, yang membuatku bingung hingga membalas ala kadarnya, spontan, “Lilin?”

Dan ia menyahut, ”Iya, tapi tidak tepat,” katanya tak beranjak dari tempatnya semula, tetap berdiri saja. Aku berdiri, dan mengajaknya bersalaman, “Reina.”

Ia tersenyum bersahabat menyambut uluran tanganku.

“Coretanku sepertinya tidak jauh berbeda dengan wajahmu,” katanya ramah.

“Iya. Bagus malah, jadi namamu siapa?” kataku serta merta saat ia memalingkan wajahnya hendak pergi.

“Itu namaku,” sekali lagi ia menunjuk gambarnya, sembari pergi dengan mengucapkan, “Duluan, ya.”

Itu awal pertemuan kami. Aku pikir namanya Lilin. Tapi aku juga berpikir namanya Ita. Dan setelah kami dan orang-orang di kelas itu saling bergaul beberapa hari kemudian, baru aku tahu namanya Candlelita. Ya, bodohnya aku, nama Candlelita ada di daftar absen yang beberapa hari aku tanda tangani. Tetapi memang aneh juga untuk menebak bahwa yang digambarkannya adalah lilin yang menyala dan meleleh dan dalam bahasa Inggris lilin disebut candle.

Satu kejadian lagi yang menggambarkan tentang cinta, bagiku, adalah roda motor sport yang melengkung karena dilindas mobil dengan sengaja. Sangat jelas dengan sengaja karena motor yang roboh terlindas tertekuk dan tidak bisa berputar lagi. Tak berdaya sama sekali. Kejadian yang mengejutkan bagi semua orang di kampus, bahkan bagi pemiliknya sendiri. Kejadian di satu siang yang membuat cerita tentang mereka, tentang cinta meskipun masih terlalu awal, menjadi hangat dan menjadi perbincangan yang terbuka seiring dengan kebebasan orang-orang menduga-duga. Dalam sekejap orang bertanya-tanya bagaimana roda itu menjadi tertekuk, dan ada yang menceritakan mereka lihat satu mobil terparkir di kejauhan dengan kaca depan terbuka dan satu wajah dengan jelas dan tenang memperhatikan orang-orang di sekitar motor dan kemudian menunjukkan jari tengahnya ke arah orang-orang di sekitar motor itu. Di dalam mobil Candlelita duduk di samping pemilik jari tengah itu. Wajah Candlelita tampak tak tenang dan berontak kepada orang pemegang setir.

Dua kejadian yang menurutku pantas aku ingat untukku dan bagi mereka.

Pagi itu kami berada di ruang kuliah. Hanya ada beberapa orang saja di sana. Saling diam, kecuali dua orang yang duduk saling berdekatan di kursi paling sdepan. Sedangkan Candlelita duduk di baris tengah di kursi paling pinggir, deretan tengah. Sedangkan aku duduk di deretan paling kanan dengan posisi yang serupa dengannya. Sudah kukatakan tadi kami saling diam kecuali dua orang itu. Tetapi Candlelita diam dengan mencorat-coret mencermati kertas di mejanya, dengan pensil ditangannya. Hingga satu per satu teman kami muncul di perkuliahan pertama kami, dan kelas penuh. Tangannya masih saja mengarah pada kertas yang dicermatinya. Sesekali saja ia memperhatikan perkataan dosen. Yang kumaksudkan adalah ia lebih fokus pada kertas dan pensilnya.

Oleh kejadian itu aku utarakan kebodohanku salah menebak namanya. Dan ia memberitahukan bahwa ia pernah berpikir memiliki papa yang aneh memberi nama anaknya Candle, bahasa Inggris, dicampur dengan lita dalam bahasa indonesia. “Ternyata tidak aneh juga, karena Lita itu diambil dari bahasa Inggris juga, little. Papaku memang aneh.” Dan ia sedikit tertawa.

“Jangan-jangan papaku juga sama aneh dengan papamu. Reina, diambil dari kata rain dalam bahasa Inggris,“ dan kami tertawa bersamaan, ”Aduh! Bukan tidak mungkin!”

Pertemanan kami semakin akrab. Dan setelah berjalan lewat satu semester, di satu hari  ketika kuliah kami sedang berjalan, seorang mahasiswa terlambat masuk beberapa menit dan dengan acuh ia duduk di belakang Candle. Dosen memandanginya, seperti melayangkan teguran tanpa kata-kata. Teguran yang menyeramkan bagi kami mahasiswa baru daripada teguran dengan kata-kata. Dosen itu terlihat garang. Tetapi aneh juga ia hanya mencermati mahasiswa itu.

Bocah, begitulah lama kemudian kami memanggilnya, itu terlihat cuek; bukan cuek yang tidak peduli, tetapi sepertinya ia lebih sibuk dengan kegiatannya sendiri daripada kuliahnya yang terlihat dari penampilannya; kemeja gombrong, celana jins tanpa setrika, dan rambut yang acak-acakan.

Waktu berlalu sepertinya lewat begitu saja, persis si bocah. Pagi berganti siang, berjalan sore, berubah menjadi minggu, bulan dan semester, tak ada yang penting. Hanya datang di kuliah, tanpa tegur sapa. Begitu pula di semester berikutnya. Hingga hari itu si bocah duduk tepat persis di belakang Candlelita. Dan kuliah pagi itu berjalan seperti biasa, tak ada yang istimewa. Namun ketika kuliah berakhir, tiba-tiba saja Basakih meminjam buku Candlelita dengan cara menyahut dan tanpa basa-basi sama sekali. Candlelita langsung terperanjat, kaget dan setengah berteriak, “Hai, kembalikan!”

“Aku pinjam, besok aku kembalikan!” kata Basakih cepat dan segera beranjak pergi. Dan Candlelita tak menyerah begitu saja.

“Kamu apa-apaan?” kata Candlelita mengejarnya.

Aku lihat mereka saling berdebat dan setahuku akhirnya Candlelita menyerah dengan menatapku dan tak bisa melakukan apa-apa. Basakih berjalan meninggalkan Candle, seperti tak peduli.

Karena kejadian itu kami menolak, tidak menerima Basakih menjadi satu kelompok dalam satu tugas. Sebagai balasan penolakan kami, Basakih menempel satu gambar karikatur dosen galak di papan pengumuman. Tanda Candlelita di pojok kanan bawah kertas. Akhirnya Candlelita mendapat panggilan dari dosen tersebut. Nama Candlelita diolok-olok karena hal ini.

Kejadian ini berbuntut panjang, melibatkan laki-laki yang selama ini mengantar Candlelita dengan ditabraknya motor Basakih yang membuat rodanya melengkung tak bisa bergerak. Basakih pun mati kutu. Dan Candlelita menjadi pemurung karenanya. Setahuku, setelah berjalan beberapa minggu kemudian, dia tak pernah diantar lagi. Dia berangkat sendiri, dan pulang pun tanpa dijemput lagi. Sepertinya satu cerita selesai, ketika aku lihat Candle tak murung lagi. Meskipun aku tidak bertanya mengapa ia tidak pernah diantar jemput lagi. Mungkin satu hari nanti aku akan tanya, mungkin juga tidak.

Tetapi ada kejadian lagi menyusul, di kantin kampus. Entah kenapa di kantin ada banyak balon. Dan mata pengunjung di kantin mengarah ke kami, dengan pandangan sinis. Setelah aku mengamati ternyata balon-balon itu adalah kondom yang ditiup, menggembung. Entah apa yang dipikirkan oleh orang-orang itu, tetapi aku jelaskan bahwa aku pekerja sosial di satu lembaga yang berkonsentrasi dengan AIDS. Akhirnya kami membagikan brosur kepada mereka semua, tentang kegiatanku. Lagi-lagi kami harus berang dengan kelakuan si bocah.

Hanya karena masalah kelompok, cerita ternyata berlanjut hingga saling menjatuhkan antara aku dan kelompokku dengan Basakih seorang.

Memang akhirnya kami bisa berbaikan lagi setelah Basakih, mau tidak mau kami panggil dengan Corox: cowok jorok. Coro adalah binatang yang hidup di tempat-tempat kotor, gelap, jorok. Lama kami tidak berkontak dengan si corox. Dan nama corox beredar di antara kami saja. Namun begitu akhirnya, si corox juga mendengar, bahwa panggilan kami untuknya adalah corox. Dan dengan itu kami sepertinya puas, maklum dengan kelakuannya, dengan satu syarat: dia kami panggil corox.

Di satu waktu, kampus mengadakan satu pameran. Corox terlibat dengan pameran layang-layang, yang mengganggu kuliahnya selama ini. Dia rupanya juga seperti kami, punya kegiatan di luar kampus. Entah mengapa, aku tidak tahu, dia lebih memilih layang-layang daripada kuliah.

Romannya, Corox membawa segelas minuman ringan, rupanya dia siapkan untuk Candlelita. Tapi rupanya Candlelita tidak terlalu suka, ia menolak. Hingga sembari melihat-lihat yang pameran Basakih, Basakih minum sendirian. Entah gelas yang ditawarkan tadi sudah dimana. Gantian, kami mengerjai Basakih, meminta minuman yang ditawarkan tadi.

“Sudah aku berikan ke penjaga pameran,” kata Basakih.

“O, jadi tidak tulus, ya?” balas Candlelita, “aku bukan tidak mau, tetapi biar kamu yang bawa. Mana, aku haus.”

Candlelita menceritakannya padaku dengan tertawa-tawa. Rupanya dia balas dendam. Aku ikut tertawa, dan merasakan keberanian Candlelita, karena bisa memaksa si Corox membawakan minuman, sembari melihat-lihat pameran itu.

Semenjak saat itu kami semua sibuk dengan kuliah dan kegiatan kami. Dan tetap berurusan juga dengan Corox, meskipun sangat sedikit hanya untuk kegiatan di luar kampus. Dia lebih banyak aktif di luar kampus dengan kegiatan layang-layangnya. Jika ditanya kapan mau lulus dia akan dengan mudah menjawab, tidak tahu. Dan jika ditanya mengapa selalu sibuk dengan layang-layang bukannya selesai kuliah, dia akan menjawab karena suka. Dan kalau ditanya apa berarti tidak suka kuliah, dia menjawab sepertinya iya. Pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya adalah akan seperti apa layang-layang itu dikaitkan dengan masa depannya; pasti dia jawab tidak tahu juga.

Sementara Corox masih sibuk mengurusi layang-layangnya, kami sudah lulus dan berpisah di tempat kami masing-masing. Candlelita pun sudah lulus dan bekerja, sementara Basakih masih kuliah. Begitulah kita berpisah, mengurus masa depan maing-masing. Kami saling berbeda kota. Namun begitu ternyata masih ada waktu untuk bertemu. Sesekali saja. Biasanya pertemuan itu antara aku dan Candle, hanya untuk bertemu kembali, berbagi cerita soal pekerjaan.

Basakih masih terus menyukai layang-layangnya. Ia semakin meninggalkan kuliahnya, pergi dari kota yang satu ke kota yang lain dengan layang-layangnya, beberapa hari, kadang beberapa minggu. Dia semakin aktif dengan layang-layangnya. Apalagi bila musim layang-layang. Dia bisa berkunjung dari satu kota ke kota lain, dari festival ke festival yang lain.

Basakih satu waktu mengundang Candlelita bertemu di satu festival layang-layang. Di acara itu Basakih mengatakan kalau ia ingin menjalin hubungan serius. Mereka menerbangkan layang-layang dengan bertuliskan nama Candle. Entah hubungan apa dan dalam rangka apa mereka saling bisa bertemu. Syukurlah Candle cukup kuat menahan perasaannya. Ia tidak  menerima begitu saja. Yang membuatku kasihan, ternyata dia tidak bisa menolak. Ternyata cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan. Namun memang tidak bisa juga bertepuk dua tangan. Bodohnya Basakih, mengapa ia tidak segera lulus dan bekerja sehingga Candle tidak terlalu susah untuk memutuskan. Hanya itu saja cukup. Ah, Basakih, begitulah Basakih. Aku bilang kurang dewasa, atau tidak bisa berpikir dewasa. Dia tidak mungkin selamanya kuliah sembari membuat festival layang-layang.

“Selesaikanlah kuliah itu,” kataku pada Basakih, ”tidak susah kok, satu dua bulan selesai. Kalau kamu anak sekolah, suka dengan temanmu, kamu bisa bicara seperti itu. Kita sudah bekerja, mana mungkin mau terima dengan perasaan seperti itu sedang kamu tidak jeas?”

Namun hari itu cukup mengejutkan karena ia mengatakan ia akan mulai mengerjakan skripsinya. Mengejutkan. Dan ketika ia kutanya untuk apa, ia hanya menjawab ada alasan. Apakah ia sudah bosan dengan layang-layang, ia menjawab bahwa ia akan menghabiskan masa tuanya dengan berjualan layang-layang. Dan ketika ia kutanya bagaimana kabar Candlelita ia hanya menjawab, sudah lama tidak tahu kabarnya.

“Bohong! Kamu tidak tahu kami saling telpon? Baru minggu lalu, dan dia cerita Corox mengganggu terus! Iya?” sanggahku pada Corox.

Dan semua selesai hanya dalam waktu empat bulan. Proses yang sepertinya dibencinya itu ternyata mampu diselesaikannya dalam waktu yang cepat. Ketika aku mencandainya ia menyelesaikan kebenciannya ia mengatakan bahwa yang aku katakan itu benar. Ia sebenarnya benci dengan kuliahnya. Hanya satu tuntutan yang membuatnya mau menyelesaikan adalah LSM tempatnya bernaung mensyaratkan satu ijasah. Dengan ijasah kelulusan itu akan terlihat lebih afdol, kompeten. Dan akhirnya ia memang lulus.

Dia bercerita, di wisudanya pun tak ada orang kenalannya yang hadir.

“Bapak ibuku bilang tidak tahu kalau aku lulus,” kata Basakih di telponnya.

Seperti biasa setiap ia telepon, pasti ditanyanya kabar Candle. Sudah lama mereka tidak bertemu, ingin bertemu.

“Menurutku, bakalan tidak mudah. Masih tetap susah, “ kataku padanya.

“Kau bilang, kalau aku bisa lulus, akan lebih mudah,” katanya.

Dan ia tertawa karena merasa sudah tertipu, merasa konyol.

“Bagaimana mungkin Corox dikonyoli oleh perempuan? Bukannya perempuan takut Corox?” tanyanya.

“Bukan seperti itu. Pokoknya bukan seperti itu!” kataku tak bisa bicara lagi.

Candle sudah bekerja cukup lama, dia juga tidak ingin tetap begitu-begitu saja. Ia masih mau mengejar karir. Bagaimana kalau Corox itu dianggap tidak bisa mengikuti tujuan Candle? Aku malah ikut pusing memikirkan mereka.

Hanya yang tidak disangka darinya, tiba-tiba saja mencalonkan diri menjadi anggota dewan. Sesuatu yang sangat susah, yang harus diperjuangkan bertahun-tahun oleh politisi. Tapi ia menang, beruntung. Rupanya ia sudah dikenal dengan layang-layangnya selama ia kuliah, bahkan sudah memperpanjang masa kuliahnya. Dan selalu saja, ada warga terlibat dalam kegiatan itu. Dan ya, pantas kalau melihat kota-kota yang ia datangi, dan lembaga sosialnya. Mengejutkan, bahkan ia sendiri pun juga terkejut dengan hasil yang diperolehnya. Ia berterus terang bahwa ia mempunyai niat memperjuangkan yang selama ini menjadi perhatiannya.

Akhirnya mereka berdua aku pertemukan. Basakih yang anggota dewan, tak lagi terlihat sebagai Corox. Ia sudah bisa terlihat rapi.

“Kalau kamu sudah rapi seperti ini dari jaman kuliah, mungkin tidak terlalu susah untuk mendapatkan seorang perempuan,” kataku melirik Candlelita, dan Candlelita melirik Basakih, dan Basakih melirik Candlelita.

“Ya, sudah, aku mau cepat-cepat makan. Sudah banyak cerita dari Basakih, kalau dia curhat di telpon, sudah banyak cerita dari Candle di telpon dan di pertemuan kami. Selanjutnya terserah kalian,” kataku pada mereka berdua.

Tanpa setahu mereka, aku sudah atur kencan dengan pacarku, tidak jauh dari meja mereka. Aku sengaja memunggungi mereka, sok tidak peduli. Toh aku bisa bertanya pada pacarku yang melihat mereka secara langsung.

Aku tahu cinta antara mereka, alur yang sederhana atau rumitnya, kosong dan isinya, dari pembicaraan Candlelita dan Basakih, dari cerita-cerita, peristiwa-peristiwa yang sudah mereka lewati dan banyak. Dan aku pikir mereka harus memulai, membuat cerita sendiri dan hanya mereka yang tahu, dan tidak melibatkan aku.

 

 

  1. Bintang Langit

 

Aku menulis cerita ini di tengah malam. Suara hujan yang tinggal sisa-sisa menjadi teman; persis sama dengan suara air di kali yang bening itu. Aku sedikit memaksa diri, karena sudah kumulai dari mana-mana namun tak juga ketemu. Hingga terus kupaksa saja.

Untukmu temanku. Teman yang mungkin paling setia, karena kau tak lain ciptaanku sendiri. Kau yang sudah uzur dan tulang-tulangmu yang tak lagi bertenaga; atau kau adalah satu kaki yang ditinggal pasangan sebelahmu; atau kau setitik air sisa hujan yang turun membadai sedari sore tadi; kau mungkin adalah diriku sendiri, yang sengaja aku hidupkan; kau adalah sel, satu sel, dan itu cukup, yang menggelitikku ketika sendiri; yang mengajakku membuka mata di tengah malam senyap biarpun hanya untuk sekejap.

Cerita tentang satu sel, di pohon jambu di pinggir kali yang bening itu.

Penyair itu tentu tak tahu seberapa lembut ia, embun itu. Aku yang tahu, karena aku tinggal dan hidup bersamanya di daun jambu di pingir kali yang bening itu. Meskipun aku menganggapnya sebagai pengganggu. Pengganggu terhadap makan lahapku. Pagi-pagi, saat aku hendak mulai melahap daun jambu yang segar itu, ia mencegatku dengan basahnya.

Tetapi setidaknya aku masih bisa merasa beruntung. Penyair itu tak memasukkan sifat lahapku dalam lagunya. Seandainya ia masukkan, aku tentu lebih benci kepada embun itu. Mengapa ia seberuntung itu, sehingga dipadankan dengan kelembutan sang Camelia*), sedangkan aku hanya makan, makan, dan makan saja?

Apalagi ilmuwan itu. Dengan seenaknya, ia mengatakan, “Di hidupnya ia hanya makan dan makan saja. Tak ada kegiatan lain. Tiap detik, tiap waktu ia selalu makan. Lihat, tubuhnya hijau gendut. Kita tak tahu, apakah bila ia diberi daun berwarna merah tubuhnya akan berwarna merah. Tetapi aku rasa tidak. Tetapi yang pasti ia akan gendut, karena ia makan dan makan melulu.”

*) Camelia I, lagu Ebiet G. Ade

Plak! Aku tampar dia, lalu aku pukul, atau aku muntahi dengan daun yang baru saja aku kunyah. Aku semprotkan ke mukanya. Uh, namun sayang semua itu hanya seandainya aku bisa. Mengapa ia mesti memakai kata-kata itu untuk sifatku? Bukankah aku makan hanya karena memang aku, sifatku, seperti itu adanya? Malah aku dijepitnya dengan besi di tangannya dan dimasukkan ke dalam stoples kacanya, dan dikunci dengan tutup yang diputarnya.

“Hai, ilmuwan jelek!” aku berteriak sambil berusaha memuntahkan daun-daunku, tetapi daun-daun itu tak keluar sama sekali.

“Hai, ilmuwan jelek!” mengeras teriakku dari dalam stoples. “Kau bawa ke mana aku?” Usahaku makin menjadi-jadi.

Tetapi mengapa aku menangis? Aku tidak mau menangis. Aku akan terus berusaha, meronta dan meronta, sampai aku bisa muntahi dia.

“Hai! Ilmuwan jelek!” aku masih menyerukan kemarahanku.

Tetapi apakah ia melihat air mataku? Tidak! Aku rasa tidak dan malah tak peduli.

“Awas, kau!” aku mengucapkan kata terakhir dari marahku.

Bintang Langit, namaku Lara. Berarti sakit, kau tahu? Aku memilih nama itu, karena memang aku sakit. Terlebih dengan lagumu itu.

Ada sesuatu di dalam diriku, mungkin di darahku, di otakku, di ototku, di hatiku. Ia mendesak-desak, memberontak dan mengajakku terbang, seperti kupu-kupu. Persis, kupu-kupu! Karena ada warna, di pikiranku, di tubuhku, hatiku, tetapi hanya aku yang tahu. Keluargaku hanya berkata, “Kau berbeda, Jo.”

“Dulu sebelum kecelakaan itu, kau begitu tenang, pendiam. Sekarang kau,” dan ibuku pun berhenti sejenak, ”kau seperti kupu-kupu yang terbang selalu. Lihat berapa mereka yang melihat keindahanmu kini. Kau rajin berhias diri, kemudian terbang ke sana terbang ke sini. Benar-benar seperti kupu-kupu.” Ibuku menunjuk sebuah laporan surat kabar yang menuliskan kode untuk namaku di sudut kanan bawahnya.

Tidak, Bintang Langit. Aku tidak suka menghias diri. Aku hanya kagum dengan warna-warni yang hanya diriku yang tahu. Bahkan di kaca rias pun, tak membayang indahnya warna-warna sayapku, tak bisa kulihat.

Kau perlu tahu, Bintangku. Aku senang sekali ketika terbang. Tubuhku seperti terbakar, mengembang, sayap meregang, sangat menggairahkan.

Jangan, Bintangku! Jangan kau bawa aku pada pohon jambu di pinggir kali yang bening itu.

Bintang Langit, pada malam yang sepi seperti ini, ada yang hidup, berdetak, berontak dan mengajakku terbang, terbang seperti kupu-kupu. Dan kau tahu Bintang Langit, apa yang kulihat di kaca riasku? Kau bisa menduga, kata-kata yang akan kau baca setelah kalimat ini?

Aku katakan tadi, ada sesuatu yang berontak di malam seperti ini. Kau pasti terkejut! Seperti juga aku waktu pertama kali menyadarinya.

Aku sendiri, BL! Di kaca itu tiba-tiba saja ada kupu-kupu hidup, dengan sayap yang, tidak, aku tidak ingin melihatnya ketika aku berkaca! Kupu-kupu di dalam kaca, cerminanku. Aku kupu-kupu!

Takut. Aku takut melihat kembali, ke dalam kaca itu. Tidak mungkin! Tidak mungkin ada kupu-kupu di malam larut seperti ini. Dan aku hanya terduduk di lantai karena rasa kaget, tak ingin melihat kaca itu.

Dan setelah lama, perlahan, aku angkat kepalaku, kuberanikan diri mendongak dan mulai mengintip.

Astaga! Ada sungut di kaca itu. Kepala dengan mata yang besar. Sungut itu bergerak-gerak.

Tidak! Tidak! Tidak mungkin!

Dan aku terduduk kembali, di lantai, lemas.

BL, sekali lagi aku mengintip agar jelaslah semua. Aku berdiri tegap di depan kaca rias itu, dengan mata tertutup. Kusiapkan hatiku yang berdegup-degup keras, andai kupu-kupu itu muncul lagi.

Dan dengan tiba-tiba kubuka mata, membelalak, memelototi kaca itu. Tak ada! Tak ada kupu-kupu itu! Yang ada hanya aku, diriku. Lega! Tetapi, siapa kupu-kupu itu?

Sejak kau lagukan Camelia itu, ada yang membuatku mengingat pada: embun, daun-daun yang hijau dan kali yang bening.

Mengapa?

Aku harap kau tak terkejut dengan kelanjutan kisahku!

“Mereka ulat-ulat, yang sebentar lagi akan menjadi kepompong. Selama beberapa hari ini, mereka akan terus makan. Sampai suatu hari mereka akan melemah, lalu mulai bersembunyi, tepatnya, mencari tempat yang sesuai, pas, diam, berubah bentuk dan, yap, kepompong!” kata profesor yang peneliti itu memperlihatkan senang hatinya.

Selanjutnya, BL:

“Apa yang menghubungkan? Adakah yang menghubungkan? Atau mereka hidup sendiri-sendiri, serba terpisah? Tak ada jalur penghubung?

“Hai, kupu-kupuku yang cantik, jawablah pertanyaanku tadi. Oke?” tanya profesor itu kepada dirinya sendiri atau kepada kupu-kupu yang banyak sekali di stoples-stoplesnya. Saat itu, di stoplesku, tubuhku mulai lemah. Entah mengapa nafsu makanku berkurang. Gelisah, dan menyendiri. Mencari tempat? Betulkah pertanyaan ilmuwan itu?

Ingatan-ingatanku kecil menggambarkan lampu-lampu di satu pojok berkerlap-kerlip cepat dan, b-u-m!

Benarkah pertanyaan ilmuwan itu?

Benarkah pertanyaanku sendiri, bahwa aku adalah tak lain ulat di sekitar embun di daun jambu di pinggir kali yang bening itu?

Dan, kau Bintang Langit, mengapa kau semakin merdu bernyanyi?

“Halo, kupu-kupuku?” Mama menyapaku satu hari, mengejutkanku.

BL, aku disapa dengan kupu-kupu oleh mamaku!

Benarkah bayangan di kaca suatu malam yang tak pernah kulihat lagi itu? Benarkah ada bayangan yang hanya bisa kupikirkan lagi dan lagi, di depan cermin? Hingga aku disangka suka berdandan?

“Dulu saat kau sakit, Mama hanya berharap semoga Tuhan berbelas kasih pada Mama. Ternyata doa Mama terkabul. Ya, Mama tak mampu lagi berharap, hanya Tuhan. Dan aku bawa pulang dirimu yang tak lagi membawa harapan, hanya naik turun di layar komputer. Semakin kalut, menangis sejadi-jadinya. Betapa tidak, ketika aku ingin ketenangan, malah ada bom meledak. Tepat  ketika ambulan itu melewati gedung itu, mengantarmu pulang. Ya, ampun Gusti! Teriakku waktu itu! Tega-teganya!’

“Baru esok hari, aku baca bukan bom, tetapi listrik laboratorium. Kasihan, mereka orang-orang pintar, terkena musibah!”

Mama bercerita terus dan terus, setelah kutanya, ”Kenapa Mama panggil aku kupu-kupuku?”

“Mungkin, seharusnya sudah kupanggil dari kanak-kanakmu. Biar kau tak perlu sering menderita sakit segala. Kepercayaan orang Jawa, nama kadang tidak sesuai dengan si anak. Entah terlalu bagus, dan hal itu berakibat pada anak yang sakit-sakitan. Kupu-kupu itu seperti cocok dengan dirimu,” kata mama.

Dalam wawancaraku, profesor itu menjelaskan, “Ada satu sel. Ya, satu sel yang menghubungkan ulat, kepompong, dan kupu-kupu. Dari sel itulah, siklus hidup itu mengalahkan hujan, panas, dan ilmuwan seperti aku!

“Ketika menjadi ulat, sel itu memberi informasi-informasi, berita-berita, bahwa satu saat ia akan terbang. Terbang jauh bila perlu. Tetapi akan kembali lagi, kepada daun pohon-pohon yang cocok untuk bertelur.

“Begitu juga ketika ketika menjadi kepompong, Sel itu terus dan terus mengirim informasi yang membentuk sayap, kaki-kaki, tubuh yang ramping, antena. Sampai sekarang belum tergambar sel tersebut.

“Cita-citaku hilang oleh ledakan listrik itu. Syukur, data-data tidak semua hilang, masih bisa dimanfaatkan,” katanya menjelaskan peristiwa ledakan listrik yang sama dengan cerita mamaku.

“Ketika menjadi ulat, apa tugas sel itu?” aku bertanya pada ilmuwan itu.

“Informasi-informasi bahwa ia akan terbang tetap ada. Seperti Anda waktu kecil ditanya, ‘Besok kalau besar jadi apa?’ yang keluar adalah dokter, insinyur, atau pilot. Tetapi dari kata-kata itu ada sel yang dengan sengaja mengirim informasi bahwa Anda akan menjadi wartawan.

“Kata wartawan itu tidak terdengar, tetapi sel itu tetap ada. Sama. Tetapi yang terlihat di ular itu adalah makan-makan dan mak…, ups!” Profesor mengakhiri penjelasannya dengan kekagetannya karena aku memuntahkan minumanku.

“Maaf, Prof, tidak sengaja! Aduh, maaf, kotor semua. Saya tadi membayangkan uraian Anda. Tiba-tiba, saya membayangkan gigi-gigi ulat itu. Awas!”

Plak! Aku menamparnya.

“Maaf, Prof, saya kira di dagu Prof ada,” kataku.

“Tidak. Tidak, itu bukan nyamuk! Banyak orang bilang begitu, tapi ini tahi lalat,” profesor menjelaskan tentang tahi lalat di dagunya.

“Aduh, maaf, Prof. Maaf!” kataku sekali lagi.

“Kelanjutannya bagaimana, Prof?” aku mulai bertanya kembali pada penjelasannya yang terganggu.

“Kita masih teruskan. Kita mempunyai dugaan-dugaan, dan saya kira ini subjek menarik!”

“Jurnal, Prof?”

“Belum! Biar yang muda dululah, kalau bias, kalau mau!”

“Betul, Prof!” kataku masih dengan banyak pertanyaan yang aku ajukan pada profesor itu.

BL, mengapa tidak kau biarkan lagu itu menua dan hilang saja? Mengapa malah kau nyanyikan lagi, dengan lebih bagus lagi? Mengapa? Apakah aku benci, ataukah sebenarnya ada sel yang mengingatkanku pada suara merdu yang kudengar sepanjang hari selain suara gemericik air di pinggir kali itu? Ataukah sebenarnya, aku rindu pada nyanyian itu? Tidak mungkin engkau yang menyanyikan kembali Camelia itu adalah juga suara yang memperdengarkan nyanyian di pinggir kali? Engkau merindukan bernyanyi, sepanjang hari? Ada sel, yang mengingatkanmu untuk bernyanyi dan bernyanyi? Apakah aku harus mempertanyakan hal-hal ini, ketika satu hari bisa mewawancaraimu?

Padang Rumput Kronik

Pendekar itu terus mengejar. Cemetinya terus menyambar ke segala penjuru hutan. Suara halilintar bergema di mana-mana.

“Ayo, Bidadari. Kita lanjutkan pertarungan kita. Kau harus merasakan jurus terakhirku. Jurus cinta. Hahaha.’

‘Kau tahu kau tak bisa bersembunyi. Suara halilintar cemetiku yang akan menemukanmu. Hahaha!”

Sementara gadis itu terus berlari, dengan sisa-sisa tenaganya. Napasnya memburu tersengal-sengal.

“Kau tahu di sini tak ada tempat yang cukup untuk menyembunyikan tubuhmu yang jelita, Bidadariku!”

Suara itu makin dekat, ketika gadis itu menyusup ke padang rumput. Ia terobos rumput yang setinggi lutut. Semakin lama tubuhya semakin tenggelam di rumput itu.

“Lihat bulan purnama, Bidadariku. Ayolah, biarkan aku mengecup tahi lalat di pinggangmu. Umur belum cukup bagiku untuk mengerti arti membunuhmu di sumur itu. Bahkan Kakang Ajimu pun kubiarkan pergi. Tapi aku tak menyesal, demi melihat molekmu kini. Biar bulan purnama yang sama yang membalas kebaikanku waktu itu. Ayolah bidadari bertahi lalat. Hahahaha!” tawa Cemeti Halilintar panjang.

Gadis itu semakin takut. Ternyata malam purnama dulu kembali lagi. Bulan yang terang menjadi saksi pembunuhan.

“Hahaha!”

Tawa itu didengarnya panjang, lantang dan makin dekat. Takut, kalah, lemah menjadi satu berkumpul di tubuh dan hatinya, seperti di sumur itu. Hingga rasa itu menjadi kejut ketika tawa itu tercekat, tiba-tiba hilang, entah lenyap.

“Mengapa, bagaimana?” ia tak tahu. Ia terbiasa membunuh, menghilangkan, melenyapkan nyawa dari tubuh lawan. Mereka mengerang, sakit, mengejang, dan lemas menghembus napas. Bagaimana dengan Cemeti Halilintar? Begitu tiba-tiba, tawa itu hilang seakan suara itu terpenggal tak sempat mengerang atau menghembuskan napas terakhirnya.

“Siapa?” tanyanya sendiri.

Sunyi. Halilintar pergi, bahkan mati. Ketakutannya mengatakan hanya kematian yang bisa merebut tawa itu menjadi sunyi ini. Lemah, takut, kalah menyergapnya lagi.

“Diam-diamlah di sini. Sampai fajar tiba.” Ia ingat kata-kata Kakang Aji, kakaknya. Ia diamkan diri, menunggu fajar mengalahkan bulan purnama.

“Sumur ini aman. Diamlah di sini. Kebakaran hanya di rumah-rumah. Ingat, diam saja sampai fajar. Aku akan membantu Ki Ageng.”

Sunyi di sumur itu, ramai di kampung terdengar jelas. Bengis api bergemeretak merubuhkan gubuk dan perguruan. Jeritan saling memburu, anak-anak, wanita, gadis-gadis, pemuda-pemuda murid perguruan mengaduh, mengampun tak bisa melawan, menangis dan memohon tanpa daya, sebelum tangis itu pun berhenti. Teriak kepahlawanan murid-murid perguruan menjadi lolongan kematian. Yang diketahuinya Gagak Hitam dari Selatan menyerbu dan mereka mencari, sampai semua mati. Ditariknya kemben menutup pinggangnya yang merasakan dingin malam. Hingga derap kuda-kuda saling memburu membawa teriakan kemenangan, meninggalkan kesunyian, kesendirian.

“Ki Ageng, Kakang Aji, di mana?”  ia hanya menggumam saja.

Fajar begitu lambat tak juga segera menjemput. Diliriknya purnama seperti emas menggantung di langit. Setetes air jatuh di tangannya, meleleh dari matanya.

Kejadian sumur seperti berulang, padang rumput yang menggelorakan sunyi, emas purnama yang meneriakkan sepi.

Hingga fajar datang. Ditariknya kemben menutupi pinggang yang ditimpa hangat fajar. Padang rumput telah hilang, hanya berupa padang yang lapang dikelilingi pohon hutan yang jauh di sisi-sisinya, begitu segar, luas pandang.

Di mana hangat tadi malam? Apakah hanya mimpi? Ia merasakannya, dari mana? Purnama? Fajar?

Didekapnya dirinya sendiri, mengingat kehangatan tadi malam di antara rumput-rumput yang cepat tumbuh hingga setinggi badan dan lenyap hilang tak kelihatan. Digigitnya bibir, merasakan kembali, tak ingin melupakan kesegaran yang sadar tak sadar ia rasakan semalam. Di mana? Fajar mengingatkan tubuhnya yang terbangun telentang menantang langit yang cemerlang. Hingga ia meringkuk dan mendekap dirinya sendiri.

Tangannya meraba pinggang dekat tahi lalat, berkelabat sekejap dan kelinci yang tak sempat melompat, mengerang, mengejang, dan menghembuskan napas terakhirnya. Pertarungan dengan Cemeti Halilintar yang nyaris menyambar tak menyisakan kelelahan. Kehangatan rumput liar semalam menyembuhkan dan memberinya kesegaran.

Dibakarnya kelinci itu.

Pasar Legen ramai oleh para pedagang menjelang tabur bunga, beberapa hari setelah pertarungan.

Gadis itu ada di sana, di depan pedagang bunga tabur.

“Mengapa kau selalu mengikutiku?” katanya dengan sikap waspada, sambil memilih-milih bunga.

“Bukan bermaksud jahat. Aku hanya ingin bergembira.”

Mata gadis itu melirik tak paham.

“Aku nenek tua, bukan pendekar tapi bisa bersilat, bukan peramal tapi bisa melihat. Hati-hatilah dengan perutmu. Menyepilah, demi keturunanmu!” Kata nenek tua lembut sambil memilih bunga.

Bidadari Padang kembali melirik tak paham.

“Huk, huk, huk!” nenek itu terbatuk-batuk.

“Aduh,” mengeluh, “dasar tenggorokan tua!” lebih keras ia bicara, “boleh minta minum gadis muda?”

Gadis itu memberi kendi di pinggangnya.

“Terima kasih! Lega sekarang!” Bicaranya keras, masih memilih-milih bunga.

“Sekarang, dengan tenang, cepat pergilah dari sini. Pengintai sudah mengikutiku beberapa hari,” katanya lirih, “sebentar lagi mereka beraksi. Jejakmu aku yakin belum diketahui. Hati-hatilah.”

Gadis itu pergi dengan tenang sambil bertanya-tanya siapa gerangan ia dan pengintai-pengintai yang diceritakannya. Ia cepat menuju makam yang seharusnya tak ditaburinya. Matanya mencoba waspada ke semua arah, termasuk ke arah penjual bunga dan nenek tua.

“Hiiiaaat!” nenek itu meloncat, menghindari panah-panah yang terbang ke arahnya. Namun panah itu dalam sekejap telah bersusulan menembus dan menghancurkan sosok nenek itu. Pasar menjadi ramai dan bubar.

Pendekar-pendekar berbaju hitam, serempak menggeledah tubuh reyot yang sudah mati itu. Mereka tak menemukan yang dicari. Mereka meninggalkan tubuh itu, dan sebentar kemudian menyala dibakar api yang entah darimana datang. Pendekar hitam-hitam mengobrak-abrik pasar dan makam, disambut oleh nenek-nenek penjual bunga tabur. Mereka berperang. Gagak Selatan melawan Merak Putih. Pertarungan ramai.

Bidadari Padang telah melarikan diri jauh ke arah Timur. Dibacanya bungkusan lontar yang ditemukannya di dalam kendi.

Ayam jago di padang rumput,

merak bersolek di pagi hari.

Menanti fajar menembus kabut,

merpati-merpati akhirnya mati.

Aku akan gembira jika engkau merpati putih itu.

Di makam gurunya ia menabur bunga di lereng  gunung tempat ia dulu berlatih. Fajar memberi hangat di sumur itu. Seekor merpati putih itu tak menghindar ketika ditangkapnya.

Semua lenyap seperti debu di bukit pasir beterbangan.

Ia membaca lontar di kaki merpati itu. Ia pahami; Gagak Hitam dari Selatan melancarkan perang pada Merak Putih dan sekutunya. Pembasmian.

“Kakang Aji?” ia menyebut nama kakaknya.

Setelah bertahun-tahun, pelarian dan perlawanan, ia memilih menyepi di padang pasir, tempat pelariannya dan tempat berguru, ia mulai mendirikan perguruan.

Perburuan dan pertarungan masih terjadi di segala penjuru, jauh dari tempat itu.

Kepada Bidadari Padang, gadis remaja itu memanggil ibu, berlatih bersama-sama remaja-remaja perguruan yang semuanya perempuan. Mereka berlatih dalam senyap, tanpa suara, hanya pedang atau senjata yang saling berdentangan. Namun setelah berlalunya waktu, di satu malam ketika bulan purnama, di padang depan perguruan, ia terkesiap.

Ia melirik langit. Lempeng emas yang menggantung cemerlang, membentuk bayangan tubuhnya di padang pasir. Awan seperti perahu berjalan pelan. Ia waspada.

“Ada apa, Ibu?” Dewi Padang Pasir bertanya.

“Bawa beberapa temanmu ke dalam sumur pustaka. Tunggu di sana sampai fajar tiba!” perintahnya.

Sekilas bayangan di padang pasir lenyap menjadi gelap, bulan tertutup awan. Sebentar kemudian, bulan terang kembali dan bayangannya itu hilang, berganti suara pedang berdentangan dari balai di perguruan. Ia berdiri di puncak balai pustaka. Balai-balai mulai rubuh terbakar dari balai yang paling jauh dari tempatnya berdiri. Penyerbuan.

Ia perintahkan putri-putri perguruan ke padang pasir depan balai pustaka. Mereka segera bergerak cepat di dalam senyap membangun pertahanan. Mereka biarkan balai itu terbakar. Mereka diam.

Hingga denting pedang semakin ramai bersusulan dengan gemeretak balai yang hancur oleh api. Putri-putri yang bertahan di gempur Gagak Hitam. Hingga menjelang pagi, ketika lempeng emas bergeser dari puncak langit, rumput tumbuh diantara mayat-mayat. Korban makin cepat jatuh. Rumput-rumput pun banyak yang roboh. Gagak Hitam mulai habis, putri-putri menjadi mayat. Juga rumput yang rubuh menjadi mayat.

Remang matahari mulai bercahaya.

Tersisa empat manusia. Bidadari terdiam menunduk.

“Hahahaha, sekarang lengkaplah dendam kami. Kau harus rasakan atas kematian teman seguru kami Cemeti Halilintar.”

“Apakah kau pikir, aku lebih menang dari temanmu?” ia bicara waspada.

Mereka bertempur. Bidadari Padang dan Dewi Padang Pasir dikeroyok empat orang Gagak Selatan.

Satu rumput masih bergoyangan di angin pagi. Tiga gagak telah roboh. Bidadari bergetar. Fajar mulai datang.

“Hebat kau musnahkan tiga saudaraku! Kita akan mati bersama! Tak lama, bila aku terbunuh, kau pun akan mati. Hai Bidadari muda, rasakan cemetiku!” bentak Cemeti Hitam pada Dewi Padang Pasir. Belum Bidadari beringsut melindungi Dewinya, Cemeti itu telah sibuk dengan serangan satu rumput yang tersisa, begitu bentakannya terdengar.

Tak lama, kepala Cemeti Hitam terpenggal.

Bidadari Padang terbatuk.

Ia menyerbu pendekar yang tersisa, yang telah memenggal kepala Cemeti Hitam. Mereka bertarung. Dewi Padang Pasir terkesiap, melihat jurus-jurus yang dipertaruhkan bidadari dan lawannya. Begitu hebat. Dia menatap lekat pertarungan itu. Hingga pendekar itu mengerang dan menghantam tubuh bidadari yang seakan telah kaku.

Mereka diam, menahan sakit oleh luka dari pertarungan dengan Cemeti Hitam. Suasana sunyi.

Dewi Padang Pasir tak mengerti dan tetap terpaku. Ia mengingat jurus-jurus pertarungan tadi seakan sedang berlatih gerakan yang hampir sama dengan ajaran ibunya.

“Mengapa kau biarkan diri terbunuh oleh pedangku?” Bidadari menyelidik.

“Rumput-rumputku, semua sudah mati. Racun Cemeti sudah menjalar,” kata pendekar itu lemah. Tubuh mereka menjadi makin kaku.

“Mengapa kau datang ke sini?”

“Apakah kau lupa dengan sumur perguruan? Akhirnya, janjiku bisa aku penuhi,” katanya.

Dan mereka berdua diam, semakin kaku, dan hitam terbakar.

Dewi Padang Pasir mengetahui siapa pendekar itu setelah ia mendirikan perguruan, dan bertemu dengan para penerus Merak Putih.